WIDEAZONE.com, PALEMBANG | Bara konflik dualisme kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia [PB-PGRI] kembali menyala.
Putusan hukum terbaru terkait sengketa kepengurusan PB-PGRI memicu gelombang polemik baru dan mempertegas belum berakhirnya dualisme di organisasi guru terbesar di Indonesia tersebut.
Riak konflik di tingkat pusat itu kini menjadi sorotan kalangan pendidik di berbagai daerah, termasuk Sumatera Selatan. Namun di tengah memanasnya pertarungan elite organisasi, PGRI Kota Palembang menegaskan satu sikap, guru jangan sampai ikut terbelah.
Ketua PGRI Kota Palembang, Dr H Ahmad Zulinto SPd MM, menilai sengketa yang terjadi saat ini masih sepenuhnya berada dalam koridor hukum. Karena itu, seluruh pihak diminta menghormati proses peradilan yang masih terus berjalan.
“Kita masih melihat bagaimana proses hukumnya berkembang. Sebelumnya Prof Unifah Rosyidi sempat memenangkan perkara melalui putusan banding Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara [PTTUN]. Namun sekarang muncul putusan yang memenangkan kubu Teguh Sumarno. Artinya, dinamika ini belum selesai dan masih mungkin berlanjut ke tahap banding ataupun kasasi,” ujar Zulinto kepada WIDEAZONE.com pada Senin 11 Mei 2026.
Menurutnya, perbedaan sikap dan perebutan legitimasi kepemimpinan di tingkat pusat tidak boleh menyeret organisasi di daerah ke dalam pusaran konflik berkepanjangan. Ia mengingatkan, PGRI dibangun sebagai rumah besar perjuangan guru, bukan arena pertarungan kepentingan elite.
“Jangan sampai guru di bawah ikut terseret dan terpecah. PGRI harus tetap menjadi wadah perjuangan bersama,” tegasnya.
Zulinto memastikan, soliditas PGRI di Sumatera Selatan, khususnya di 17 kabupaten/kota, tetap terjaga meski polemik di pusat terus bergulir. Menurutnya, kekuatan organisasi PGRI terletak pada struktur yang mengakar hingga tingkat kecamatan.
“Insyaallah tidak berdampak terhadap PGRI di daerah. Organisasi tetap berjalan normal karena struktur PGRI dari pusat sampai daerah sudah terbentuk kuat,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa PGRI hingga kini masih menjadi organisasi guru terbesar dan paling berpengaruh dalam perjuangan dunia pendidikan di Indonesia. Karena itu, konflik kepemimpinan jangan sampai merusak marwah organisasi yang selama puluhan tahun menjadi simbol perjuangan guru.
“PGRI tetap satu. Persoalan di pusat silakan diselesaikan lewat jalur hukum. Tetapi perjuangan guru tidak boleh berhenti hanya karena konflik elite,” tandas Zulinto.
Di tengah munculnya berbagai spekulasi soal perpecahan organisasi, PGRI Palembang memastikan fokus utama tetap pada pelayanan terhadap anggota, peningkatan kualitas pendidikan, dan perjuangan kesejahteraan guru.
“Kami tetap solid, tetap bekerja, dan tetap menjaga marwah organisasi. Jangan sampai guru menjadi korban dari konflik kepentingan di tingkat atas,” pungkasnya.
Laporan Hasan Basri MP | Editor AbV




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-225x129.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-225x129.jpg)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-129x85.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-129x85.jpg)




![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)


