“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

- Jurnalis

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Kemah Bakti Pulau Maspari" Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Jelajah Sumur Petilasan di bawah Bukit Pandu

Penjelajahan dilanjutkan ke Sumur Petilasan yang berada di bawah Bukit Pandu, sumur yang acapkali disambangi banyak orang dan dipercaya bisa membuat awet muda dan menjadi obat berbagai penyakit bahkan adapula yang bermunajat ingin memiliki keturunan.

Jelajah Sumur Petilasan di bawah Bukit Pandu
Jelajah Sumur Petilasan di bawah Bukit Pandu

Sumur air tawar yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 140cm ini merupakan salah satu sumur dari belasan yang ada di Pulau Maspari namun airnya tidak pernah kering.

Bahkan selalu terisi meskipun di musim kemarau, banyak warga dari desa Sungai Lumpur, desa Sungai Pedada, desa Sungai Khong, desa Kuala Dua Belas dan nelayan yang datang ke pulau Maspari mengambil airnya untuk kebutuhan sehari-hari karena di wilayah mereka menggunakan sistem tadah hujan atau datang secara khusus untuk “keperluan” lainnya seperti yang disebutkan di atas.

Sumur-sumur ini diyakini juga pernah menjadi persinggahan 28 ribu pasukan Laksamana Cheng Ho dengan armada kapal layarnya yang berjumlah 317 kapal untuk kebutuhan air minum dan air persediaan.

Tampak Elok Pulau Maspari
Tampak Elok Pulau Maspari

Tercatat dalam sejarah empat kali pasukan Cheng Ho singgah ke Palembang dari 7 kali pelayarannya mengelilingi dunia, mengingat pada pelayaran pertama di tahun 1405-1407 seusai menumpas bajak laut Cheng Ho meninggalkan pasukan 1000 orang di wilayah itu untuk tetap berjaga-jaga lengkap dengan beberapa kapal layar yang besar.

Pantai Elok di bagian Selatan

Usai singgah di Sumur Petilasan perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Elok di bagian selatan, di pantai berpasir putih ini dapat kita jumpai mangrove, gugusan karang dan bebatuan juga beberapa pohon besar yang tanahnya habis tergerus ombak.

Apabila kita lebih teliti mengintip diantara terumbu karang maka dapat kita jumpai beberapa penyu, lobster, kepiting merah, ikan pari bintik biru dan berbagai aneka warna satwa bawah air lainnya. Pemandangan di pantai ini bagaikan lukisan alam, di berbagai sudut sepertinya pantas dan lebih dari layak untuk diabadikan, perpaduan batuan karang, pasir pantai, mangrove serta deburan ombak semuanya seakan saling melengkapi untuk menciptakan “surga” di wilayahnya sendiri.

Penjelajahan Pulau Maspari yang memiliki luas daratan lebih kurang 32Ha dan luas gugusan terumbu karang 292Ha ini serasa tak pernah habis-habisnya, bahkan mungkin meskipun dilukiskan dengan seribu satu tinta emas takkan membuat kisah Pulau Maspari sirna.

Potensi Pulau Maspari

Berbagai potensi yang bersahabat telah tersedia di area Pulau Maspari, membuatnya pantas untuk diperjuangkan, belum lagi mengingat Pulau Maspari saat ini menjadi satu-satunya Pulau terluar yang dimiliki oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan di teritorial Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Dapat diyakini hanya dengan pemikiran pemimpin dan orang-orang positif serta berkeilmuan saja yang bisa “melihat” berbagai potensi di Pulau Maspari sehingga apabila dikelola oleh orang orang yang tepat maka niscaya ke depan Pulau Maspari pasti akan mempunyai nilai lebih yang lebih baik, mampu memberi nilai perekonomian tak terhingga harga.

Bibir Pantai Pulau Maspari
Bibir Pantai Pulau Maspari

Mampu memaparkan nilai juang serta sejarah yang lebih cemerlang, yang mampu menjelajah lebih baik hingga ke dasar samudera, dapat memberikan edukasi-edukasi hingga menembus langit dan saat ini sebagian kecil dari semuanya itu telah diperjuangkan oleh para laskar tunas kelapa Kwaran Tulung Selapan dan abdi Dasa Dharma serta Trisatya yang tergabung dalam Pramuka Peduli Pariwisata binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan.

Dengan segala kemampuan serta keterbatasannya mencoba membuka gerbang dan cakrawala pemikiran bagi siapa saja yang kelak akan singgah di Pulau Maspari, sehingga segala warisan dan harta karun terbesar yang ada di Pulau Maspari dapat senantiasa terjaga. Suasana malam terakhir di perkemahan makin riuh, alunan musik orgen tunggal pimpinan Pak Ribu dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel memecah keheningan malam, dentuman suara sound system yang dibawa secara khusus dari Palembang bahkan mampu meredam raungan suara genset milik Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan.

Malam Terakhir di Pulau Maspari

Lagu demi lagu pun silih berganti didendangkan, melepaskan kepenatan dan keletihan kecuali lagu Malam Terakhir yang tak pernah mau dinyanyikan, karena semuanya seperti tak ada yang ingin malam bahagia ini berakhir begitu saja.

Di sudut lain Tim Dapur sibuk membakar berbagai jenis ikan[1]ikan besar yang dibawa oleh rombongan kedua yang makin menambah nikmat suasana malam, sedangkan dipojok bangunan tempat juri lomba Fotography dan lomba Story Telling yang terdiri dari Kak Aklani Riduan, Kak Vita Sandra, Kak Rohadi Wijaya dan Kak Dewinta Haryanti sedang sibuk memberi nilai sekaligus membagikan hadiah sesuai dengan karyanya masing masing.

Semangat Anggota Pramuka di Pulau Maspari
Semangat Anggota Pramuka di Pulau Maspari

Malam kian beranjak melewati peraduan, tetapi alunan musik masih terus berlanjut seakan tiada letih jari jemari Pak Ribu memainkan nada demi nada dan notasi berbagai lagu yang dinyanyikan, nampaknya kepiawaian dan pengalaman beliaulah yang membuat semua yang hadir seakan tiada letih berdendang ria silih berganti mengganti suasan malam yang pekat menjadi fajar.

Pagi pun mulai menyongsong, suara ayam jantan milik Pak Kelik penjaga Pulau Maspari membuka tabir awan merah menyala di sudut timur bumi dan menyembulkan keindahan sang mentari dengan semilir angin sejuk yang menerpa di setiap sendi-sendi.

Pagi itu semuanya seakan tanpa suara namun ramai dengan suara packing barang dan peralatan. Persiapan untuk meninggalkan Pulau Maspari tahap demi tahap mulai mendekati usai beriring dengan cahaya mentari yang mulai beranjak berubah menjadi putih terang.

Sementara di dermaga Pulau Maspari tak terdengar suara ombak tak banyak riak air laut yang pecah di bibir pantai dermaga itu, gambaran kesunyian seakan gayung bersambut saling berpadu, ada banyak gejolak di pagi yang senyap itu, hingga akhirnya semua menjadi pecah ketika nampak di kejauhan dua armada air terbesar milik Pak Haji Jhonsi mulai merapat di bibir pantai menjemput untuk kembali menuju Tulung Selapan.

Selamat tinggal Pulau Maspari, terima kasih atas segala keramahan cinta yang telah kau berikan kepada semuanya, terima kasih atas segala atraksi keelokanmu anugerah sang Maha Kuasa. Semoga apapun yang telah ditorehkan di punggungmu yang perkasa itu akan mampu memberi manfaat dan juga kebaikan bagi banyak orang.

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik
Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makasar

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi Informasi Sumsel Haidir Rohimin didampingi Komisioner KI Sumsel Hadi Prayogo, Yoppy Van Houten saat melakukan monitoring dan evaluasi [monev] dengan Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Sumsel H Nopianto, Selasa 8 September 2026.

Headlines

KI Sumsel Sentil Parpol: Jangan Cuma Terbuka di Pusat‎

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:31 WIB

Dishub Palembang menerbitkan sebanyak delapan sepeda motor, terjaring dalam penertiban parkir liar di Kawasan Tertib Lalu Lintas [KTL] di Kota Palembang.

Headlines

Delapan Sepeda Motor Terjaring KTL di Palembang

Selasa, 8 Sep 2026 - 12:32 WIB