Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa
BAB 4: Prahara di Pulau Maspari: Tirai Jiwa

Kebungson, Gresik Jawa Timur

by Agus Sulaiman SE & Rohadi Wijaya

banner 468x60

ANGIN malam merayap pelan di antara dinding-dinding kayu rumah kediaman Nyai Ageng Pinatih. Pijar cahaya dari lampu minyak jarak di halaman rumah bergoyang pelan. Begitu juga lampu minyak yang tergantung pada dua tiang di depan pintu rumah berukiran jepara itu. Cahaya api meliuk-liuk dengan gemulai, seolah membawakan tarian angin yang bersukacita karena telah berhasil melewati celah pintu dan jendela.

Di dalam ruangan enam meter persegi, lidah api pada lampu minyak jarak itu sesekali bergoyang menjilat-menjilat udara. Bias cahayanya memantul pada dinding guci-guci tiongkok yang ditata rapi di atas perkakas lemari dan meja kayu. Empat tiang kayu penyangga atap bangunan diberi ukiran-ukiran indah berwarna alami. Cahaya lampu minyak jarak, membuat lekukan ukiran kayu, nampak membayang menembus hingga bagian dalam atap rumah.

Sebuah tikar pandan telah terhampar di tengah ruangan tanpa kursi. Di atasnya, Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera telah duduk saling berhadap-hadapan. Minuman wedang jahe yang baru saja dituang dari glogok berwarna gelap masih menyisakan kepulan asap tipis di ujung bibir gelas tanah liat di hadapan keduanya. Selepas sholat Isya dan menyantap sajian makan malam bersama-sama, Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera sudah berkumpul di ruangan tengah.

Kali ini mereka berdua akan menyambung kisah cerita yang tadi sore terputus, berbeda dengan rutinitas di malam-malam sebelumnya yang biasa dihabiskan untuk mendalami ilmu agama. Dari balik kepulan asap tipis wedang jahe yang menguar dari glogok dan gelas tanah liat, Jaka Samudera mendapati pandangan lembut dari perempuan berhidung mancung di hadapannya. Nyai Agung Pinatih melempar ujung kain penutup kepalanya ke balik punggung.

Belitan kain berwarna kuning di leher, membuat rona merah bibir tipisnya semakin jelas terlihat. Asap tipis minuman wedang jahe yang merambat, “Bacaan surat-suratmu, sudah banyak kemajuan Jaka,” “Tetapi, biyung minta Jaka tidak hanya sekedar bagus membaca. Juga juga harus paham arti dan maknanya untuk diamalkan kepada umat.” Senyuman anggun Nyai Ageng Pinatih tergurat jelas di wajah orientalnya. “baik biyung. Insyaa Allah Jaka akan selalu mengingat pesan biyung.”

“Suatu hari nanti, biyung akan mengajakmu menimba ilmu di Ampeldenta. Di sana, kamu bisa mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi dari guru biyung.” “Wahh.. ” Ekspresi terkejut Jaka Samudera terlukis jelas di wajahnya. Nyai Ageng Pinatih melepas senyuman penuh makna. Meski yang duduk di hadapannya saat ini bukanlah darah daging sendiri, namun perempuan berhidung mancung itu merasa telah ada ikatan batin yang terjalin sejak pertama kali menimangnya.

Kini, bayi mungil itu sudah beranjak remaja. Nyai Ageng Pinatih tidak ingin putra angkatnya itu tumbuh besar tanpa manfaat kepada sesama, untuk itu sang Syahbandar Gresik itu mengarahkan Jaka Samudera agar bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang luas di tempatnya dulu menimba ilmu agama.

“Minumlah dulu wedang jahenya, mumpung masih hangat!” Jemari lentik Nyai Ageng Pinatih mendorong gelas tanah liat ke bawah hidungnya yang mancung. Dengan gerakan anggun, perempuan bermata teduh itu mengajak Jaka Samudera segera meneguk minumannya. Nyai Ageng Pinatih memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam untuk menyesap kehangatan aroma jahe dan gula aren. Tidak lama berselang, minuman tradisional khas tanah Jawa itu diteguknya dengan perlahan-lahan. Jaka Samudera turut mengambil sajian wedang jahe di atas tikar pandan. Aroma pedas jahe merah merayapi hidungnya lewat asap tipis.

Putra angkat Syahbandar itu meneguk minuman kesukaannya hingga kandas. Rasa hangat seketika menerobos ke dasar perutnya. “Biyung jadi kan lanjutin ceritanya?” Jaka Samudera meletakkan gelas tanah liat di atas tikar. Nyai Ageng Pinatih tersenyum, lalu mengangguk pelan. “Memangnya Jaka masih mau mendengarkan cerita biyung?” “Masih dong biyung!” Jaka Samudera terlihat tidak sabar. “Baiklah.” Deru nafas perempuan berhidung mancung itu terdengar lembut, selembut cahaya temaram lampu minyak jarak yang menerangi seisi ruangan. Di bawah cahaya lampu minyak jarak, Nyai Ageng Pinatih mulai menuturkan kisah masa kecilnya.