Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

- Jurnalis

Minggu, 19 April 2026 - 13:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof Didik J Rachbini MSc PhD

Prof Didik J Rachbini MSc PhD

Oleh Prof Didik J Rachbini MSc PhD

SAYA ada di depan Pak Jusuf Kalla atau JK waktu ceramah di mesjid UGM mulai dari awal sampai akhir. Ketika isi ceramah tersebut menyebar dengan dipotong-potong sedemikian rupa, maka saya pastikan itu adalah rekayasa, yang membalikkan makna penjelasan yang sebenarnya.

Saya pastikan penyebaran potongan tersebut adalah narasi dengan anasir jahat dan fitnah yang keji.

Lebih jahat lagi karena penyebaran tersebut menggunakan narasi adu domba antar agama sehingga menimbulkan kebencian diantara anak bangsa, yang sekarang terus membangun kerukunan dan kebersamaan.

Bangunan bangsa yang rukun ini terus dibangun dan diupayakan semakin kuat tetapi fitnah jahat tersebut menghancurkan upaya-upaya yang selama ini tengah dilakukan bersama dengan upaya yang serius tidak kenal henti.

Baca Juga:  Tertibkan Bangunan Liar: Dilema Perizinan di Kota Palembang

Saya mendengar semuanya, Jusuf kalla dalam ceramah di mesjid UGM menceritakan bagaimana suasana dan keadaan waktu itu ketika menjadi juru damai dari konflik yang keras dan mematikan satu sama lain antara islam dan kristen.

Konflik tersebut keras dan berdarah saling membunuh antara kristen dan islam. Jk menjelaskan bahwa posisi masing-masing keras dan meyakini yang saling membunuh sebagai jihad dan masuk surga.  Narasi  penjelasan ini tentang suasana dan keadaan pada saat itu,  yang kemudian dipenggal dan disebar sehingga menjadi pernyataan bahwa membunuh umat lain adalah jihad masuk syurga.

Potongan video tersebut akhirnya menjadi narasi sesat dan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.  Jadi, jelas ada rekayasa, ada maksud dan ada yang melakukannya.

Baca Juga:  Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Karena itu, rekayasa penyebar dan pembuat pertama dari potongan tersebut pantas dimasukkan ke ranah hukum sebagai kejahatan sosial, yang memecah belah bangsa.  “Machine learning” dan AI sudah pasti bisa menelusuri jaringan algoritma rekayasa kejahatan sosial seperti ini.

Negara harus hadir menemukan rekayasa narasi jahat tersebut. Jika ini dibiarkan, maka kebiasaan fitnah dan narasi jahat di ruang publik dianggap sebagai hal biasa, yang akan merusak sendi-sendi kerukunan dan kehidupan berbangsa.

Atau jika ini dibiarkan akan menimbulkan persepsi bahwa ada wasit yang bermain dan menimbulkan keadaan semakin keruh.  Negara harus hadir sebagai penegak sistem kehidupan sosial dan kehidupan berbangsa yang baik.

Berita Terkait

Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan
Harga BBM Nonsubsidi Naik Senyap, Publik Ditinggal di Belakang Informasi
Lagi! Sumur Minyak Ilegal Membara, Dugaan Skandal di Balik Lahan PT Hindoli?
Pembongkaran Ruko di Demang Lebar Daun Picu Konflik Hukum
Tertibkan Bangunan Liar: Dilema Perizinan di Kota Palembang
Hak Imun Seorang Advokat
Dari Bencana ke Bencana
Kerusakan Ekosistem Karena Ulah Manusia

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 13:04 WIB

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

Minggu, 19 April 2026 - 07:28 WIB

Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Minggu, 19 April 2026 - 04:20 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik Senyap, Publik Ditinggal di Belakang Informasi

Sabtu, 4 April 2026 - 16:56 WIB

Lagi! Sumur Minyak Ilegal Membara, Dugaan Skandal di Balik Lahan PT Hindoli?

Kamis, 2 April 2026 - 20:31 WIB

Pembongkaran Ruko di Demang Lebar Daun Picu Konflik Hukum

Berita Terbaru