Siap Kalahkah Presiden Kita

- Jurnalis

Senin, 22 April 2019 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi.net

Gambar Ilustrasi.net

SELEPAS semua warga memberikan suaranya di bilik-bilik pemilihan, aku duduk di dekat tangga rumah tetangga.

Di kiri-kananku, ada warga RT kami yang duduk bergerombol. Mereka terdengar bersitegang membicarakan siapa calon yang menang dalam pemilihan presiden tahun 2019-2024 ini.

Menurut saya wajar apabila ada dua kubu yang saling bertemu lalu mengungkapkan kemenangan bagi calon pilihan mereka. Bahkan masing-masing warga mengungkapkan kelebihan program kerja calon presiden pilihannya.

Di mana-mana di dunia ini, sikap manusia itu sama tidak berbeda. Apabila mereka menginginkan sesuatu, tujuan utamanya adalah memperoleh hasil yang maksimal. Terlepas saling mencaci dan menjelek-jelekkan lawan politik calon yang ia dambakan.

Aku hanya mengangguk perlahan melihat sikap dan tingkah-laku mereka. Bahkan senyumku yang tersungging sendiri itu menafsirkan, tak ada yang mau mengalah di antara orang-orang tersebut.

Sementara ketika melihat hasil survei dari lembaga survei di negeri ini, yang repot memberi komentar panas adalah orang-orang di sekitar kedua calon. Kubu calon pertama dengan semangat berapi-api menyatakan syukur atas perolehan angka di atas 50%. Sedangkan kubu lainnya menyatakan ada kecurangan dalam pemilu tahun ini. Reaksi mereka begitu keras menghadapi kenyataan di lapangan.

Padahal hasil survei quick count hang dipublisir di televisi merupakan hasil survei yang berbeda dengan real count.

Aku pun heran, sembari menantikan kabar nyata dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang calon mana yang menang, suasana politik sudah begitu membara.

Seolah masing-masing kubu tak siap menerima kabar buruk tentang kekalahan calon yang mereka usung.

Jika tak siap menerima kekalahan, misalnya, mengapa mereka marah-marah dan mengungkapkan emosinya kepada “kubu lawan”. Bahkan ada yang berjanji untuk membawa kasusnya ke meja hijau apabila ada calon yang memenangkan kontestasi pemilihan tersebut.

Ah, aku bertanya ke diri sendiri, kapan bangsaku ini matang dalam sikap, dan dewasa dalam tindakan?

Meski tak ada jawaban dari pertanyaan itu, paling tidak, rakyat Indonesia sudah sekian kali menghadapi pesta demokrasi yang digelar di negeri ini. Bahkan sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka, seolah amumisi pengetahuan tentang kedewasaan suatu bangsa, belum terlihat sama sekali.

Apakah kalau Prabowo Subianto memenangkan pemilu 2019 rakyat yang memberikan suaranya itu memperoleh jabatan tinggi? Sebaliknya, apakah kalau Joko Widodo terpilih sebagai presiden pada periode kedua ini nasib rakyat kelas bawah yang kisruh terkait pemilihan itu mendapat hadiah mobil volvo?

Dari dua pertanyaan itu, ada baiknya kita sadari bahwa siapa pun yang terpilih sebagai presiden, dialah anak bangsa yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Hanya rakyat berharap, siapa pun dia yang menang dalam pemilu 2019-2024, harus mampu mempelajari keinginan rakyatnya dari proses kekisruhan itu.

Barangkali, dari lima tahun pertama kepemimpinan Joko Widodo, kebijakan nawacita itu belum menyentuh ke rakyat kecil. Bahkan dari tanda-tanda perkembangan ekonomi di negeri ini, belum menggerakkan ekonomi kerakyatan secara maksimal.

Jika dalam kegiatan kenegaraan dan rapat-rapat membahas kepentingan negara terkait politik, pemerintahan dan ekonomi, masih ada rakyat kecil di belakang rumah saya yang menitikkan air mata karena perut anak-anaknya belum terisi sebutir nasi pun.

Mamang, jika kita melihat perkembangan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah mengungkap tentang kemajuan negeri, tapi dapatkah kita melihat masih ada rakyat kecil yang menitikkan air mata ketika mencari satu kilogram beras untuk manafkahi keluarganya?

Bahkan banyak petani karet yang berkeluh-kesah karena harga karet terperosok ke level terendah selama sekian tahun terakhir. Tampaknya ini merupakan “pekerjaan rumah” yang perlu menjadi prioritas pertama presiden terpilih 2019-2024.

Karena itu, kembali kepada ribut-ribut dan saling klaim telah memenangkan pemilu 2019, ada baiknya kita redam ketegangan itu. Ibarat air mengalir, biarkan informasi tentang hasil suara yang diperoleh menurut hasil lembaga survei itu berjalan. Yang kita tunggu adalah hasil real count dari KPU.

Maka terkait masalah itu, apabila figur calon presiden yang ikut pemilu 2019-2024 siap menang, jika memghadapi kekalahan pun harus siap secara lahir batin. Karena rakyat Indonesia memilih figur presiden yang tak hanya pandai mengalokasi program kerjanya lima tahun mendatang, tapi figur itu pun harus bersikap dewasa ketika kalah dalam pesta demokrasi tahun ini. (*)

 

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru