Prahara di Pulau Maspari: Kunci Hati

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 15:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

BAB 2 Prahara di Pulau Maspari

Nyai Ageng Pinatih mengusap-usap lembut kepala Jaka Samudera. Hatinya bergetar mendengar pertanyaan bocah lelaki yang mulai beranjak remaja itu. Ia tidak segera menjawab. Untuk beberapa detik perempuan bernama kecil Shi Daniang itu terdiam. Tidak hanya Jaka Samudera yang menunggu termangu. Lautpun seolah ikut menanti jawaban dari perempuan berselendang hijau tua itu. Deru ombak yang semula keras menghantam batu karang, seketika menjadi senyap. Begitu juga angin laut yang meniup semilir dingin, seolah enggan mengantarkan awan-awan jingga kembali ke ufuk senja.

“Tidak ada apa-apa Jaka, semua baik-baik saja.” Nyai Ageng Pinatih membalas tatapan penuh tanya Jaka Samudera. “Biyung juga tidak marah sama anak biyung yang gagah ini.” “Tapi, kenapa biyung akhir-akhir ini terlihat banyak merenung?” Jaka Samudera kembali mencecar dengan pertanyaan. Ia tidak puas mendengar jawaban dari ibu angkatnya. “Memangnya, Jaka suka perhatiin biyung yah?” Alih-alih menjawab rasa penasaran putranya, Nyai Ageng Pinatih malah berbalik memberikan pertanyaan kepada Jaka Samudera. “Iya biyung.”

Jaka Samudera menganggukkan kepalanya malu-malu. “Jaka suka lihat biyung termenung memandang ke laut.” Hati perempuan berhidung mancung itu terenyuh. Ia tidak menyangka kegelisahan yang ia sembunyikan selama ini, ternyata diperhatikan orang lain. Padahal, ia sudah mencoba untuk Prahara di Pulau Maspari | 22 menyembunyikan lara yang kerap memasung batinnya dari orangorang di sekitar, termasuk dari Jaka Samudera, putra angkat semata wayangnya.

“Biyung..” Jaka Samudera memanggil dengan nada heran. “Kok diam?” Sentakan lembut jari Jaka Samudera di lengan kanannya, membuat Nyai Ageng Pinatih menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mencoba mengisi rongga dadanya dengan semilir angin laut yang mulai melembab. Namun beban di dalam dadanya justru bertambah sesak dengan rasa bimbang.

“Haruskah aku menjawab jujur apa yang membuatku gelisah sekarang ini?” Nyai Ageng Pinatih sibuk bertanya-tanya dalam hati. “Biyung beneran marah ya sama Jaka?” Rasa takut mengecewakan perempuan yang teramat dikaguminya itu membuat Jaka Samudera mengeratkan pelukannya di lengan perempuan yang rutin memberinya pelajaran ilmu fiqih setiap malam selepas sholat Isya. Debaran jantung Jaka Samudera berdetak lebih cepat.

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru