MENJELANG pelaksanaan pesta demokrasi 2019, degup jantung dan suhu politik di Tanah Air makin meningkat.
Fakta itu dapat dirasakan saar kedua kubu kedua calon presiden peserta Pemilu 2019. Kedua kubu mengklaim, posisi mereka lebih cenderung memperoleh simpati rakyat lebih banyak.
Justru, satu kubu calon presiden dan wakil presiden peserta pemilu tak mau “direndahkan” begitu saja. Karena masing-masing posisi merasa, merekalah akan tampil sebagai pemenang dalam pesta demokrasi itu.
Dalam suasana panas, kadang-kadang memicu emosi kemarahan masyarakat. Apalagi jika jago merreka dikerdilkan dan dinyatakan sebagai calon sampiran yang posisinya hanya sebagai pelengkap penderita saja.
Mau tak mau, keadaan ini akan memanggang perasaan marah. Karena sudah terkoptasi dengan figur pilihannya, kemarahan itu bisa memuncak. Apalagi yang mengalaminya calon pemilih yang tak rasional, maka api kemarahan yang cenderung membara di dada mereka, justru akan memicu konflik horisontal.
Jika ini terjadi, kondisi sosial masyarakat kita akan berada di pintu perpecahan. Karena itu kita mengharapkan agar perbedaan yang terjadi adalah hal biasa. Sebab selama kehidupan ini tetap berjalan, perbedaan pilihan pun akan tetap ada.
Lantas, apakah perbedaan itu akan menjauhkan diri kita dari kepribadian sebagai manusia cerdas? Ah, betapa naifnya kita jika kedewasaan cara berpikir dan tingkat pendidikan yang kita miliki itu dikalahkan oleh situasi politik yang tak kondusif.
Biarlah, pilihan boleh berbeda. Hal yang dipilih pun tidaklah sama, biarlah. Itulah pola demokrasi yang mengajarkan kita untuk dewasa. Sebab Joko Widodo atau Prabowo Subianto yang terpilih, hakikatnya adalah presiden kita. Pemimpin bangsa kita, yang juga prototipenya anak bangsa.
Pergelaran pemilihan umum hakikatnya adalah ruang belajar untuk melihat kedewasan kita. Tempat belajar untuk mengenali kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai anak bangsa yang ingin menghadirkan prinsip rasional bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Maka stop saling memojokkan dan berhentilah menjelek-jelekan figur.
Sebab, pada hakikatnya, pemilu adalah sarana belajar untuk saling menghargai antar sesama. Karena kita ini berbangsa -bangsa tanpa penindasan, bertanah air – tanah air tanpa perampasan dan berbahasa – bahasa tanpa kebohongan, Indonesia untuk kita semua. (*)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-225x129.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-225x129.jpg)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-129x85.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-129x85.jpg)




![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)


