banner 970x250
banner 970x250

Rapid Tes tak Digunakan bagi Diagnostik

  • Bagikan
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr Reisa Broto Asmoro
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr Reisa Broto Asmoro
banner 468x60

BANYAK pasien yang terkontaminasi positif COVID-19, namun tidak menunjukkan gejala apapun. Gejala ini sangat rentan untuk menularkannya ke orang lain.

WIDEAZONE.COM, JAKARTA — Kondisi pasien seperti ini sangat berbahaya. Karena tanpa disadari dapat menularkan COVID-19 ke orang lain.

Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro, mengatakan pasien dengan kondisi ini secara tak diketahui dapat menukarkan covid-19 ke orang lainnya.

“Ini merupakan tugas kita, agar pasien yang terpapar corona tidak menularkannya lagi ke orang lainnya,” ujar dr Reisa pada konferensi pers Gugus Tugas Nasional di Graha BNPB Jakarta, Sabtu lalu (18/7/2020).

Karena itu Reisa berharap agar masyarakat rajin memeriksakan diri melalui rapid tes atau swab tes apabila diperkukan.

Menurut anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata Reisa, untuk mencegah atau mengendalikan virus corona, bisa dilakukan program kegiatan rapid tes.

“Patut kita syukuri Indonesia sudah bisa membikin alat rapid tes sendiri, dengan tingkat akurasi tinggi. Ini bisa kita gunakan secara maksimal,” ujar Reisa.

Dengan pembuatan alat tes sendiri atau PCR, katanya, bisa digunakan secara luas. Selain itu, pemerintah selalu mendukung pembuatan alat PCR.

Sesuai arahan presiden, pemeriksaan PCR harus ditingkatkan di dalam masyarakat. Peningkatan bisa dilakukan hingga mencapai 30.000 tes setiap harinya.

“Namun pemeriksaan PCR perlu dilakukan dengan strategi yang jelas. Sedangkan pengendalian dan pemeriksaan spesimen bisa diprioritaskan ke pada pasien yang memenuhi devinisi kasus suspek COVID-19. Terutama untuk manajemen klinis pengendalian wabah yang dilakukan secara klinis,” ujar Reisa.

Menurut Reisa, pengambilan spesimen untuk pemeriksaan PCR atau VTM itu harus direkomendasi melalui wasoparing di ujung hidung, atau di bagian dalam tenggorokan.

Pemeriksaan itu, kata Reisa, harus dilakukan dengan cara memasukkan swab yang terbuat dakron atau rayon steril. Sedangkan tangkainya dari plastik dari jenis flox yang bertangkai lentur ke dalam hidung.

“Hasil sampelnya akan dikirim ke laboratorium. Kebetulan saat ini sudah lebih dari 300 laboratorium yang siap uji,” katanya.

Terkait masalah itu, Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, sangat menghargai masukan dari berbagai pihak.

Termasuk berbagai masukan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik (PDS Patklin) terkait penggunaan rapid tes. Namun rapid tes tidak digunakan untuk kepentingan diagnostik. (*)

Laporan Abror Vandozer/D’Miska
Editor Anto Narasoma

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *