Prahara di Pulau Maspari: Kunci Hati

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

Pantai Gresik, Jawa Timur

by Agus Sulaiman & Rohadi Wijaya

WIDEAZONE.com | Langit yang beranjak senja di pesisir pantai Gresik menjadi saksi sekumpulan burung bangau yang terbang melintas ke arah deretan pohon bakau. Saat melintasi kepala Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera, suara kepakan sayap puluhan burung pemangsa ikan itu nyaris tenggelam oleh ramai kicauann yang saling bersahut-sahutan.

Pandangan Jaka Samudera sejenak teralihkan oleh formasi terbang burung-burung berwarna putih kapas dengan garis hitam di bawah kelopak mata itu. “Subhanallah!” Bibir mungil Jaka Samudera tidak sanggup menahan decak kekagumannya. Nyai Ageng Pinatih merangkul bocah berkulit kuning langsat itu untuk merapat lebih dekat ke tubuhnya.

“Pelajaran apa yang bisa kamu petik Jaka?” Syahbandar Gresik itu perlahan menurunkan tubuhnya. Dengan setengah berjongkok, ia memberikan tatapan yang teduh kepada Jaka Samudera, seteduh langit senja di atas cakrawala pesisir pantai Gresik. Meski bukan terlahir dari rahimnya, namun kasih sayangnya kepada bocah laki-laki yang ditemukan dua belas tahun silam di samudera itu begitu tulus. Cinta dan kasih sayangnya terus mengalir deras seperti lautan mengantarkan buih ombak ke tepian pantai. Tangan Nyai Ageng Pinatih merengkuh pundak Jaka Samudera dengan lembut.

Baca Juga:  Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

“Kawanan burung bangau itu mengikuti burung yang terbang paling depan biyung!” Jaka Samudera menunjuk kawanan burung yang kian samar tertutup bayangan matahari senja. “Anak biyung memang pintar!” Nyai Ageng Pinatih mengelus-elus ujung kepala Jaka Samudera. “Kira-kira, apa yang membuat mereka mau ikut kemanapun pemimpinnya terbang?” “Mungkin karena dia lebih banyak pengalamannya ya biyung?” Jaka Samudera menggaruk pipinya sebentar.

Jawabannya terkesan ragu-ragu. “Jawaban yang bagus!” Nyai Ageng Pinatih mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jika ditakdirkan sebagai burung bangau, Jaka mau menjadi pemimpinnya, atau menjadi rombongan yang mengekor di belakang?” “Jaka pilih jadi pemimpinnya dong biyung!” Jaka Samudera menyambar dengan cepat pertanyaan Nyai Ageng Pinatih. “Pilihan yang luar biasa! Berarti mulai hari ini, Jaka harus banyak mencari pengalaman jika nanti mau jadi pemimpin.”

Usai mengusap-usap punggung Jaka Samudera, Nyai Ageng Pinatih kembali beranjak berdiri. Perempuan paruh baya itu kembali memandang ke arah laut. Birunya samudera, serta hamparan awan senja yang bergulunggulung seperti ombak kembali memasungnya dalam keheningan. Satu menit berlalu. Kedua orang itu tenggelam dalam ruang fikirnya masing-masing, saling membisu tanpa ada sepatah katapun terucap dari keduanya.

Baca Juga:  Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

“Biyung!” Jaka Samudera tiba-tiba memanggil Nyai Ageng Pinatih. Suaranya begitu pelan, penuh dengan kehati-hatian. “Iya Jaka. Ada apa?” Jawaban Nyai Ageng Pinatih terdengar lembut. Meski wajah oriental di hadapannya itu tersenyum dengan lebar. Namun Jaka Samudera melihat ada kegetiran menguar dari sepasang bibir merah Nyai Ageng Pinatih. “Apa biyung sedang ada masalah?” Jaka Samudera menengadahkan kepala.

Ia menatap dalamdalam sepasang mata cokelat ibu angkatnya. Perempuan paruh baya di samping Jaka Samudera kembali tersenyum. Deretan gigi putihnya terlihat jelas. “Kenapa Jaka bisa punya pertanyaan seperti itu?” Nyai Ageng Pinatih menggernyitkan kening. Dua alis hitamnya yang melengkung indah kini saling bertautan. Kerutan di atas pangkal hidung terlihat samar. Jaka Samudera menghela nafasnya. Ia tidak ingin jawaban dari bibirnya nanti membuat perempuan yang sangat disayanginya itu murka seketika. “mmm… anu biyung..” Jaka Samudera merengkuh lengan ibunya dengan lembut. Ia bergelayut dengan manja. “Jaka melihat biyung tidak seperti biasanya. Apa biyung marah sama Jaka?”

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru

Terpidana kasus kekerasan seksual, Fahrul Rozi alias Balung bin Azim [Alm] berhasil diringkus Tim Tangkap Buron [Tabur] Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Jumat 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.15 WIB.

Headlines

Pelarian Terpidana Kekerasan Seksual di Sekayu Kandas!

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:56 WIB

Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.

Headlines

SMSI Sumsel Tancap Gas Persiapkan Muswil 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 - 21:02 WIB