Prahara di Pulau Maspari: Langit Darah

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 13: Prahara di Pulau Maspari: Langit Darah

BAB 13: Prahara di Pulau Maspari: Langit Darah

Hujan mulai reda, langit yang sejak tadi murung perlahan-lahan mulai menampakan wajah aslinya kembali. Sinar bulan dan bintangbintang mengintip malu-malu di antara sisa-sisa badai. Seorang perompak berlari mendekati Chen Zhuyi. “Tuan Chen, bagaimana ini?” Chen Zhuyi menengadahkan kepalanya. Ia menatap ke arah bulan yang mulai menyibak kegelapan dengan cahaya lembutnya.

Bintang kejora di ujung langitpun terlihat bersinar dengan terang, memberi pertanda bahwa fajar akan segera tiba. “Kita masih ada kesempatan untuk mundur tuan Chen, sebelum arus semakin deras dan membawa kita ke pusaran arus!” Lelaki berwajah dingin itu melihat ke arah kapal yang terbakar. Ia melihat angin yang bertiup dan gerakan air yang menyeret bangkai kapal ke depan pulau maspari. Chen Zhuyi sadar tidak pilihan lain bagi dirinya selain melarikan diri.

Namun, harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima kekalahan. “Kita serang sampai titik darah penghabisan!” Jawaban Chen Zhuyi membuat anak buahnya kecewa. “Tapi tuan Chen, ki..” Chen Zhuyi menghunuskan pedang ke leher anak buahnya hingga kalimat yang belum terucap itu berhenti seketika. “Serang, atau kepalamu menjadi santapan pedang ini!” Ancaman Chen Zhuyi sontak membuat ciut nyali. Dengan berat hati, ia akhirnya memberikan aba-aba kepada seluruh kapal yang tersisa untuk menyerang kapal di hadapan mereka.

“Tarik jangkar! kita menyerang sampai titik darah penghabisan!” Pekikan penuh kemarahan terdengar menggema. Empat puluhan kapal yang tersisa bergerak cepat dengan soraksorai para perompak yang telah haus akan kemenangan. Belum seberapa jauh kapal para perompak itu melaju membelah ombak, suara letusan puluhan meriam terdengar.

Ledakan air laut akibat hantaman peluru meriam membentuk pagar-pagar raksasa setinggi dua meter di depan kapal para perompak. “Terus maju!!” Chen Zhuyi memberikan aba-aba untuk terus melaju menuju kapal harta muhibah. Suara puluhan tembakan meriam kembali terdengar bersahutan dari arah kapal armada laut. Beberapa kapal gerombolan perompak di barisan terdepan seketika meledak dan terbakar hebat. Hantaman-hantaman peluru meriam dengan seketika melontarkan seisi penumpangnya ke tengah laut. Beberapa diantaranya mati mengenaskan dengan tubuh hancur berantakan.

Kobaran api dari kapal-kapal yang terbakar membuat laut kembali dipenuhi warna merah. Begitu juga langit di atas pulau Maspari yang tengah menyongsong kedatangan sang fajar. Gumpalan awan kelabu mulai tersaput warna merah muda dari arah timur samudera. “Duar!!” Ledakan di lambung kapal Chen Zhuyi terdengar keras. Kapal besarnya seketika menjadi miring ke kanan. Air yang masuk dengan cepat, membuat kapal itu mulai kandas ke bawah permukaan laut.

“Tinggalkan kapal.. tinggalkan kapal!” Teriakan panik seorang perompak dari arah buritan kapal, serentak diikuti anggota lainnya yang ingin menyelamatkan diri. “Tuan Chen awas!” Belum sempat menyadari peluru meriam yang kembali datang, ledakan hebat di anjungan kapal membuat tubuh Chen Zhuyi dan beberapa orang kepercayaannya terpental ke udara. Chen Zhuyi merasa waktu diputar dengan lambat saat itu juga. Saat tubuhnya melayang-layang di udara, gembong perompak itu dapat melihat satu persatu kapal anak buahnya meledak dan pecah berkeping-keping.

Jeritan panik ketakutan serta lolongan kematian bercampur aduk menjadi satu dengan suara api yang beringas melalap kapal. Ia juga menyaksikan tubuh anak buahnya ikut hancur berkeping-keping saat peluru-peluru meriam kembali menghantam kapal-kapal yang lain. Wajah-wajah yang pernah begitu bengis dan kejam, saat ini terlihat begitu ketakutan saat detik-detik kematian telah datang menghampiri anak buahnya. Saat tubuh Chen Zhuyi melengkung di udara, lembayung merah di timur pulau Maspari seolah turut memaksanya untuk menerima kekalahan yang sangat telak sepanjang sejarah hidupnya.

“Benarkah aku kalah?” Chen Zhuyi masih mempertanyakan keadaan yang dialaminya saat ini. Ia berharap yang dialaminya saat ini adalah mimpi buruk yang muncul dalam lamunannya. Sayangnya, hembusan angin dingin yang bertiup di bawah langit merah di pulau Maspari membuatnya tersadar. Peristiwa yang tengah terjadi di depan matanya bukanlah mimpi, prahara kelam kekalahannya di pulau Maspari adalah nyata .

“Byur!!” Tubuh Chen Zhuyi akhirnya jatuh ke laut. Kekalahan yang teramat menyakitkan membuat dirinya kehilangan tekad untuk melarikan diri. Chen Zhuyi hanya mengambang pasrah di atas lautan dengan lamunan yang tidak berujung. Ia membiarkan ombak pulau Maspari mengombangambingkan tubuhnya hingga puluhan kapal berisi ratusan prajurit datang mengepungnya. Di bawah langit yang berwarna merah darah, Chen Zhuyi bersama anggota perompaknya yang selamat hanya bisa memandang pasrah saat ujung ratusan anak panah telah siap dilepaskan ke arah mereka yang terayun-ayun ombak.

Dengan keadaan yang terombang-ambing di laut tanpa senjata, tentu hal yang sangat teramat mudah bagi para prajurit laksamana Cheng Ho untuk menghabisi nyawanya saat itu juga. Namun, Chen Zhuyi merasakan para prajurit itu sengaja memberinya kesempatan untuk menghabiskan tenaga melawan arus ombak terlebih dulu. Di balik tepukan ombak yang menampar pipinya, Chen Zhuyi mulai merasakan batas kemampuannya bertahan di dalam laut telah habis.

Menahan laju arus bawah laut di bawah kakinya membuat tubuhnya semakin lemas tak berdaya. Dinginnya air laut juga mulai semakin menusuk tajam pori-pori kulitnya. Gembong perompak itu akhirnya menyerah.

Dengan wajah yang kalah, ia datang menghampiri para prajurit tanpa perlawanan sedikitpun. Saat fajar mulai menyingsing, Chen Zhuyi pasrah seorang prajurit menarik tubuhnya yang menggigil ke atas kapal. Ia sudah tidak lagi peduli prajurit-prajurit itu mengikat kaki, tangan dan tubuhnya dengan seutas tali tambang. Ia hanya bisa pasrah para prajurit menggelandangnya ke atas kapal bertiang sembilan di depan pulau Maspari. ***

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru