Varian Baru Dalam Pentas Teater Potlot

- Jurnalis

Kamis, 3 Oktober 2019 - 12:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PEMENTASAN Teater Potlot era milenial lebih cenderung menghadirkan gerak-gerak prasa yang menohok ketimpangan kebijakan sosial.

Kecenderungan ini merupakan wujud kreativitas seniman teater Connie C Sema. Jauh panggang dari api, begitulah istilah reaksi jiwa teatralistasnya menggarap pementasan prasa.

Di era tahun 1980 an, konsep teater menampilkan dengan gambaran fakta tentang realitas sosial, politik dengan gambaran dialog kental untuk penyampaian isi naskah ke audiens.

Apakah sudah muncul kejenuhan ketika pola penyajian tontonan langgung lebih cenderung ditampilkan dalam gerak-gerak prasa yang diiringi konstanitas musikal?

Menurut WS Rendra, teater merupakan ruang besar di yang memuat sejumlah kreativitas. Sebab untuk menentukan perkembangan sosial, kreativitas pekerja teater harus mampu membaca perkembangan itu.

Lantas apakah sajian teater dengan gerak-gerak prasa seperti tampilan Connie C Sema dan kawan-kawan dalam komunitas Teater Poltot adalah kekeliruan estetika?

Bertolt Brech (1896-1956), mengatakan pemain dan pengelola teater harus selalu memperlihatkan tiap perkembangan yang mereka sajikan di panggung.

Sebab pementasan cerita (sandiwara) panggung tak hanya mengungkap isi naskah, tapi memberikan efek hiburan yang prima (stage act).

Baca Juga:  PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Karena dari sebanyak penonton yang ada, terdapat pengunjung intelektual yang selalu kritis dan menginginkan tampilan baru dalam pementasan yang ia saksikan.

Karena itu Bertolt menilai, hal-hal baru yang disajikan dalam satu pementasan adalah keharusan. Sebab nilai pergerakan yang maju dalam satu pementasan, sangat dibutuhkan bagi pembaharuan.

Pada perang dunia II, penata panggung dan dramawan dunia Anton Pawlowicth Tschechow selalu menampilkan hal-hal baru bagi penampilan teaternya untuk tentara Nazi.

Ia juga menyisipkan nilai-nilai politis dalam seni pentasnya. Tampilan uni selalu mendapat pujian dari penontonnya.

Memang kreativitas panggung sangat dibutuhkan penonton, terutama yang hidup pada iklim pembaruan. Karena hal-hal baru bagi mereka merupakan tuntutan estetika yang sesuai zamannya.

Dramawan Indonesia Asrul Sani selalu mencari hal-hal baru untuk kelengkapan estetika pementasannya. Katena itu dalam film-film yang ia sajikan, banyak kekaguman yang diarahkan ke dirinya.

Sejak dekade 1980 an, Potlot mengajarkan pemainnya agar cenderung “menyetubuhi” nilai gerakan, nilai pikiran, nilai-nilai panggung serta isi naskah yang akan dipentaskan.

Baca Juga:  Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan

Apabila menguasai itu, permainan sang aktor bermain dengan kedalaman estetika yang tinggi. Tiap gerakan, tangisan, tertawa, menjerit atau berkata secara bersama-sama akan dapat ditampilkan dengan permainan yang natural dan beresensi tinggi.

Dari peralihan adegan satu ke adegan lanjutan, akan membawa perasaan penonton ke ruang-ruang imajinasi yang kental.

Misalnya ketika Potlot mengetengahkan cerita Wong Wong karya Anwar Putra Bayu, penyajian orang-orang dalam cerita itu sangat kompleks mengusung nilai-nilai sosial masyarakat.

Misalnya persoalan seks, kompleks pelacuran, akting pejabat, serta pengusung nilai sosial, dimainkan dengan estetika yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Penampilan Teater Potlot di bawah komando Connie C Sema saat ini, merupakan pengejawantahan nilai kemajuan yang diharapkan konsep teater.

Karena itu, setiap kritik sosial yang diajukan dalam isi cerita tentang kemeranaan lahan gambut, selalu melahirkan aplus dan apresian dari para penonton di panggung. (*)

Berita Terkait

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA
Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien
Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan
Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah
Belasan Rumah Warga 24 Ilir Palembang Retak Diduga Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Baru Empat Diperbaiki
DPRD Sumsel Jamin 320 Siswa SMA 11 dan SMA 20 Aman di Dapodik
Pergelaran Puisi Negeri Retak, Ditampilkan di Purawisara Amphitheater Malioboro
PUASA, KEDENGKIAN, DAN KESOMBONGAN

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:47 WIB

PALUNG LAUT DALAM LUKISAN YAYA MARIA

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:30 WIB

Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:51 WIB

Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan

Senin, 13 Juli 2026 - 16:26 WIB

Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah

Senin, 13 Juli 2026 - 11:25 WIB

Belasan Rumah Warga 24 Ilir Palembang Retak Diduga Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Baru Empat Diperbaiki

Berita Terbaru

Bayumi AP SE MSi [Praktisi Pendidikan dan Ketua Komunitas]

Opini

Memaknai Kemerdekaan: Dari Ruang Kelas untuk Indonesia

Jumat, 21 Agu 2026 - 10:23 WIB