“Insha Allah ke depan, kami punya program pemberdayaan perempuan bernama Perahu Kertas, Perempuan Hebat Untuk Keluarga Berkualitas. Ini akan kami lakukan, intervensi terhadap ibu-ibu termasuk di dalamnya Purna PMI. Mudah-mudahan (melalui program Perahu Kertas) jadi ibu yang hebat, produktif, dan berkualitas,” kata Iyos.
Menteri Bintang mengaku sangat mendukung dan menantikan program Perahu Kertas dapat dijalankan sebaik mungkin. Menteri Bintang yakin, penguatan keluarga dapat mendorong kemajuan daerah.
“Melalui program Perahu kertas ini jadi langkah awal untuk memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada perempuan untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Kalau kita ingin daerah maju apalagi negara maju, memang tolok ukurnya harus kita bangun dari tingkat paling bawah, yaitu mewujudkan keluarga-keluarga berkualitas. Mudahan-mudahan bisa lebih banyak lagi (program) pemberdayaan dan pemenuhan perlindungan anak,” ujar Bintang.
Jejen Nurjanah, Purna PMI dari Timur Tengah dalam sesi dialog bersama Menteri Bintang menceritakan kisahnya yang pernah 2 (dua) kali menjadi PMI. Pengalaman sebagai PMI ilegal menjadi pengalaman buruk baginya. Jejen mengaku terjatuh dari lantai 2 dan dikembalikan oleh majikannya ke pihak agensi. Namun, di tempat agensi ia justru mendapat perlakuan intimidasi, disekap, dan tidak dizinkan untuk pulang tanpa ada ganti rugi.
“Memang waktu berangkat juga saya itu mungkin unprocedural karena saya tidak paham bagaimana berangkat (menjadi PMI) yang benar. Akhirnya ada KBRI, dibantu untuk pulang. Setelah pulang, saya tidak bisa berjalan selama 4 bulan. Di situ ada kelompok perempuan, mereka melakukan pertemuan khusus diadakan di rumah saya untuk menguatkan mental saya, untuk saya percaya diri itu banyak sekali dukungan-dukungan dari kawan-kawan perempuan,” tutur dia.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



















