Prahara di Pulau Maspari: Kidung Rindu

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 15:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 1 Kidung Rindu

BAB 1 Kidung Rindu

Pantai Gresik, Jawa Timur

Langit senja menemani Nyai Ageng Pinatih berjalan menyusuri garis laut. Jejak kakinya masih terlihat jelas meski sapuan ombak meninggalkan buih-buihnya di tepian pantai. Di atas hamparan pasir hitam, jejak langkah kakinya nampak memanjang dari tempatnya bertugas sebagai seorang Syahbandar pelabuhan. Ia berharap, kecupan lembut buih-buih ombak yang merambat di sela-sela telapak kakinya, dapat menjadi pengobat gundah gulana yang memasung hatinya saat ini.

Deburan ombak terdengar jelas saat Nyai Ageng Pinatih tiba di ujung pantai. Di atas tumpukan batu karang, perempuan berkulit seputih lobak itu diam mematung. Berdiri memandang laut lepas dengan tatapan yang kosong. Cahaya senja di ujung langit semakin membuatnya terhanyut dalam seribu pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Meski pemandangan kapal-kapal yang bersandar masih bisa terlihat dari sisi kanan tempatnya berdiri, namun sorot mata perempuan berdarah Tiongkok itu seakan terkunci pada sudut matahari tenggelam.

Ia sama sekali tidak bergeming meski tarian ombak bergulung-gulung di hadapannya. Nyai Ageng Pinatih tetap terbius keresahan yang bergelayut di hati dan pikirannya. “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dari hamba yang lemah ini?” Nyai Ageng Pinatih bertanya dalam hati. Arak-arakan awan yang menguning di atas kepalanya, tidak jauh berbeda dengan apa yang tengah terjadi dalam hatinya saat ini. Bergumpal-gumpal tanpa bentuk, terombang-ambing oleh anganangan yang bertiup tak menentu arah.

Perempuan berhidung mancung itu mencoba menggali kembali peristiwa-peristiwa di masa lalunya yang telah terkubur waktu. Angin laut bertiup kencang. Aroma laut ikut mengantarkan Syahbandar Gresik itu mengenang kejadian saat ia pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Jawa. Masih terangkai jelas ingatan saat dirinya meninggalkan kota Palembang. Lebih memilih menghabiskan waktu mudanya untuk menimba ilmu dari Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel ketika adik perempuan satu-satunya menerima pinangan penguasa Majapahit, dan menghabiskan waktu mudanya dalam lingkaran tradisi kerajaan.

Deburan ombak yang menampar batu karang, melempar angannya kembali pada rentangan kisah tempatnya berdiri saat ini. Pengalaman yang didapat dari ayahnya selama menjadi saudagar di tanah Sriwijaya, menjadikannya begitu piawai dalam mengelola tanah pemberian raja Majapahit. Berkat keuletannya, kawasan pesisir pantai Gresik kini menjelma menjadi tempat perniagaan yang ramai disinggahi kapalkapal pedagang asing.

Sebagai seorang saudagar, kapal-kapal miliknya saat ini menjadi alat transportasi utama kerajaan Majapahit menjual hasil bumi ke Blambangan serta wilayah-wilayah lain di nusantara. Tidak jarang pula, kapal-kapal miliknya membawa pulang barang dagangan untuk dijual kembali di sekitar pelabuhan Gresik, serta dijual kembali ke pedagang asing untuk dijual di negara mereka masing-masing.

Kepiawaian Nyai Ageng Pinatih menata kelola pelabuhan dan perekonomian di Gresik membuat sosok yang sederhana itu dipercaya kerajaan Majapahit menjabat sebagai Syahbandar pelabuhan yang bertugas untuk mengawasi lalu lintas kapal-kapal pedagang asing yang datang ke Majapahit, serta memungut pajak barang-barang yang melewati pelabuhan Gresik.

Nyai Ageng Pinatih kembali menghela nafas. Meski orang lain melihat sosoknya menuai kesuksesan, namun perempuan berhidung mancung itu merasa masih ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang begitu mengganjal benak pikirannya. Semua hal yang telah diraihnya saat ini, sama sekali belum mampu mengobati luka yang dipendamnya rapat-rapat.

Kegelisahan tak berujung, terasa seperti ujung mata pisau yang tajam. Menusuk hatinya dengan perlahan, lalu meninggalkan lubang luka yang kian dalam setiap harinya. Saat ini, hati Nyai Ageng Pinatih seperti tertutup jelaga hitam. Meski ia telah mencoba mengulas warna-warni yang indah, namun relung sanubarinya justru semakin diselimuti warna-warna kelam.

Tak perduli seberapa banyak titik warna pelangi yang coba dirangkainya menjadi garis, lorong gelisah tetap menelannya dengan warna hitam tak berujung. Di bawah kakinya, sapuan ombak berduyun-duyun ke bibir karang, menghantarkan bergenggam-genggam air laut untuk sekedar menjilat kaki Nyai Ageng Pinatih yang tengah diam mematung.

Di atas batu karang, perempuan berselendang hijau tua itu semakin jauh terhanyut dalam lamunannya. “Biyung!… Biyung!” Seorang bocah lelaki berlari-lari dari arah pantai. Ia memanggilmanggil Nyai Ageng Pinatih yang tetap tak bergeming.

Meski bocah bertelanjang dada itu sudah hampir tiba di sisi batu karang, perempuan berhidung mancung itu masih mematung ke arah tenggelamnya matahari. Seisi hati dan pikirannya, terbius deburan ombak yang menghantam batu karang.

“Biyung!..” Bocah lelaki bertelanjang dada itu kembali memanggil Nyai Ageng Pinatih. Melihat sosok yang dipanggilnya tak mendengar, sepasang kaki mungil tanpa alas kaki itu segera bergegas melompati bongkahan batu karang. “Biyung lagi apa?” Bocah bertelanjang dada itu menyapa biyungnya dengan lugu. Tangan mungil yang merangkul di pinggang, membuat Nyai Ageng Pinatih sontak terhenyak dari lamunan panjangnya.

Sorot mata teduh Nyai Ageng Pinatih mendapati putera angkatnya telah berdiri di sisinya. Dari bibir tipisnya yang merah basah, Syahbandar Gresik itu melepaskan senyuman hangat untuk mengurai rasa penasaran yang menggelayuti wajah Jaka Samudera. “Biyung hanya sedang melihat laut saja Jaka.” Nyai Ageng Pinatih menjawab dengan nada lembut. Ia masih berusaha menyembunyikan jawaban yang sebenarnya dari bocah lelaki dua belas tahun di sampingnya itu.

“Kamu dari mana Jaka?” Perempuan paruh baya itu mengelus-elus kepala Jaka Samudera. Ujung kain ikat kepala bocah yang bertelanjang dada itu bergoyang-goyang, mengikuti angin laut yang menerpa wajahnya. “Jaka baru selesai melihat paman-paman memindahkan barang dari kapal ke gudang, biyung!” Jaka Samudera menunjuk ke arah gudang penyimpanan.

“Jaka ikut bantu paman di sana tidak?” Nyai Ageng Pinatih merangkul erat pundak putera angkatnya. Sorot matanya menatap lembut sepasang manik mata yang berbinarbinar di bawah alis yang hitam dan tebal.

“Kali ini Jaka dilarang sama paman kumis. Katanya, barang-barang yang ini berat dan mudah pecah.” Jawaban Jaka Samudera yang polos membuat perempuan berselendang hijau tua itu tersenyum. Bibirnya yang merah ikut merekah seperti warna langit yang mulai beranjak senja. “Biyung kok sendirian?” Pertanyaan Jaka Samudera membuat Nyai Ageng Pinatih teringat kembali dengan kegelisahannya. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk segera menjawab pertanyaan bocah lelaki yang telah dibesarkannya sejak dua belas tahun silam. [***]

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi Informasi Sumsel Haidir Rohimin didampingi Komisioner KI Sumsel Hadi Prayogo, Yoppy Van Houten saat melakukan monitoring dan evaluasi [monev] dengan Sekretaris Wilayah DPW Partai NasDem Sumsel H Nopianto, Selasa 8 September 2026.

Headlines

KI Sumsel Sentil Parpol: Jangan Cuma Terbuka di Pusat‎

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:31 WIB

Dishub Palembang menerbitkan sebanyak delapan sepeda motor, terjaring dalam penertiban parkir liar di Kawasan Tertib Lalu Lintas [KTL] di Kota Palembang.

Headlines

Delapan Sepeda Motor Terjaring KTL di Palembang

Selasa, 8 Sep 2026 - 12:32 WIB