Menuju Indonesia

- Jurnalis

Selasa, 9 April 2019 - 19:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MENJELANG pelaksanaan pesta demokrasi 2019, degup jantung dan suhu politik di Tanah Air makin meningkat.

Fakta itu dapat dirasakan saar kedua kubu kedua calon presiden peserta Pemilu 2019. Kedua kubu mengklaim, posisi mereka lebih cenderung memperoleh simpati rakyat lebih banyak.

Justru, satu kubu calon presiden dan wakil presiden peserta pemilu tak mau “direndahkan” begitu saja. Karena masing-masing posisi merasa, merekalah akan tampil sebagai pemenang dalam pesta demokrasi itu.

Dalam suasana panas, kadang-kadang memicu emosi kemarahan masyarakat. Apalagi jika jago merreka dikerdilkan dan dinyatakan sebagai calon sampiran yang posisinya hanya sebagai pelengkap penderita saja.

Mau tak mau, keadaan ini akan memanggang perasaan marah. Karena sudah terkoptasi dengan figur pilihannya, kemarahan itu bisa memuncak. Apalagi yang mengalaminya calon pemilih yang tak rasional, maka api kemarahan yang cenderung membara di dada mereka, justru akan memicu konflik horisontal.

Jika ini terjadi, kondisi sosial masyarakat kita akan berada di pintu perpecahan. Karena itu kita mengharapkan agar perbedaan yang terjadi adalah hal biasa. Sebab selama kehidupan ini tetap berjalan, perbedaan pilihan pun akan tetap ada.

Lantas, apakah perbedaan itu akan menjauhkan diri kita dari kepribadian sebagai manusia cerdas? Ah, betapa naifnya kita jika kedewasaan cara berpikir dan tingkat pendidikan yang kita miliki itu dikalahkan oleh situasi politik yang tak kondusif.

Biarlah, pilihan boleh berbeda. Hal yang dipilih pun tidaklah sama, biarlah. Itulah pola demokrasi yang mengajarkan kita untuk dewasa. Sebab Joko Widodo atau Prabowo Subianto yang terpilih, hakikatnya adalah presiden kita. Pemimpin bangsa kita, yang juga prototipenya anak bangsa.

Pergelaran pemilihan umum hakikatnya adalah ruang belajar untuk melihat kedewasan kita. Tempat belajar untuk mengenali kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai anak bangsa yang ingin menghadirkan prinsip rasional bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Maka stop saling memojokkan dan berhentilah menjelek-jelekan figur.

Sebab, pada hakikatnya, pemilu adalah sarana belajar untuk saling menghargai antar sesama. Karena kita ini berbangsa -bangsa tanpa penindasan, bertanah air – tanah air tanpa perampasan dan berbahasa – bahasa tanpa kebohongan, Indonesia untuk kita semua. (*)

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru

Bayumie Syukri AP MSi, Praktis Pendidikan dan Ketua Komunitas

Headlines

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:22 WIB