Ketika Kemanusiaan Seseorang Terinjak-injak Emosi Seorang Manusia

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2020 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi.net

Ilustrasi.net

Oleh Anto Narasoma

TERASA pedih dan sedih. Dalam dua tarakhir, ada dua peristiwa yang membuat hati kita terluka, sehingga perasaan ini menjadi sedih dan pedih.

Kejadian pertama yang memilukan hati itu ialah pembunuhan terhadap imam masjid di kawasan LK II Kekurahan Tanjung Rancing Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Seorang laki-laki bernama Mahyudin (45), yang juga jemaah masjid tersebut, dengan ganasnya membacok imam dan ketua masjid di LK II Kelurahan Tanjung Rancing Kecamatan Kayuagung OKI, Mumhammad Arief (61) pada Jumat senja (11/9/2020) sekitar pukul 18.10 WIB.

Saat itu, imam Arief sedang mengimami masyarakat LK II Tanjung Rancing saat bermunajat ke pada Allah SWT dalam kekhusukan salat Maghrib.

Secara tiba-tiba Mahyudin datang ke masjid membawa parang telanjang. Ia segera menghampiri Muhammad Arief yang sedang menjadi imam dalam salat itu.

Dengan emosi meluap, Mahyudin mengayunkan parang di tangannya ke kepala korban. Dengan dua kali sabetan ke kepala Arief, imam masjid itu tergelimpang bersimbah darah.

Suasana mengagetkan yang memicu kepanikan itu telah memecah konsentrasi salat jemaah. Setelah dirawat selama tiga hari, akhirnya Muhammad Arief terkulai tak bernyawa dipeluk ajal pada Senin dinihari (14/9/2020).

Tersayat hati ini tatkala saudara seiman kita yang tengah berjuang di jalan Allah SWT harus tewas mengenaskan.

Peristiwa kedua adanya serangan secara mendadak terhadap ustadz dan ulama besar kita Syekh Ali Jaber dalam gelaran pengajian di Lampung.

Di saat Syekh Ali Jaber memberikan pengajaran cara membaca dan mengucap huruf-huruf hijaiah di Alquran, ia diserang seorang anak muda. Anak muda yang tak dikenal ini menikamkan belatinya ke pangkal tangan kanan (bahunya) Syekh hingga bercucuran darah.

Meski terluka, untunglah jiwa Syekh Ali Jaber selamat dari sergapan maut. Dari dua peristiwa yang berlainan tempat dan pola kasusnya, ini menandakan adanya gejolak emosi manusia yang sulit ditaklukkan.

Sama-sama melakukan penganiayaan dan sama-sama berusaha untuk membunuh. Hanya ketentuan dan takdir Allah yang berbeda, maka yang satu harus meninggal dunia setelah dirawat tiga hati, dan Syekh Ali Jaber hanya terluka.

Dari Al-Amasyi…aku mendengar Abu Hurairah berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulan melakukan salat malam dan berpuasa pada siang hari. (Tetapi) ia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Maka Nabi bersabda,” Tidak ada kebaikan padanya, ia berada di neraka.” ( HR Al-Hakim IV/16).

Dari hadist tersebut jelas diuraikan persoalan hukum dan tindakan yang sangat tegas. Jangankan melakukan aksi pemukulan atau pembunuhan, mencaci atau memukul dengan kata-kata yang menyakitkan, hukumnya jelas, neraka!

Terpulang ke hukum positif di negeri ini, polisi harus tegas untuk menguak persoalan Syekh Ali Jaber. Jika kasus pembunuhan terhadap Muhammad Arief jelas rasa sakit hati.

Karena Mahyudin tersinggung setelah korban (Arief) menyarankan agar kunci kotak amal masjid itu harus diserahkan ke bendahara.

Yang jadi pertanyaan, apakah penyerahan kunci kotak amal itu disarankan agar diserahkan bendahara terkait adanya dugaan penggelapan uang amal?

Masalah ini harus diselidiki secara dalam oleh polisi. Sebab tak ada asap jika tiada api. Karena hukum sebab akibat itu selalu terjadi secara beriringan.

Meski dua kasus itu berbeda sisi jika disimak dari kacamata hukum, namun konotasinya sama, yakni penganiayaan yang membuat orang bersimbah darah. Bahkan dalam kasus Mahyudin berujung dengan hilangnya nyawa Muhammad Arief.

Inilah barangkali kasus menarik dari dua provinsi yang berbeda, yakni, Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. (*)

*Penulis adalah sastrawan, wartawan senior, dan pelaku seni.

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru

Bayumie Syukri AP MSi, Praktis Pendidikan dan Ketua Komunitas

Headlines

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:22 WIB