Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat

- Jurnalis

Senin, 28 September 2026 - 14:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar saat Kabut Asap Pekat. [Foto Desi OY-WI]

Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar saat Kabut Asap Pekat. [Foto Desi OY-WI]

‎WIDEAZONE.com, BANYUASIN | Asap kembali mengepul di Pangkalan Balai, Banyuasin. Namun kali ini bukan berasal dari kebakaran lahan. Asap justru muncul dari aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan tenaga kebersihan Pemerintah Kabupaten Banyuasin di tengah kondisi pekatnya kabut asap‎

Aktivitas pembakaran tersebut berlangsung ketika kualitas udara menjadi perhatian masyarakat. Tumpukan sampah dibakar hingga asap membubung dan bercampur dengan udara di sekitar lokasi.
‎
‎Kondisi itu sontak memantik keprihatinan warga. Di tengah masyarakat yang harus berhadapan dengan kabut asap, munculnya sumber asap baru akibat pembakaran sampah dinilai semakin memperburuk kondisi lingkungan.
‎
‎”Kita ini sedang kabut asap, malah sampah dibakar. Asapnya ke mana-mana, kita yang menghirup,” kata Darmini, warga Pangkalan Balai, Senin 28 September 2026.
‎
‎Darmini menilai pembakaran sampah semestinya tidak dilakukan, terlebih ketika kondisi udara sedang buruk. Menurutnya, jika pemerintah ingin menjaga kebersihan kawasan, pengelolaan sampah seharusnya dilakukan dengan cara yang tidak menambah persoalan baru bagi masyarakat.
‎
‎“Kalau memang sampahnya mau dibersihkan, jangan dibakar seperti itu. Apalagi ini dilakukan di tengah kondisi seperti sekarang,” ujarnya.
‎
‎Ia juga mempertanyakan langkah Pemerintah Kabupaten Banyuasin dalam menjaga kualitas lingkungan, khususnya di kawasan pusat pemerintahan.
‎
‎Menurut Darmini, petugas kebersihan seharusnya menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mengurangi sumber asap. Bukan malah melakukan aktivitas yang menghasilkan asap ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan kabut asap.
‎
‎“Pemerintah harusnya memberikan contoh. Kalau masyarakat dilarang membakar sampah karena asap, jangan sampai petugas pemerintah malah melakukan hal yang sama,” katanya.
‎
‎Persoalan tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah kondisi udara yang sedang tidak ideal. Masyarakat diminta mewaspadai dampak kabut asap, sementara pada saat yang sama aktivitas pembakaran terbuka justru terlihat di kawasan pemerintahan.
‎
‎Pembakaran sampah secara terbuka juga bukan tanpa dampak. Asap hasil pembakaran dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan mengganggu aktivitas warga, terlebih jika dilakukan di kawasan yang berdekatan dengan pusat pelayanan masyarakat.
‎
‎Keluhan serupa disampaikan David, warga Mulya Agung yang sedang mengurus administrasi. Ia mengaku kondisi asap saat ini cukup mengganggu aktivitas warga.
‎
‎”Setiap pagi kalau ke perkantoran pasti asap mengepul, bikin sesak napas,**” tuturnya.
‎
‎David juga menyinggung program pengolahan sampah organik yang sebelumnya sempat diresmikan Wakil Bupati Banyuasin pada Oktober 2025.
‎
‎“Tahun lalu kalau tidak salah diresmikan pengolah sampah organik. Harusnya itu bisa jadi solusi selain melakukan pembakaran. Program jangan hanya dijadikan formalitas saja, namun harus diikuti dengan eksekusi,” tegasnya.
‎
‎Sorotan warga kini mengarah pada bagaimana pengelolaan sampah di kawasan pemerintahan dijalankan. Sebab, keberadaan program pengolahan sampah semestinya dapat menjadi alternatif agar sampah tidak berakhir dengan cara dibakar secara terbuka.
‎
‎Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Banyuasin mengenai aktivitas pembakaran sampah tersebut, termasuk alasan pembakaran maupun prosedur pengelolaan sampah yang diterapkan oleh tenaga kebersihan.
‎
‎Di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya reda, warga tentu berharap kawasan pemerintahan tidak justru menjadi sumber asap baru.
‎
‎Jangan sampai persoalan kebersihan selesai dengan membakar sampah, tetapi masyarakat kembali harus membayar harganya dengan menghirup asap.
‎
‎Laporan Desi OY | Editor Abror Vandozer

Baca Juga:  7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

Berita Terkait

KPU Banyuasin Go to School, Edukasi Pemilih Pemula Kritis Jaring Informasi
7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan
“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎
Greenpeace dan Perkumpulan Rawang Gaungkan Protes hingga Bongkar Krisis Karhutla Sumsel
PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif
Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk
Status Siaga Puncak! Kasus ISPA di Palembang Tembus 17 Ribu
APBD Perubahan Palembang Diketok Hari ini: Kejar Mandiri Fiskal, Utang Jadi Prioritas, Gaji P3K Bakal Ditanggung Pusat?

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:11 WIB

KPU Banyuasin Go to School, Edukasi Pemilih Pemula Kritis Jaring Informasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:24 WIB

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:53 WIB

“Enjoy” Bikin Geger! Wali Kota Ratu Dewa Minta Maaf: Saya Tetap Peduli Warga ‎

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

PBB di Banyuasin Capai 81 Persen, Wilayah Perdesaan Justru Lebih Aktif

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:53 WIB

Fantastis! Palembang Runner-up Kedua se-Indonesia dengan Polusi Udara Terburuk

Berita Terbaru