Pendidikan yang Memerdekakan

- Jurnalis

Selasa, 27 Juli 2021 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktisi dan Pemerhati Pendidikan, Bayumie Syukri AP SE MSi

Praktisi dan Pemerhati Pendidikan, Bayumie Syukri AP SE MSi

Proses pendidikan sebagai pengembangan pribadi mencakup usaha yang sangat luas. Pengembangan kepribadian bukan hanya berarti perkembangan kepribadian dalam arti personal tetapi pengembangan kepribadian yang menyangkut aspek-aspek sosial. Oleh karena itu, perumusan mengenai proses pengembangan kepribadian memiliki tujuan bahwa manusia mengembangkan kepribadiannya di dalam pengertian etis.

Dalam proses pembinaan, anak didik diarahkan, dibina untuk bertumbuh dan berkembang (crescat et floreat) menjadi pribadi yang rendah hati, murah hati, pemaaf, peduli dengan sesama dan lingkungan sekitar, mampu menghargai sesama, tulus dan ikhlas dalam membantu orang lain, harmonis dalam relasi dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan.

Hal semacam ini perlu pembinaan secara terus-menerus di setiap lembaga pendidikan formal agar anak semakin dewasa mengimplementasikan serta mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Oleh karena itu, perlu adanya pengertian (ngerti), kesadaran (ngrasa), dan kesungguhan untuk melakukan (ngelakoni) sesuatu secara tanggung jawab sebagai bentuk aplikasi dari pengetahuan yang dimiliki oleh anak didik. Mereka mendapatkan pengetahuan lewat pengajaran dan pendidikan yang dilakukan oleh seorang guru (pamong). Menurut Ki Hajar Dewantara, tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan dan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan.

Dengan demikian tugas pendidikan adalah bertanggung jawab untuk membentuk para peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter dewasa sehingga mampu menghayati dan menjalani hidup secara bermakna.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Dalam perspektif itu kiranya semboyan non scholae sed vitae discimus “Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup” demikian menegaskan bahwa belajar merupakan sebuah upaya untuk membangun kehidupan dari waktu ke waktu agar semakin baik.

Sekolah harus melakukan pembinaan kognitif, afektif, dan psikomototik secara menyeluruh. Usaha yang dilakukan oleh sekolah dalam hal ini dapat membentuk hidup manusia yang semakin berguna di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan apapun pendekatan dan metodenya adalah upaya sadar dan sengaja dalam rangka membina manusia menjadi pribadi yang merdeka, berdiri sendiri, dan memiliki kedewasaan dalam aspek pengetahuan.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:10 WIB

Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Senin, 11 Mei 2026 - 07:47 WIB

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Berita Terbaru