Wayan Ana, Korban Bentrok di Desa Karya Tani Mesuji

- Jurnalis

Rabu, 25 Desember 2019 - 09:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawasan Register 45 Mesuji Lampung

Kawasan Register 45 Mesuji Lampung

PERTIKAIAN yang merenggut korban nyawa penduduk, seringkali terjadi di Mesuji Lampung. Dalam bentrok antarwarga itu, sejumlah nyawa bergelimpangan. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan. Lantas, apakah hal ini akan terus terjadi?

Peristiwa berdarah yang menghilangan nyawa manusia itu tak hanya bentuk pelanggaran hukum berat, tapi juga melecehkan nilai-nilai kemanusiaan.

Dr Chairil Syah SH MH
Dr Chairil Syah SH MH

Pemerhati masalah hukum dan kemanusiaan Dr Chairil Syah SH MH, yakin bahwa bentrok warga yang menghilangkan banyak nyawa manusia itu tak hanya terkait perebutan lahan semata. “Itu hanya alasan klasik,” kata Chairil Syah ke pada Wideazone.com dan Zoom Post, Rabu (25/12/2019).

Kawasan Register 45 Mesuji Lampung tempat terjadinya pertikaian berdarah itu, kata Chairil, dulunya kawasan transmigrasi. Tentu saja, tiap suku yang ada di sana itu sudah dibagi-bagi kaplingan tanah hunian dan untuk usaha perkebunan atau sawah. “Lha sekarang mereka itu memperebutkan lahan dengan cara bentrok senjata yang menghilangkan nyawa antarwarga? Ini yang harus didalami pihak kepolisian setempat,” ujar Charil Syah yang akrab disapa Chacak itu serius.

Menurut Chacak, warga yang ditrans ke sana, terdiri dari suku Jawa, Sunda dan Bali. Masing-masing suku itu terhimpun dalam komunitasnya. Apabila ada yang berhasil menggarap tanah tempat mereka dimukimkan, katanya, tentunya hasil kebun atau sawahnya berlimpah.

Baca Juga:  Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah

“Dari sisi ini pula muncul konflik kepentingan, kok tanah mukiman orang suku anu subur, sedangkan tanah suku anu agak gersang dan tak menghasilkan produksi tanaman yang memuaskan? Bisa jadi konflik awal warga di daerah itu terjadi,” kata Chacak.

Chacak meminta agar warga tidak terpengaruh dengan suasana tempat hunian mereka. Jika ada tanah yang menghasilkan melampaui produksinya, ajak dialog bagaimana cara bertani agar bisa menghasilkan panen yang maksimal.

“Galang kekompakan. Sebab jika kita terpecah dari satu kelompok ke kelompok lain, maka akan ada pihak tertentu yang berkepentingan untuk memainkan peran sebagai tokoh pemecah-belah,” katanya.

Apa kepentingan mereka? Chacak mengatakan, secara politis mereka mempunyai misi tertentu untuk memecah persatuan dan kesatuan kita.

“Mereka itu juga berada di bawah komando pihak ketiga yang berusaha merusak nilai kebangsaan kita, yang tergabung dalam NKRI,” kata Chacak.

Karena itu mereka tidak mau berhenti untuk menghasut satu kelompok suku untuk memusuhi kelompok suku lainya. Prediksi itu memang tampak basi dan sudah berulang kali menjadi perhatian. “Namun di samping kita menilai, bahwa bentrokan warga itu hanya persoalan biasa, tapi di balik itu ada kepentingan yang luar biasa,” katanya..

Baca Juga:  Kapolres OKU Timur Tak Berikan Toleransi bagi Pelaku Karhutla

Terkait masalah itu, Chacak berharap kepada Babinsa dan Babinmas setempat untuk mempertajam kepekaannya untuk menggali persoalan politisnya secara mendalam.

Sementara itu, pada Selasa kemarin (24/12/2019), terjadi lagi bentrok warga untuk kesekian kalinya di Desa Karya Tani Mesuji Lampung.

Bentrok warga yang terjadi menjelang Natal 2019 dan pergantian tahun 2020, itu membuat Wayan Ana kritis. Sedangkan satu rumah warga rusak berak.

Menurut Kapolres Mesuji AKBP Alim, kejadan itu bukan bentrokan antarwarga, tapi pengeroyokan terhadap Wayan Ana. “Jadi bentuk pertikaian itu bukan bentrok antarwarga, tapi sekelompok orang tak dikenal yang mengeroyok Wayan Ana,” katanya.

Akibat pengeroyokan itu, Wayan Ana kritis. Sedangkan rumahnya rusak berat dihancurkan pengeroyok. Untuk menyelamatkan nyawa korban, Wayan Ana dilarikan ke Rumah Sakit Umum Ragam Begawe Caram.

Dalam pengeroyokan itu, kepala dan tubuh Wayan Ana terluka berat. Keadaannya dalam kondisi kritis.

Dari pantauan wartawan media ini di lapangan, keadaan Desa Karya Tani Mesuji itu sudah mulai kondusif.

Personal dari Polres Mesuji dan anggota TNI berjaga-jaga di lapangan untuk menganrisipasi bentrok susulan. (*)

Laporan Abv
Editor Anto Narasoma

 

Berita Terkait

Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien
Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan
Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah
Belasan Rumah Warga 24 Ilir Palembang Retak Diduga Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Baru Empat Diperbaiki
DPRD Sumsel Jamin 320 Siswa SMA 11 dan SMA 20 Aman di Dapodik
KAMPB Sumsel Desak Wali Kota Palembang Evaluasi dan Copot Kadisdik
Dugaan Penyimpangan Dana Yayasan Tahfidz Nurul Quran Dilaporkan ke Kejaksaan
Sengketa Lahan Sungai Gerong Memanas! Pemkab Banyuasin Siapkan Gugatan Perdata

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:30 WIB

Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:51 WIB

Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan

Senin, 13 Juli 2026 - 16:26 WIB

Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah

Senin, 13 Juli 2026 - 11:25 WIB

Belasan Rumah Warga 24 Ilir Palembang Retak Diduga Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Baru Empat Diperbaiki

Senin, 29 Juni 2026 - 19:32 WIB

DPRD Sumsel Jamin 320 Siswa SMA 11 dan SMA 20 Aman di Dapodik

Berita Terbaru