Sastra, Kematian dan Sejarah Kehidupan Kita

- Jurnalis

Senin, 6 Februari 2023 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Air mata dalam tangisan itu hanya sesaat menitik ke pipi, setelah jasad dikubur, hanya badan sebatang yang menantikan sosok jasad sebau bangkai.

Sedangkan rekan-rekan terdekat hanya merasa kehilangan sesaat, setelah itu lupa dan jarang membicarakan kita.

Baca Juga:  Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya

Kita yang sombong dan angkuh, hanya sendirian di dalam tanah keabadian tempat kita beristirahat di sepanjang catatan hidup dan mati. Sedangkan malam tempat kita bernaung, akan tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar.

Baca Juga:  Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Oleh: Anto Narasoma

Berita Terkait

Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya
Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎
Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah
Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia
Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:52 WIB

Refleksi Sumpah Pemuda 2026: Ketika Guru Membangun Karakter, Medsos Meruntuhkannya

Rabu, 23 September 2026 - 15:47 WIB

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka! ‎

Kamis, 10 September 2026 - 12:28 WIB

Kabut Asap: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:23 WIB

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Berita Terbaru