Prahara di Pulau Maspari: Kidung Rindu

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 15:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 1 Kidung Rindu

BAB 1 Kidung Rindu

Gedung Syahbandar, Pelabuhan Gresik

Sesosok perempuan berselendang hijau tua berdiri termenung di antara barisan bangunan berdinding bata merah. Hidungnya yang mancung, serasi dengan lekukan alis yang melengkung di atas bulu mata yang lentik. Kedua bibir tipisnya berwarna merah alami dan selalu nampak basah. Siapapun yang melihatnya, akan teringat pada dua kelopak mawar yang digelayuti tetesan embun pagi.

Meski telah menginjak usia empat puluhan, namun rona merah di pipinya masih menyisakan jejak kecantikan di masa muda. Biasanya, sejak selepas subuh, dari balik bingkai jendela itu ia mengisi kesehariannya sembari mengawasi keluar masuknya kapal, mengamati hiruk pikuk pekerja panggul pelabuhan yang menaik turunkan barang.

Namun, ada yang berbeda dari sorot matanya kali ini. Denyut dermaga pelabuhan, dipandanginya dengan tatapan kosong. Angin laut berhembus kencang. Membawa aroma laut melewati bingkai dinding tanpa daun jendela.

Anak-anak rambut yang keluar dari celah kain selendang penutup kepala, menari-nari seirama dengan ujung kain selendang yang menggantung di punggungnya. Deru angin pantai, aroma laut dan celoteh burung camar yang terbang berputar-putar di tepian dermaga, semakin kuat merayu perempuan di balik bingkai jendela itu untuk memejamkan matanya beberapa saat.

“Assalamualaikum Nyai, permisi!” Sapaan seorang laki-laki dari arah pintu memaksa mata perempuan itu membuka, dan kembali ke alam sadar secepat yang ia bisa. “Waalaikumsalam, Paman!” Perempuan berselendang mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di lorong pintu. Ujung kain ikat kepalanya menari-nari di depan dadanya yang telanjang tanpa baju.

Baca Juga:  Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Kulit yang terbakar matahari, semakin membuat otot-ototnya terlihat kekar. Kepala lelaki berkumis tebal itu masih setengah menunduk. Ia tampak sangat menghormati sosok perempuan yang berdiri anggun di hadapannya saat ini. “Ada apa paman?” Perempuan di balik bingkai jendela melemparkan senyum. Dengan anggun, ia berjalan menghampiri. Lukisan keramahan dari bibirnya yang merah merona, menambah sejuk tiupan angin laut yang menghembus masuk ke dalam celah bangunan berbata merah itu.

“Saya mau melapor, Nyai. Kapal barang kita dari Tiongkok sudah tiba di pelabuhan. Apakah Nyai Ageng Pinatih mengizinkan kapal itu langsung membongkar muatannya?” Sosok bernama Nyai Ageng Pinatih mengikuti arah yang ditunjuk jempol kanan sang lelaki berkumis. “Apakah gudang di ujung sana sudah siap Paman?” Nyai Ageng Pinatih memandang deretan bangunan beratap ijuk di sebelah timur pelabuhan. “Sudah Nyai,”

Lelaki bertelanjang dada itu menjawab dengan sangat yakin. “Kalau begitu, barang-barang jenis pecah belah tolong simpankan di bagian dalam gudang. Untuk bahan makanan dan rempah-rempah simpan di bagian depan agar nanti mudah dikeluarkan.” “Baik. Segera saya laksanakan perintah Nyai. Assalamualaikum!” Nyai Ageng Pinatih mengangguk. Senyuman ramah kembali terurai dari bibirnya yang merah dan basah. “Wa’alaikumsalam.” Lelaki berkumis tebal menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Setelah melangkah mundur hingga lorong pintu, ia memutar badannya dalam satu gerakan cepat. Nyai Ageng Pinatih kembali melemparkan pandangannya ke arah pelabuhan. Untuk beberapa saat, ia masih mendengar langkah petugas gudang itu meninggalkan jejak kakinya di atas pasir hitam. Sampai akhirnya, riuh burung camar menghapusnya seiring tiupan angin laut.

Baca Juga:  Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Nyai Ageng Pinatih kembali berdiri di balik bingkai dinding tanpa daun jendela. Memandangi hiruk pikuk pekerja panggul di antara kapal-kapal kayu yang bersandar, menikmati riuh suara camar dan derap roda yang menggilas tanah berpasir. Saat matahari mulai menghangatkan dermaga pelabuhan, tempatnya berdiri saat ini adalah sudut terbaik untuk melihat sebuah lukisan yang hidup berbingkai batu bata. Sudah seminggu lamanya Nyai Ageng Pinatih merasakan kegelisahan. Hari-hari yang dilewatinya begitu datar tanpa irama. Seperti malam tanpa cahaya rembulan, atau siang yang terik tanpa kumpulan awan. Begitu juga waktu yang berputar.

Detik demi detiknya merangkak teramat pelan. Semua hari-hari yang dilewatinya beberapa hari ini terasa begitu hampa. Tidak ada yang tahu apa yang tengah dirasakan oleh seorang Syahbandar pelabuhan di Gresik itu. Hanya dinding bangunan beratap ijuk yang menjadi saksi bisu kegelisahan seorang Nyai Ageng Pinatih. “Kenangan ini menyeruak seperti bunga mawar yang tumbuh di tengah padang ilalang. Terasa sakit untuk dikenang, namun terlalu indah untuk dilupakan.” Nyai Ageng Pinatih kembali memejamkan mata.

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru