Harapan dari Hari Pers Nasional

- Jurnalis

Selasa, 7 Februari 2023 - 08:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hendry Ch Bangun (Foto: Istimewa)

Hendry Ch Bangun (Foto: Istimewa)

HPN menjadi satu-satunya ajang silaturahmi nasional terbesar para wartawan. Pimpinan media besar selalu mengusahakan diri untuk datang karena mereka akan bertemu pula dengan tokoh dari berbagai bidang, politik, hukum, budaya, para pemimpin daerah, sesama wartawan, termasuk juga pengusaha besar yang sering hanya didengar namanya atau dilihat wajahnya di televisi. Banyak peristiwa menarik untuk ditulis atau diabadikan kamera, yang tentu saja mengusik instink kewartawanan.
Baca Juga: Misi Suci Prajurit di Perbukitan Cianjur

Jadi aneh bin ajaib kalau ada segelintir orang yang menganggap HPN hanya merayakan ulang tahun PWI belaka, karena bahkan sejak baru Konvensi Nasional selalu membahas topik penting yang bermanfaat bagi pers maupun kewartawanan. Aneh pula kalau menganggap puncak HPN pada tanggal 9 Februari kalah penting dari peristiwa jurnalistik lainnya di luar negeri atau di dalam negeri.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Kongres wartawan yang melahirkan PWI pada 9 Februari adalah momen berkumpulnya 180 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, membentuk organisasi untuk menentang upaya Belanda kembali menjajah Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945.

“Tiap wartawan Indonesia berkewajiban bekerja bagi kepentingan Tanah Air dan Bangsa serta selalu mengingat akan Persatuan dan Kedaulatan Negara”, begitu ditulis Harian Merdeka terbitan 12 Februari 1946, tentang sikap wartawan peserta Kongres di Solo itu.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Kalau dilihat dari kacamata sekarang, pernyataan ini barangkali sekadar pemanis mulut. Tetapi marilah bayangkan suasana waktu itu: Ibukota Indonesia, Jakarta, diduduki kembali Belanda dan sisa wilayah hanya Yogyakarta dan Solo, media pro Republik Indonesia terus diganggu, gerak-gerik wartawannya dibatasi dengan blokade, ribuan tentara bergerak ke berbagi penjuru untuk mematikan perlawanan tentara dan lascar rakyat. Sungguh heroik wartawan pendiri PWI yang terus meliput perang dan mampu menembus blokade untuk hadir di Kongres Solo. Nyawa taruhannya dan tidak sedikit yang mati syahid. Anda masih ragu HPN itu 9 Februari?

Berita Terkait

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:10 WIB

Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Senin, 11 Mei 2026 - 07:47 WIB

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Berita Terbaru