Budaya Instan Musik Pop Disco dan Dampak Buruknya

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2020 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustarasi Musik

Ilustarasi Musik

KEJENUHAN masyarakat dunia atas musik pop di akhir 1960-an, telah membuka peradaban irama musik baru.

Hanya dengan peralatan gitar elektrik, gitar bass, drum, mesin drum, papan ketik, synthesizer, instrumen perkusi mampu menciptakan irama baru, syth pop.

Sebagai pengagas musik pop disco synth, Lawrence Alloway terinspirasi dengan ritmik irama rhumba, samba, conga, salsa dan mambo.

Musik pop disco ini menjadi budaya populer di kalangan anak-anak muda. Di era 1980-an, musik pop disco sempat merajai suasana musikal secara internasional.

Apalagi musik ini digelar di berbagai pesta dengan tarian menghentak di antara banyak penari. Sedangkan suasana pesta diilustrasi dengan cahaya scotlight yang berwarna-warni.

Tak heran apabila dalam keriuhan suasana masing-masing peserta ingin memperlihatkan gaya dan lekuk tubuh lentur agar dapat dinilai “lebih hebat” dibanding penari lain.

Sedangkan aktor John Travolta yang tampil di film Saturday Night Paver (1977) menjadi inspirasi untuk mempelajari gerakan-gerakan eksotis yang memikat hati anak-anak muda.

Bisa jadi, tergerusnya minat dan apresiasi anak-anak muda terhadap tradisi ningkuk, faktor utamanya adalah kahadiran musik pop disco.

Padahal saat sebelum disco hadir di blantika musik Indonesia, acara ningkuk sempat merajai aktivitas anak-anak muda di era 80-an. Sebab reaksi nilai musikal yang cepat dan menghentak itu secara psikologis telah menyita perhatian mereka untuk berpindah ke hobi lain.

Musik pop disco muncul di awal tahun 1970-an dalam kehidupan malam urban Amerika Serikat. Mereka merupakan orang-orang kulit hitam yang terpojok dari sisi pergaulan masyarakat.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Umumnya mereka itu “pengecut” dan memiliki jiwa phychedelic di akhir 1960-an dan di awal 1970-an. Sedangkan asal-usul grup disco yang terbentuk memiliki jiwa Philadelphia. Dari dasar inilah mereka mulai memperlihatkan kiprah dan kreativitas mereka dalam musik pop baru genre disco.

Seperti dikemukakan pemusik kawakan John Mayall, jika jiwa pemusik berada dalam himpitan suasana, maka akan.muncul daya kreativitas pemusik untuk menciptakan genre musik baru. “Inilah fakta yang jelas terkait muculnya musik pop disco di era 1980-an,” kata Mayall.

Sejumlah lagu yang tercipta dan mengundang hasrat anak-anak muda untuk menggerakkan tubuhnya dipopulerkan orang Amerika Afrika, Amerika Latin dan Italia Amerika, orang-orang LGBT di Philadephia dan New York City pada era 1960-an hingga 1970-an.

Karena itu para artis yang mengemuka dan sangat dikenal adalah Donna Summer, Gloria Gaynov, The Bee Gees, Chic, KC dan The Sunshine Band, Thelma Houston, Sister Sladge, The Trummps, Village People dan Michael Jackson.

Saat musik pop disco dan tarian menghentak itu sangat digemari masyarakat kaum muda, secara perlahan mereka mulai “meninggalkan” aktivitas tradisi konvensional (kegiatan ningkuk serta tari-tarian tradisi Sumatera Selatan).

Tradisi Baru

Kegemaran anak-anak muda untuk merangkul musik pop disco berikut tariannya yang memiliki speed panjang dan cepat, merupakan hal baru yang menjadi tradisi populer saat itu.

Baca Juga:  PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Selain itu, disco dinilai anak-anak muda sebagai genre baru yang membawa estetika tak stagnan. Disco dinilai pula sebagai aktivitas cerdas dan dianggap tidak kampungan.

Padahal jika diapresiasi, nilai-nilai estetika musik diisco hanya sebatas mengungkap kejenuhan dan untuk memperlihatkan sikap pencipta dan pemusiknya orang-orang maju dan tidak berjiwa psichedelic yang penakut dan rendah diri.

Karena pengaruhnya begitu kuat dan menarik hati, maka di awal-awal kemunculannya pop disco diminati banyak orang.

Apalagi ketika ada pesta dan kegiatan seni, anak-anak muda justru menggelar pesta disco dengan ilustrasi ruangan acara yang eksotis dan mewah. Apalagi kegiatan disco digelar di rumah-rumah orang kaya.

Karena ingin dianggap sebagai masyarakat di golongan menengah ke atas, maka mereka justru meninggalkan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah dan tatanan seni budaya tinggi.

Eksistensi musik disco semakin berkembang. Saat ini muncul musik-musik remix yang didasari unsur-unsur musik diskotik.

Bahkan dalam pesta pernikahan banyak masyarakat kita yang memilih untuk menggelar musik remix sebagai hiburan.

Bahkan kehadiran musix remix sebagai aktivitas kawal hiburan pernikahan, mengundang banyak orang untuk menyertainya dengan kegiatan lainnya.

Misalnya minum-minuman keras, nyabu serta diam-diam menenggak pil ekatasi. Ini yang merusak nilai budaya bangsa dan aktivitas kesenian musik dan tari (dance).

Tirta Musi 15 Maret 2020

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru

DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan atau PKB Sumsel menyatakan kesiapan Musyawarah Cabang [Muscab] di seluruh kabupaten/kota, dijadwalkan pada 18 April 2026.

Headlines

Muscab PKB Sumsel Dijadwalkan 18 April: 90 Persen Siap

Kamis, 16 Apr 2026 - 19:13 WIB