Surga Di Ujung Timur Indonesia

- Jurnalis

Kamis, 10 Januari 2019 - 13:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WIDEAZONE.COM-JAYAPURA, PULAU Liki masih terdengar asing di telinga. Tapi keindahannya akan menghipnotis siapa saja ketika menyentuhnya. Terletak di Kabupaten Sarmi, Papua, masuk dalam pusat segitiga karang dunia (coral triangle). Artinya, Pulau Liki merupakan salah satu pulau yang memiliki spesies bahari terbanyak di dunia.

Tidak sulit menjangkau Pulau Liki, hanya dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan lewat jalur laut dari pusat Kota Sarmi, sekitar 8 jam perjalanan darat dari pusat Kota Jayapura. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI berkolaborasi bersama tim peneliti, berupaya menggali potensi bahari di Pulau Liki dalam ekspedisi Nusa Manggala sesi kedua.

Data tentang potensi kelautan di pulau-pulau terdepan masih terbatas. Informasi tersebut sangat dibutuhkan untuk menyusun kebijakan pemerintah baik pusat dan daerah.

Puluhan lumba-lumba berenang, menyapa perahu karet yang membawa peneliti mendarat di Pulau Liki membuat tim ekspedisi terkagum-kagum. Perairan yang jernih diwarnai pasir putih membentang luas di depan Desa Liki.

Masyarakat desanya ramah dan terbuka membuat tim ekspedisi semakin mudah dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Salah seorang warga pun mempersilahkan para peneliti untuk menginap di rumah miliknya.

Ketua koordinator Ekspedisi Nusa Manggala sesi kedua, I Wayan Eka Dharmawan meklalui akun tweter miliknya menjelaskan kepada Wideazone.com, “Potensi sumber daya perikanan dan ekosistem pesisir di Pulau Liki selama 5 hari ekspedisi berada dalam kondisi yang sangat baik, namun masih penuh misteri.

“Tim peneliti akan memetakan sebanyak mungkin potensi sumber daya, termasuk wisata bahari dan konservasi yang masih belum terungkap selama ini sebagai rekomendasi untuk pengelolaan kawasan yang lebih optimal,” ujarnya saat di wawancarai sembari mengatakan sedang berada dalam kapal Baruna Jaya VIII (28/11/2018).

Selama melakukan penyelaman, Muhammad Abrar selaku peneliti ekologi terumbu karang LIPI, mengaku menemukan beragam jenis terumbu karang di pesisir Pulau Liki dalam kondisi sehat. Tak jarang, Abrar menjumpai Giant Clam, Nudibranch, teripang, dan bintang laut merah dalam ekosistem terumbu karang.

“Beberapa titik penyelaman sangat menarik untuk menjadi lokasi wisata penyelaman, seperti Wreck perang dunia II, Shark Point, dan beberapa titik Manta Ray serta Penyu,” bebernya.

Aneka ragam jenis ikan karang melimpah ruah. Jenis ikan karangnya didominasi oleh ikan bernilai ekonomis tinggi, kakap merah, kerapu, dan bubara laut. Petrus Makatipu, peneliti ikan karang LIPI, juga menjumpai ikan Napoleon, Bump Head, Manta Ray, hiu, lumba-lumba, clown fish (ikan badut), serta angel fish sangat menjadi daya tarik tersendiri ketika melakukan penyelaman.

“Ada ribuan ikan dengan keanekaragaman cukup tinggi di lokasi disejumlah titik penyelaman yang kami lakukan,” ujar Petrus. Pulau Liki sanggat cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi. Di samping potensi ekosistem terumbu karang, terdapat padang lamun yang membentang di sepanjang pesisir pulau, meski didominasi di bagian barat.

Aditya Hikmat Nugraha selaku peneliti lamun dari Universitas Raja Ali Haji, Tanjung Pinang, dan Ilham Antariksa selaku peneliti lamun dari Universitas 19 November Kolaka menemukan 8 jenis padang lamun di Pulau Liki. “Kondisi ekosistem padang lamun di Pulau Liki tergolong apik sehingga ikan duyung atau dugong sering muncul,” uajr Adit.

Hutan mangrove terlihat tumbuh sempurna di sepanjang teluk kecil di belakang Desa Liki. Dinilai dari besarnya ukuran pohon menunjukkan kondisinya masih alami. “Kami menemukan lebih dari 15 jenis mangrove sejati di Pulau Liki,” kata Doni Nurdiansah, peneliti mangrove dari LIPI Bitung.

Ekspedisi Nusa Manggala dalam kapal riset Baruna Jaya VIII meninggalkan Pulau Liki pada tanggal 24 November 2018 lalu. Ekspedisi sesi kedua itu akan melanjutkan tenemuannya di Pulau Befondi (Kabupaten Supiori) dan Pulau Miossu (Kabupaten Tambraw).

Ekspedisi itu diikuti oleh 21 orang peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan lembaga penelitian dengan melibatkan universitas seluruh Indonesia, dan akan segera mengakhiri perjalanannya di Sorong.

 

Berita Terkait

Gubernur Herman Deru Dukung Palembang Tourism Forum 2026
Palembang Siap Jadi Magnet Event Nasional, Aprizal Hasyim: Kejuaraan Marching Band Dongkrak PAD
Sumsel Tuan Rumah Konferensi Anxi Sedunia, Gubernur Herman Deru Harap Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata
Ampera Tourism Run 2026: dari Jantung Palembang untuk Indonesia
135 Calender of Charming 2026 Resmi Diluncurkan
Gubernur Herman Deru Harap BSI Dukung Sriwijaya Ranau Gran Fondo
Wagub Cik Ujang Dorong ASN Sukseskan Sriwijaya Ranau Gran Fondo
Sinergi Pemprov dan Pemkab, OKU Selatan Menuju Kawasan Pariwisata Strategis

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 21:57 WIB

Gubernur Herman Deru Dukung Palembang Tourism Forum 2026

Rabu, 4 Maret 2026 - 18:45 WIB

Palembang Siap Jadi Magnet Event Nasional, Aprizal Hasyim: Kejuaraan Marching Band Dongkrak PAD

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:23 WIB

Sumsel Tuan Rumah Konferensi Anxi Sedunia, Gubernur Herman Deru Harap Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata

Senin, 16 Februari 2026 - 20:25 WIB

Ampera Tourism Run 2026: dari Jantung Palembang untuk Indonesia

Selasa, 11 November 2025 - 21:01 WIB

135 Calender of Charming 2026 Resmi Diluncurkan

Berita Terbaru