Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

Ghuang Zou, Tiongkok Langit di kota Ghuang Zou bermandikan cahaya pagi. Gumpalan awan dengan latar belakang biru langit membuat ornamen bangunan dan atap rumah itu nampak anggun. Dominasi warna merah dan kuning emas itu menambah meriah suasana kota yang berdampingan dengan pelabuhan Tiongkok selatan. Semenjak berdiri di tahun dua ratus empat belas sebelum masehi, kota Ghuang Zou tumbuh makmur.

Karena kota ini menjadi pintu masuk jalur perdagangan ke seluruh daratan Tiongkok, kawasan ini tidak hanya dihuni masyarakat etnis Tionghoa, tetapi juga berkembang komunitas pedagang dari etnis Arab dan Hindia. Seorang gadis remaja berjalan di depan menara Masjid Huai Sheng. Sebagian rambutnya yang hitam, diikat pita merah agar tidak berantakan. Selebihnya dibiarkan tergerai di bagian dada serta belakang punggungnya. Kakinya melangkah ringan, sesekali setengah melompat di atas lantai pualam mengiringi suasana hatinya yang diliputi kebahagiaan.

Dua ekor burung walet yang terbang melintasi tiang menara setinggi tiga puluh enam meter, berhasil membuat gadis bernama Shi Daniang itu tertarik mengejarnya. Manik matanya yang indah terus mengikuti arah haluan burung walet itu hinggap. Menunggu dengan sabar sepasang sayap-sayap mungil mereka terbang lincah membelah angin dari bangunan masjid yang berdiri sejak tahun enam ratusan itu.

Tidak sampai sepuluh hitungan, Shi Daniang kembali melangkahkan kakinya yang terbungkus sepatu kain berwarna putih. Bagian ujung sepatunya berhias lukisan bunga teratai dan burung merak. Gadis berpita merah itu mengayunkan kakinya dengan riang, terus mengejar sepasang burung walet yang kini asyik terbang meliuk di atas tembok batu peninggalan Dinasti Sung.

Dinding batu yang dibuat untuk mencegah serangan Mongol dari arah utara kota itu masih kokoh berdiri meski telah berusia ratusan tahun. Angin pagi berhembus pelan. Menerbangkan debu-debu yang bersembunyi di celah dan sisi jalan berlantai pualam. Dengan bagian lengan baju hanfu-nya yang panjang, Shi Daniang menutupi wajah orientalnya dari sapuan debu jalanan.

Mendapati bayangan burung walet yang dikejarnya telah menghilang di balik pepohonan, gadis dua belas tahunan itu mengalihkan tatapan matanya ke deretan lampion merah di bawah deretan atap-atap rumah. Hembusan angin dari laut, membuatnya bergoyang-goyang di bawah lekukan ornamen yang eksotik. Meski cahaya matahari masih terhalang pepohonan yang tumbuh di setiap halaman bangunan rumah berarsitektur khas Tiongkok, namun lalu lalang kapal kayu di atas Sungai Mutiara dapat dengan jelas dilihatnya dari tempat ia berdiri.

Riak air sungai yang tenang merayu Shi Daniang mengayunkan kaki, menyusuri jembatan batu pualam yang melengkung di atas sungai. Jernihnya air sungai yang telah menjadi saksi panjang silih bergantinya peradaban manusia itu, memantulkan gumpalan awan bersaput warna kuning emas. “Cie-cie!” Dari ujung jembatan, dua orang anak kecil memanggil gadis berpita merah itu bersamaan. Tangan keduanya melambai-lambai riang. ” Ji Sun, Ban Ci!” Shi Daniang membalas lambaian adik-adiknya. Keduanya berlarian, saling beradu cepat tiba di bagian tengah jembatan, tempat gadis berpita merah itu berdiri menikmati riak air sungai.

“Cie-cie!” Ji Sun lebih dulu memeluk gadis berpita merah di atas jembatan. Bocah lelaki itu bersorak gembira karena berhasil mengalahkan Ban Ci, kakak perempuan yang dua tahun lebih tua dari usianya. Tidak menunggu lama, Ban Ci menyusul dengan pelukan yang lebih erat dari adik lelakinya. Sepasang manik mata bocah perempuan sepuluh tahunan itu memandang Shi Daniang dengan tatapan cerah. Secerah sinar matahari pagi yang mulai memberi kehangatan kota Ghuang Zou. “A Pa mana?” Shi Daniang mengelus-elus punggung kedua adiknya dengan lembut. Sepasang alis hitam yang melengkung indah di atas hidung mancungnya terangkat.

“A Pa sudah di pelabuhan,” Shi Daniang menoleh ke arah yang ditunjuk Ji Sun. Mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Ayo kita ke pelabuhan,” Shi Daniang mengajak kedua adiknya beranjak dari jembatan batu pualam. “Aku mau lihat kapal itu muncul dari lorong jembatan!” Ban Ci tiba-tiba melepas pelukannya dari pinggang Shi Daniang.

Tangan mungilnya menunjuk sebuah kapal kayu yang tengah bergerak masuk ke lorong jembatan. Pria bertopi jerami berdiri di belakang kapal, mengayuh dayung setinggi pinggangnya mengiringi arus sungai. Gadis kecil berbaju kuning gading itu bersorak kegirangan ketika bagian ujung kapal kayu yang dinantinya sedikit demi sedikit keluar dari lorong jembatan. Di atas jembatan pualam yang melengkung indah di antara deretan pohon beringin, gadis sepuluh tahun itu melompat-lompat riang.

Untuk sejenak, pemandangan kapal-kapal yang keluar dari lorong jembatan membuat Ban Ci nyaman berlama-lama di atas lengkungan lantai pualam itu. “Mei-mei!” Shi Daniang memanggil adik perempuannya dari ujung jembatan. “Ayo kita susul A Pa.” Ban Ci menoleh ke arah Shi Daniang. Adiknya Ji Sun tengah melihatnya dengan rasa tidak sabar. “Cie-cie, ayo cepat!” Ji Sun mengibas-ngibaskan tangan kirinya. Bocah lelaki delapan tahun itu memanggil kakak keduanya untuk segera mendekat.

“Iya-iya!,” Putri kedua Shi Jin Qing itu berlari-lari kecil. Ia menyusul kakak perempuannya di ujung jembatan dengan raut kecewa. Genggaman hangat Shi Daniang pada jari-jemarinya, seketika mencairkan rasa kesalnya di dalam hati.

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru