Pendidikan yang Memerdekakan

- Jurnalis

Selasa, 27 Juli 2021 - 11:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktisi dan Pemerhati Pendidikan, Bayumie Syukri AP SE MSi

Praktisi dan Pemerhati Pendidikan, Bayumie Syukri AP SE MSi

Beberapa pemikir yang bisa disebutkan sebagai pencetus pendidikan yang memerdekakan adalah Maria Montessori, Friederich Fröbel. Pada akhir abad ke-18 dan kemudian abad ke-19, istilah kemerdekaan dalam usaha pendidikan sudah mulai dikenal.

Akhir abad ke-19, pengertian kemerdekaan dikemukakan sebagai syarat mutlak untuk melakukan pendidikan, yang berdasarkan pengakuan kekuasaan kodrat manusia. Kedua pemikir tersebut berusaha untuk mengungkapkan pendidikan yang memerdekakan. Mereka berusaha untuk menemukan suatu rumusan tentang pendidikan yang memerdekakan yang jelas.

Konsekuensi dari usaha tersebut adalah mereka harus menemukan titik berangkat yang tidak bisa disanggah dan jelas pada dirinya sendiri. Titik berangkat tersebut menjadi fondasi pendidikan yang memerdekakan yang dibangun. Pendidikan yang memerdekakan yang mereka bangun disebut anthroposofis (manusia yang berpengetahuan).
Pendidikan yang memerdekakan

Baca Juga:  Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Menurut Maria Montessori pada dasarnya manusia dilahirkan di dunia sudah memiliki alat- alat untuk hidup. Sebagai seorang dokter ia mengetahui tumbuhnya jiwa dan jasmani anak-anak, mulai terjadinya benih manusia, hidup tumbuhnya di dalam kandungan dan seterusnya sesudah bayi lahir, dan juga mulai masa puber pertama.

Menurutnya ada hubungan erat antara gerak jiwa dan gerak badan anak-anak. Semuanya ini tidak terlepas dari gerak-gerik nafsu kodrati, yang dalam hidup anak-anak merupakan pusat dan sumber keinginan dan nafsunya.
Si pendidik harus mengerti, bahwa setiap tuntutan gerak-gerik anak-anak adalah tuntutan jiwa dan badan anak-anak secara psikologis.

Perintah atau paksaan dari pihak si pendidik mungkin bertentangan dengan tuntutan jiwa dan jasmani anak-anak, dan karenanya menghambat pertumbuhan atau kemajuan hidup anak-anak secara jasmani dan rohani. Montessori menjelaskan misalnya keinginan anak-anak untuk memegang segala apa yang ada disekitarnya kalau ia sedang berjalan. Ini menurut Montessori karena anak memiliki kekurangan untuk bergerak, memerlukan memegang-megang meja, kursi, almari, agar tidak lelah. Itulah sebabnya Montessori memakai dasar kemerdekaan dan kebebasan serta apa yang olehnya disebut spontanitet.

Baca Juga:  Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎

Spontanitet berarti gerak atau tindakan bebas dari anak-anak yang keluar dari keinginan sendiri, secara tiba-tiba tanpa memikirkan sesuatu terdahulu. Semua gerak-gerik anak-anak merupakan tuntutan jiwa-raganya, yang memberi kemajuan jasmani dan rohaninya. Orang hendaknya tidak menghalang-halanginya, hendaknya anak tidak dipaksa berbuat ini atau itu.

Berita Terkait

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎
Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah
Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 15:47 WIB

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Berita Terbaru