Perairan Pulau Maspari, Selatan Swarnadwipa
by Agus Sulaiman SE & Rohadi Wijaya
WIDEAZONE.com | Hujan masih mengguyur dengan deras. Petir sesekali menyalak keras di balik gumpalan awan gelap. Hujan badai menjelang tengah malam itu semakin mencekam dengan tiupan angin laut yang meraung-raung di antara gulungan ombak yang meninggi. Di atas lantai sebuah kapal, tubuh-tubuh yang jatuh bergelimpangan masih mengeluarkan darah segar. Erangan kesakitan yang menyayat telinga masih terdengar di antara jasad para perompak yang bersimbah darah.
Siapapun yang mendengarnya, akan merasakan kehadiran malaikat maut sudah berada sangat dekat di sampingnya untuk mencabut nyawa. Derasnya air hujan yang turun membuat lantai kayu kapal bertiang lima itu semakin basah oleh genangan darah. Pekik kemarahan dan jerit kesakitan bercampur menjadi satu. Di atas lambung kapal, tidak ada satu ruangpun yang tersisa untuk menghindari ayunan senjata lawan. Tidak ada celah kesempatan sedikitpun untuk mundur ataupun melarikan diri.
Hanya ada dua pilihan yang tersisa, yakni menerjang musuh atau mati akibat kalah cepat mengayunkan senjata. Dari tempat persembunyiannya, Shi Daniang menyaksikan kengerian yang sangat mencekam. Dari dalam tong kayu, gadis berhidung mancung itu dapat melihat dengan jelas sosok Wang Ji Hong menangkis serta membalas serangan-serangan perompak.
Celah Lubang yang cukup lebar membuat Putri sulung Shi Jin Qing itu dapat dengan jelas menyaksikan pedang di tangan perwira itu telah berwarna merah. Begitu juga dengan wajah yang ramah Prahara di Pulau Maspari | 140 saat menyambutnya tiba di atas kapal, sosok Wang Ji Hong saat ini terlihat seperti singa liar yang lapar dan haus darah. Shi Daniang berkali-kali dipaksa menahan nafas saat Wang Ji Hong kembali berhadapan dengan musuh yang baru setelah menumbangkan salah satu perompak.
Kadang, ia melihat kegesitan sang perwira menghindari tiga serangan sekaligus dari sisi kanan dan kirinya, lalu dengan gerakan yang lincah, ia berhasil membuat para penyerangnya jatuh tersungkur dengan tubuh yang bersimbah darah. “Sleb.. sleb.. sleb..” Ratusan anak panah tiba-tiba menancap di lambung kapal. Dari balik tong kayu, Shi Daniang melihat serangan yang cukup mengejutkan itu berhasil dihindari Wang Ji Hong. Tubuh perompak yang baru saja terkena sabetan pedang dijadikannya sebagai tameng pelindung dari serangan anak panah.
“Kapten, cepat minta bantuan pasukan pemanah!” Shi Daniang mendengar Wang Ji Hong berteriak ke arah geladak kapal sambil menangkis ratusan anak panah yang ditembakkan kembali dari balik kabut. Beberapa perompak tersungkur tiba-tiba sebelum mengayunkan kapaknya ke arah sang perwira, mereka mati seketika terkena peluru panah yang ditembakkan dari perahu perompak.
Andai saja malam itu adalah pertunjukan drama, tentu Shi Daniang akan menikmatinya dengan rasa suka cita. Sayangnya, adegan demi adegan mengerikan yang disaksikannya dari balik tong kayu adalah kenyataan yang tidak bisa terbantahkan. Gadis dua belas tahun itu benar-benar ditarik dalam pusaran waktu kejadian yang sangat mengerikan, membuatnya tenggelam dalam ketakutan yang semakin tidak berujung. “A Pa..!” Shi Daniang memanggil ayahnya dengan nada pilu. Hanya sosok itulah yang muncul dalam benaknya saat ini.
Shi Daniang berharap ada keajaiban saat membuka matanya nanti. Sosok lelaki yang paling dihormatinya itu datang menyelamatkan dirinya dari situasi yang mencekam saat ini, membebaskannya dari rasa takut yang menggedor-gedornya dengan kenyataan di depan mata. Gadis berhidung mancung itu memeluk kedua lututnya eraterat.
Dengan susah payah, ia mencoba menutup matanya agar bisa terpejam, mengabaikan pertumpahan darah yang terjadi di hadapannya. Shi Daniang berusaha menganggap dirinya kembali hilang seperti saat-saat dirinya bersembunyi dari Ji Sun. Sayangnya, erang kesakitan yang mengiris-iris gendang telinganya membuyarkan kerangka khayalan yang coba dibangunnya. “Sleb.. sleb..” Dua batang anak panah tiba-tiba menancap di dekat celah tempat Shi Daniang mengintip.
Rasa takut putri sulung Shi Jin Qing itu akhirnya memuncak hebat ketia tubuh seorang perompak yang terkena sabetan pedang, roboh menimpa tong kayu tempatnya bersembunyi. “Brak!” Tong kayu pecah tertimpa tubuh perompak yang mati mengenaskan. “A Paaaaaaaa!!” Shi Daniang menjerit keras. Di antara pertempuran yang tengah berkecamuk hebat, gadis malang itu berusaha merangkak dengan tubuh yang kian gemetar.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya






![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-225x129.jpg)

![Medco E&P Grissik Ltd [Medco E&P] terus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui pengembangan budidaya ikan lele di Desa Suka Maju, Kabupaten Musi Banyuasin, sebagai bagian dari Program Local Business Development [LBD] dalam Program Pengembangan Masyarakat [PPM] Pilar Ekonomi.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260715-WA0020-225x129.jpg)



![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-129x85.jpg)




![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)

