Dari autopsi yang dilakukan pada April 2020 hingga Maret 2021, para peneliti menemukan individu yang lebih tua dan tidak divaksinasi yang meninggal karena COVID-19 menunjukkan banyak tanda replikasi SARS-CoV-2 di total 79 lokasi dan cairan tubuh.
Terlebih lagi, beberapa perubahan terlihat dalam waktu dua minggu setelah gejala pertama mulai muncul.
Jika pada paru-paru menunjukkan peradangan dan cedera paling banyak, otak dan organ lain tidak sering menunjukkan perubahan jaringan yang signifikan, meskipun ada beban virus yang besar. Peneliti studi yang dipublikasi di Nature itu tidak yakin mengapa bisa demikian.
Bisa jadi, karena sistem kekebalan manusia tidak sebaik menargetkan lokasi lain ini dibandingkan dengan paru-paru.
Pada tahap pemulihan COVID-19 selanjutnya, para peneliti menemukan bukti bahwa paru-paru tidak terlalu terinfeksi dibandingkan pada saat awal, sedangkan lokasi lain tidak menunjukkan peningkatan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya



















