Prahara di Pulau Maspari: Kunci Hati

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

Nyai Ageng Pinatih membalas pelukan tangan bocah dua belas tahun itu dengan usapan lembut di pada keningnya. “Tidak Jaka. Biyung sama sekali tidak marah sama Jaka ataupun kepada semua orang.” Jawaban lembut Nyai Ageng Pinatih terasa seperti tetesan embun di telinga Jaka Samudera. “Benarkah biyung?”

Jaka Samudera melepas pelukan manjanya. Mata cokelatnya berbinar-binar memancarkan kebahagiaan. “Iya Jaka, biyung sama sekali tidak marah.” Nyai Ageng Pinatih mengangguk-angguk kecil. Senyuman yang merekah dari bibirnya seperti bunga mawar yang merekah indah di pagi hari. “Terus, kenapa biyung selalu termenung sambil memandangi laut?” Pertanyaan dari Jaka Samudera datang bersamaan dengan deburan ombak.

Batu karang tempat keduanya berdiri kembali basah oleh hempasan air laut. Sekumpulan burung bangau kembali melintas. Jumlahnya jauh lebih banyak dari kumpulan unggas pemakan ikan yang sebelumnya melintas di atas kepala mereka berdua. “Tidak ada apa-apa.” Nyai Ageng Pinatih kembali menyembunyikan jawaban. “Biyung hanya iri dengan ketenangan samudera meski sering ditinggalkan ombak ke pesisir pantai.”

Jawaban bersyair dari ibu angkatnya itu semakin membuat Jaka Samudera menuai rasa penasaran. “Apakah biyung sedang merasa ditinggalkan seseorang?” Jaka Samudera menghadapkan wajahnya ke arah Nyai Ageng Pinatih. Alis kirinya naik lebih tinggi, pertanda bocah lelaki dua belas tahun itu berusaha menyelidik. Usai membalas dengan senyuman lebar. Nyai Ageng Pinatih melayangkan kembali pandangannya ke arah matahari yang semakin merona merah. Senja sudah semakin dekat. “Bukan Jaka, bukan itu.

Tapi…” Prahara di Pulau Maspari | 24 Nyai Ageng Pinatih menggantung kalimatnya. Ia terdiam beberapa saat. “Tapi apa biyung?” Jaka Samudera menggoyang-goyangkan lengan Nyai Ageng Pinatih. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. “Apa boleh Jaka tahu alasannya?” Syahbandar pelabuhan Gresik itu tetap bergeming. Langit senja di ufuk barat seolah sedang melukiskan suasana hatinya. Matahari yang tertutup awan, lembayung jingga yang beranjak temaram sama persis dengan perasaannya yang ditutup oleh kegundahan. “Biyung??” Jaka Samudera menggoyangkan lengan Nyai Ageng Pinatih.

“Sangat pahit untuk dikenang, tapi sangat berat untuk biyung ceritakan.” Nyai Ageng Pinatih menjawab dengan lirih. Jaka Samudera melihat mendung bergelayut di bawah kelopak mata ibu angkatnya. Ia mendapati wajah seputih lobak itu nampak murung. Air mata Nyai Ageng Pinatih mulai mengembang di ujung pelupuknya. Perempuan berwajah oriental itu tidak mampu lagi mengendalikan badai dalam samudera hatinya. Bibir merahnya bergetar halus.

“Jika memang ada yang bisa Jaka lakukan, tolong biyung sampaikan. Jaka akan dengan senang hati melaksanakannya sebagai wujud bakti Jaka kepada biyung.” Jaka Samudera menyatukan kedua telapak tangannya di depan kening. Dengan setengah berlutut, ia memberikan penghormatan sekaligus penyerahan diri untuk melaksanakan tugas dari ibunya.

Melihat ketulusan sikap Jaka Samudera, amukan badai di dada Nyai Ageng Pinatih seketika menjadi reda. Lautan hati yang semula dirundung gelap, perlahan-lahan mulai hangat oleh sinar harapan yang muncul dari kepolosan sang putra angkat. Sang Syahbandar Majapahit itu sama sekali tidak menyangka. Walau Jaka Samudera baru mulai berangkat remaja, namun keberaniannya mengambil tanggung jawab terhadap masalah yang dihadapainya saat ini membuat Nyai Ageng Pinatih terketuk.

Di hari menjelang senja itu, ia menyaksikan benih seorang ksatria dalam sosok Jaka Samudera. “Berdirilah Jaka, tidak ada yang harus ditunaikan olehmu saat ini.” Nyai Ageng Pinatih merengkuh pundak Jaka Samudera. Dadanya masih terasa sesak menahan laju air mata. “Ini hanya tentang kenangan masa silam saat biyung seusiamu.”

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru