Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

Pelabuhan Ghuang Zou, Tiongkok

Sebuah bangunan gapura berdiri tegak di atas hamparan batu pualam hitam. Atap bangunan bersusun tiga itu nampak megah dengan warnanya yang serasi dengan langit. Ukiran huruf berwarna emas pada tiang kayu penyangga membuat siapapun yang melewati lorong di bawah kaki gapura akan terkesan dengan kemahsyuran dari kota pelabuhan itu.

Seperti halnya dengan perasaan yang dirasakan oleh tiga darah daging Shi Jin Qing. Melewati bangunan di atas lantai pualam hitam itu menggugah kebanggan dalam hati Shi Daniang telah dilahirkan menjadi saksi peradaban terbaik di kota itu. “Kalian sudah sarapan?” Shi Daniang menatap kedua adiknya dengan raut cemas. “Sudah cie-cie!” Ji Sun dan Ban Ci menjawab bersamaan.

Keduanya menganggukan kepala sembari melepaskan senyum riang kepada kakak sulung mereka. “Kalau begitu kita langsung ke tempat A Pa!” Shi Daniang menggandeng lebih erat tangan adik-adiknya. Rambutnya berderai-derai, mengiringi ayunan langkah setengah melompat kaki-kaki mungil di sampingnya. Saat melintasi warung teh dan rumah makan yang berjejer di sepanjang sisi jalan, Shi Daniang melihat deretan lampion merah serta sangkar burung parkit bergelantungan di bawah atap-atap bangunan berwarna biru langit.

Kicauan burung parkit yang bersahutan, membuat suasana jalan pelabuhan itu seramai hingar bingarnya pasar. Hanya dalam jarak puluhan langkah, Tiga putra-putri Shi Jin Qing itu tiba di ujung jalan. Aroma laut dan kicau burung camar menjadi tanda pembatas antara kota di pinggir pelabuhan dengan kawasan dermaga tempat perahu-perahu besar bersandar. Dari ujung lantai batu pualam hitam, pemandangan laut menghampar dengan langitnya yang biru cerah.

Kumpulan awan tipis tersaput seperti kapas putih, memantul di atas air laut yang tenang. Semilir angin laut begitu enggan mendorong ombak tiba di tepian dermaga. Puluhan burung camar laut berterbangan di atas dermaga. Beberapa diantaranya mengitari kapal-kapal dagang yang bersandar. Beberapa ekor bergantian berputar-putar di atas tiang layar, terbang meliuk dengan gerakan indah, lalu sesekali menukik ke sisi kapal di saat ada bayangan ikan muncul di permukaan air laut yang nyaris tanpa ombak. Biasanya, suara deburan air laut akan terdengar seirama gerak kehidupan saat masih berada di batas kota.

Namun, pagi ini terlihat berbeda. Samudera begitu malu menyapa tiang-tiang dermaga, juga deretan lambung kapal-kapal kayu yang tengah bersandar. “krak..krak..krak..” Papan kayu dermaga terdengar riuh saat para pekerja angkut pelabuhan berjalan hilir mudik di atasnya. Sepuluh orang bertelanjang dada mengangkut satu persatu barang-barang dagangan dari sisi dermaga melintasi titian papan ke dalam lambung kapal dagang yang cukup besar.

Tiga kain layarnya masih tergulung rapi di ujung tiang. Ukiran sepasang naga emas di dua sisi lambungnya menjadi penanda kapal yang sedang memuat barang adalah mirik seorang saudagar besar dan ternama. Seorang lelaki berjenggot panjang berdiri di tengah lambung kapal.

Tubuh yang dibalut pakaian Huanzhou, kalah besar dengan tiang layar di belakang punggungnya. Rambut panjang lelaki berjubah hanfu itu digulung rapi, dijepit dengan sebuah gelang berukir rumit berwarna perak di ujung gulungan rambutnya. Tangan lelaki berjenggot panjang itu tak henti-henti berayun mengarahkan buruh pelabuhan meletakkan kotak-kotak kayu, serta bungkusan kain di sudut geladak maupun di buritan kapal. Sejak mulai dari dermaga, saudagar itu menata barang bawaan. Selain untuk mempermudah mengetahui jumlah jenis barang, hal ini juga untuk memudahkannya nanti saat berada di kota persinggahan.

“Keramik ini saya letakkan di sebelah mana Tuan Qing?” Seorang pekerja pelabuhan berdiri di hadapan lelaki berjenggot panjang. Tidak terlihat raut wajah letih meski kedua tangannya membawa kotak besar di depan dada. Lelaki bernama Shi Jinqing mengintip isi kotak kayu. Sebuah guci sebesar lehernya tergolek di atas jerami. Cahaya matahari memantul di antara hiasan motifnya yang berwarna-warni. “Letakkan di sebelah sana saja!” Shi Jin qing menunjuk sudut di belakang punggungnya.

Lengan bajunya yang lebar berayun-ayun, mengikuti gerakan tangannya menunjuk tumpukkan kotak kayu lainnya. “Baik Tuan Qing.” Shi Jin Qing mengamati pria berbadan kekar meletakkan kotak guci dengan sangat hati-hati di tepi geladak kapal. Saat pekerja pelabuhan itu melintas di hadapan Shi Jin Qing, pria berjubah hanfu itu teringat dengan tiga anaknya yang sejak pagi bermain-main di kota pelabuhan. “Oh ya, sampaikan pesanku kepada Shi Daniang. Aku menunggunya di anjungan kapal.”

“Baik Tuan Qing,” Pekerja pelabuhan membungkuk sebentar, lalu melangkah cepat dari lambung kapal. Matahari sudah merangkak naik, menyelimuti celah-celah kota Ghuang Zou dengan sinar hangatnya. Bayangan tiang-tiang layar di atas jembatan dermaga mulai memendek. Hiruk pikuk pelabuhan tidak hanya ramai dengan kumpulan burung camar yang bersahutsahutan mencari mangsa, tetapi juga dipenuhi suara derap kaki pekerja pelabuhan yang memindahkan barang ke atas kapal.

Selain kapal Shi Jin Qing, masih ada sepuluh kapal bertiang tiga lainnya yang bersandar di pelabuhan Ghuang Zou. Mereka adalah para pedagang dan saudagar yang telah dua bulan lamanya bersandar di kota itu. Kain sutera, guci dan perkakas besi adalah produk unggulan kota yang telah berusia ratusan tahun itu.

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru