Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan]

Oleh: Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan]

Oleh: Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan]

KETIKA kabut asap menyelimuti lingkungan, rumah tidak lagi sekadar tempat beristirahat. Ia berubah menjadi ruang belajar, tempat berlindung, sekaligus ruang untuk menjaga kesehatan.

‎Namun, perubahan ini tidak boleh dipahami sebagai solusi yang selesai hanya karena guru mengirimkan tugas dan siswa belajar melalui gawai.
‎Belajar dari rumah memang dapat menjadi langkah perlindungan, tetapi tidak boleh berubah menjadi pemindahan beban pendidikan dan kesehatan dari sekolah kepada keluarga.

‎Anak tetap membutuhkan pembelajaran yang bermakna, orang tua membutuhkan dukungan, dan pemerintah harus memastikan bahwa keselamatan tidak dikorbankan demi mengejar kehadiran di kelas, sekaligus menguji apakah sistem pendidikan kita mampu melindungi kesehatan tanpa mengorbankan hak belajar.

Kondisi Nyata: Ketika Asap Ganggu Sekolah dan Kesehatan

‎Pada 9 September 2026, kabut asap kembali memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan. Di Palembang, sekolah dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama beralih ke pembelajaran jarak jauh.

‎Lebih dari 250.000 siswa di 1.030 sekolah terdampak, sementara secara nasional jumlah siswa yang harus belajar dari rumah telah melampaui 1,4 juta.

‎Kondisi tersebut berlangsung di tengah musim kemarau yang masih kritis. BMKG menyatakan bahwa September 2026 masih perlu diwaspadai karena cuaca kering, pengaruh El Niño, dan tingginya titik panas meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

‎Pada 7 September, asap terpantau di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Data prakiraan kualitas udara BMKG yang diperbarui 8 September juga menunjukkan bahwa ancaman belum merata, tetapi tetap serius: untuk 9 September terdapat 82 wilayah dalam kategori tidak sehat, 2 sangat tidak sehat, dan 3 berbahaya.

‎Angka ini bukan alasan untuk menganggap semua daerah berada dalam kondisi yang sama, melainkan pengingat bahwa keputusan sekolah harus mengikuti kondisi udara setempat.
‎Keputusan menutup sekolah dalam kondisi udara berbahaya patut dipandang sebagai bentuk perlindungan, bukan kegagalan pendidikan.

‎Namun, persoalan sesungguhnya justru dimulai setelah pintu sekolah ditutup: apakah rumah benar-benar siap menjadi tempat belajar bagi semua anak?

Rumah memang dapat menjadi ruang yang aman dari paparan asap. Akan tetapi, rumah tidak selalu memiliki meja belajar, koneksi internet, perangkat, pendampingan orang dewasa, atau suasana yang mendukung konsentrasi. Karena itu, memindahkan kegiatan belajar ke rumah tanpa dukungan yang memadai berisiko mengubah keadaan darurat kesehatan menjadi ketimpangan pendidikan.

Rumah Bukan Sekolah Mini

‎Perubahan rumah menjadi sekolah sering dipuji sebagai bentuk ketangguhan. Memang, teknologi memungkinkan pembelajaran tetap berlangsung ketika ruang kelas tidak aman. Akan tetapi, ketangguhan tidak sama dengan kemampuan keluarga menanggung semua akibat bencana.

‎Di rumah, seorang anak mungkin harus berbagi ponsel dengan saudara, belajar di ruangan yang panas, atau membantu orang tua bekerja. Ada pula keluarga yang tidak memiliki internet stabil. Jika sekolah hanya memindahkan jadwal, tugas, dan ujian ke rumah, yang terjadi bukan pembelajaran yang adaptif, melainkan pemindahan ruang kelas tanpa pemindahan dukungan.

‎Masalah ini juga menyangkut kesehatan. Anak-anak, terutama yang memiliki asma atau penyakit pernapasan, dapat lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Orang tua mungkin melihat anak masih mampu mengerjakan tugas, tetapi kemampuan mengerjakan soal bukan bukti bahwa tubuhnya baik-baik saja.

‎Mata yang perih, batuk, sesak, sakit kepala, dan kelelahan harus diperlakukan sebagai tanda yang perlu diperhatikan, bukan gangguan yang harus diabaikan demi menyelesaikan pekerjaan rumah.

Baca Juga:  Polrestabes Palembang Gaspol! 102 Motor Digulung, Balap Liar hingga Konvoi Liar Dibabat

Karena itu, kebijakan belajar dari rumah harus memiliki dua tujuan yang sama penting: melindungi anak dari paparan udara berbahaya dan menjaga hak mereka untuk tetap belajar. Salah satunya tidak boleh menghapus yang lain.

‎Ada beberapa prinsip yang menurut saya perlu menjadi standar. Pertama, keselamatan harus menjadi dasar keputusan. Sekolah perlu menggunakan informasi kualitas udara resmi dan arahan pemerintah daerah untuk menentukan apakah pembelajaran tatap muka ditunda, dilanjutkan dengan pembatasan, atau dilakukan secara daring.

‎Keputusan tersebut harus dikomunikasikan secara jelas agar orang tua tidak perlu menebak-nebak apakah anak aman berangkat.

‎Kedua, tugas harus diprioritaskan, bukan ditumpuk. Guru dapat memilih kompetensi inti yang paling penting, lalu menyediakan aktivitas singkat yang dapat dikerjakan secara mandiri.

‎Satu bacaan bermakna, beberapa pertanyaan pemahaman, atau proyek sederhana dapat lebih bermanfaat daripada lembar tugas yang panjang. Dalam kondisi darurat, kualitas interaksi belajar lebih penting daripada banyaknya pekerjaan.

Ketiga, sekolah harus menyediakan pilihan akses. Pembelajaran daring tidak boleh menjadi satu-satunya jalan. Materi cetak, pesan singkat, rekaman penjelasan, atau pengumpulan tugas secara berkala dapat menjadi alternatif bagi keluarga yang memiliki keterbatasan perangkat dan jaringan. Anak tidak boleh dianggap malas hanya karena tidak dapat mengikuti kelas video secara langsung.

‎Keempat, guru perlu memberi ruang bagi kesehatan. Jadwal belajar dapat dibuat lebih fleksibel. Siswa yang sedang batuk, sesak, atau kelelahan tidak seharusnya dipaksa mengikuti seluruh kegiatan tanpa penyesuaian. Guru juga perlu mengetahui bahwa kemampuan belajar dapat menurun ketika anak merasa tidak nyaman secara fisik.

Orang Tua bukan Pengganti Guru, Apalagi Guru bukan Pengganti Kesehatan

‎Salah satu kekeliruan dalam pembelajaran dari rumah adalah menganggap orang tua otomatis siap menjadi guru. Padahal, orang tua memiliki pekerjaan, keterbatasan waktu, dan kemampuan yang berbeda-beda. Mereka dapat mendampingi, tetapi tidak harus mengambil alih seluruh proses pendidikan.

‎Peran orang tua yang paling penting dalam kondisi ini adalah memastikan rutinitas yang realistis: anak memiliki waktu tidur yang cukup, makan dan minum dengan baik, belajar dalam durasi yang sesuai, serta tidak terpapar asap secara berlebihan. Jika muncul keluhan kesehatan, orang tua perlu memprioritaskan pemeriksaan dan mengikuti arahan tenaga kesehatan.

‎Di sisi lain, guru tidak seharusnya dibebani tugas menjadi konselor kesehatan keluarga. Sekolah perlu memiliki jalur komunikasi dengan puskesmas atau fasilitas kesehatan setempat, terutama bagi siswa yang memiliki keluhan pernapasan. Dengan demikian, keputusan pendidikan dan keputusan kesehatan dapat berjalan beriringan.

‎Kita perlu berhenti mengukur keberhasilan belajar dari rumah hanya dengan kehadiran digital. Anak yang hadir di layar tetapi tidak mampu berkonsentrasi karena kondisi udara atau kesehatan yang buruk belum tentu sedang belajar secara efektif.

‎Kesalahan yang sering terjadi dalam situasi darurat adalah menganggap kesehatan sebagai urusan terpisah dari pendidikan. Padahal, keduanya saling menentukan. Anak yang tidak sehat tidak dapat belajar secara optimal, dan pembelajaran yang tidak mempertimbangkan kesehatan dapat memperburuk keadaan.

‎Karena itu, sekolah perlu memiliki protokol pembelajaran berbasis kualitas udara. Ketika kondisi memburuk, aktivitas luar ruangan harus dihentikan, termasuk olahraga, upacara, dan kegiatan lapangan. Jika sekolah masih digunakan untuk kegiatan tertentu, ruang belajar perlu memiliki ventilasi dan perlindungan yang memadai sesuai arahan kesehatan.

‎Orang tua juga perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami tentang kapan anak sebaiknya tetap di rumah dan kapan perlu mendapatkan pertolongan medis. Dalam panduan kesiapsiagaan kabut asap yang dipublikasikan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan pada September 2026, pemerintah menekankan pentingnya kesiapan menghadapi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.

Pesan ini seharusnya diterjemahkan ke dalam kebijakan sekolah yang konkret, bukan berhenti sebagai imbauan umum.
‎Sekolah juga perlu menghindari pendekatan yang menyalahkan keluarga.

‎Tidak semua rumah memiliki kemampuan yang sama untuk mengurangi paparan asap. Ada keluarga yang tinggal di ruang sempit, memiliki anggota keluarga dengan pekerjaan luar ruangan, atau tidak mampu membeli alat penjernih udara. Solusi kesehatan harus mempertimbangkan kenyataan tersebut.

Jangan Sampai Anak Membayar Harga dari Krisis Lingkungan

‎Kabut asap memperlihatkan bahwa krisis lingkungan selalu memiliki wajah manusia. Ia hadir dalam bentuk anak yang tidak bisa bermain di luar, orang tua yang khawatir mengantar sekolah, guru yang harus mengubah rencana pembelajaran, dan keluarga yang kehilangan waktu produktif karena harus mendampingi anak di rumah.

‎Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan tidak boleh dipisahkan dari pembicaraan tentang kesehatan dan lingkungan. Menyelamatkan anak dari udara berbahaya adalah kewajiban, bukan pilihan. Namun, menjaga agar mereka tetap belajar juga merupakan tanggung jawab yang tidak kalah penting.

‎Rumah boleh berubah menjadi sekolah untuk sementara, tetapi jangan sampai sekolah berubah menjadi beban tambahan bagi rumah. Yang dibutuhkan bukan sekadar pembelajaran daring, melainkan sistem pendidikan yang mampu melindungi, menyesuaikan, dan tetap mengajarkan hal-hal yang penting.

‎Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa cepat anak kembali mengerjakan tugas, melainkan seberapa baik mereka tetap aman, tetap belajar, dan tetap memiliki kesempatan tumbuh di tengah krisis. Kabut asap seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat sekolah, bukan alasan untuk mengurangi perhatian terhadap kesehatan dan hak belajar anak.

Solusi Lebih Adil: Sekolah Tangguh, bukan Sekadar Sekolah Daring

‎Menurut saya, respons terhadap kabut asap harus dibangun sebagai sistem kesiapsiagaan, bukan reaksi musiman. Pemerintah daerah dan sekolah perlu memiliki protokol yang sudah disiapkan sebelum kondisi memburuk.

‎Protokol tersebut dapat mencakup di antaranya Ambang keputusan yang jelas: kapan sekolah beralih ke pembelajaran dari rumah, berdasarkan kualitas udara dan arahan resmi.

Paket pembelajaran darurat, materi inti, tugas alternatif, dan panduan orang tua yang dapat langsung digunakan. Pemetaan akses siswa, mengetahui siapa yang membutuhkan perangkat, internet, bahan cetak, atau pendampingan tambahan.

Baca Juga:  Bareskrim Tetapkan Teguh Sumarno dan Mansyur Arsyad sebagai Tersangka, Zulinto: Berpotensi Merembet ke Sumsel

Dukungan Kesehatan: Jalur Rujukan dan Informasi Gejala Perlu Pertolongan Medis

‎Evaluasi pascabencana adalah meninjau kehilangan pembelajaran tanpa menghukum siswa yang terdampak keadaan di luar kendalinya.

Sekolah juga perlu memperkuat literasi lingkungan. Kabut asap bukan hanya peristiwa yang harus dihindari, tetapi kesempatan untuk mengajarkan hubungan antara kebakaran hutan, cuaca, kualitas udara, kesehatan, dan tanggung jawab bersama.

‎Pembelajaran dapat mengajak siswa membaca data kualitas udara, memahami dampak pembakaran lahan, atau membuat kampanye sederhana tentang perlindungan lingkungan. Dengan begitu, rumah bukan hanya tempat menerima tugas, tetapi ruang untuk memahami persoalan nyata di sekitar mereka.

Berita Terkait

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Berita Terbaru

Oleh: Bayumi AP SE MSi [Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan]

Opini

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Kamis, 10 Sep 2026 - 12:28 WIB

Wakil Ketua Komisi Informasi Sumsel Haidir Rohimin didampingi Komisioner KI Sumsel Hadi Prayogo, Yoppy Van Houten saat melakukan monitoring dan evaluasi [monev] dengan Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Sumsel H Nopianto, Selasa 8 September 2026.

Headlines

KI Sumsel Sentil Parpol: Jangan Cuma Terbuka di Pusat‎

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:31 WIB