Gedung Syahbandar, Pelabuhan Gresik
Sesosok perempuan berselendang hijau tua berdiri termenung di antara barisan bangunan berdinding bata merah. Hidungnya yang mancung, serasi dengan lekukan alis yang melengkung di atas bulu mata yang lentik. Kedua bibir tipisnya berwarna merah alami dan selalu nampak basah. Siapapun yang melihatnya, akan teringat pada dua kelopak mawar yang digelayuti tetesan embun pagi.
Meski telah menginjak usia empat puluhan, namun rona merah di pipinya masih menyisakan jejak kecantikan di masa muda. Biasanya, sejak selepas subuh, dari balik bingkai jendela itu ia mengisi kesehariannya sembari mengawasi keluar masuknya kapal, mengamati hiruk pikuk pekerja panggul pelabuhan yang menaik turunkan barang.
Namun, ada yang berbeda dari sorot matanya kali ini. Denyut dermaga pelabuhan, dipandanginya dengan tatapan kosong. Angin laut berhembus kencang. Membawa aroma laut melewati bingkai dinding tanpa daun jendela.
Anak-anak rambut yang keluar dari celah kain selendang penutup kepala, menari-nari seirama dengan ujung kain selendang yang menggantung di punggungnya. Deru angin pantai, aroma laut dan celoteh burung camar yang terbang berputar-putar di tepian dermaga, semakin kuat merayu perempuan di balik bingkai jendela itu untuk memejamkan matanya beberapa saat.
“Assalamualaikum Nyai, permisi!” Sapaan seorang laki-laki dari arah pintu memaksa mata perempuan itu membuka, dan kembali ke alam sadar secepat yang ia bisa. “Waalaikumsalam, Paman!” Perempuan berselendang mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di lorong pintu. Ujung kain ikat kepalanya menari-nari di depan dadanya yang telanjang tanpa baju.
Kulit yang terbakar matahari, semakin membuat otot-ototnya terlihat kekar. Kepala lelaki berkumis tebal itu masih setengah menunduk. Ia tampak sangat menghormati sosok perempuan yang berdiri anggun di hadapannya saat ini. “Ada apa paman?” Perempuan di balik bingkai jendela melemparkan senyum. Dengan anggun, ia berjalan menghampiri. Lukisan keramahan dari bibirnya yang merah merona, menambah sejuk tiupan angin laut yang menghembus masuk ke dalam celah bangunan berbata merah itu.
“Saya mau melapor, Nyai. Kapal barang kita dari Tiongkok sudah tiba di pelabuhan. Apakah Nyai Ageng Pinatih mengizinkan kapal itu langsung membongkar muatannya?” Sosok bernama Nyai Ageng Pinatih mengikuti arah yang ditunjuk jempol kanan sang lelaki berkumis. “Apakah gudang di ujung sana sudah siap Paman?” Nyai Ageng Pinatih memandang deretan bangunan beratap ijuk di sebelah timur pelabuhan. “Sudah Nyai,”
Lelaki bertelanjang dada itu menjawab dengan sangat yakin. “Kalau begitu, barang-barang jenis pecah belah tolong simpankan di bagian dalam gudang. Untuk bahan makanan dan rempah-rempah simpan di bagian depan agar nanti mudah dikeluarkan.” “Baik. Segera saya laksanakan perintah Nyai. Assalamualaikum!” Nyai Ageng Pinatih mengangguk. Senyuman ramah kembali terurai dari bibirnya yang merah dan basah. “Wa’alaikumsalam.” Lelaki berkumis tebal menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Setelah melangkah mundur hingga lorong pintu, ia memutar badannya dalam satu gerakan cepat. Nyai Ageng Pinatih kembali melemparkan pandangannya ke arah pelabuhan. Untuk beberapa saat, ia masih mendengar langkah petugas gudang itu meninggalkan jejak kakinya di atas pasir hitam. Sampai akhirnya, riuh burung camar menghapusnya seiring tiupan angin laut.
Nyai Ageng Pinatih kembali berdiri di balik bingkai dinding tanpa daun jendela. Memandangi hiruk pikuk pekerja panggul di antara kapal-kapal kayu yang bersandar, menikmati riuh suara camar dan derap roda yang menggilas tanah berpasir. Saat matahari mulai menghangatkan dermaga pelabuhan, tempatnya berdiri saat ini adalah sudut terbaik untuk melihat sebuah lukisan yang hidup berbingkai batu bata. Sudah seminggu lamanya Nyai Ageng Pinatih merasakan kegelisahan. Hari-hari yang dilewatinya begitu datar tanpa irama. Seperti malam tanpa cahaya rembulan, atau siang yang terik tanpa kumpulan awan. Begitu juga waktu yang berputar.
Detik demi detiknya merangkak teramat pelan. Semua hari-hari yang dilewatinya beberapa hari ini terasa begitu hampa. Tidak ada yang tahu apa yang tengah dirasakan oleh seorang Syahbandar pelabuhan di Gresik itu. Hanya dinding bangunan beratap ijuk yang menjadi saksi bisu kegelisahan seorang Nyai Ageng Pinatih. “Kenangan ini menyeruak seperti bunga mawar yang tumbuh di tengah padang ilalang. Terasa sakit untuk dikenang, namun terlalu indah untuk dilupakan.” Nyai Ageng Pinatih kembali memejamkan mata.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-225x129.jpg)

![Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] resmi memulai Uji Kelayakan dan Kepatuhan [UKK] bagi calon ketua Dewan Pengurus Cabang [DPC] se-Sumatera Selatan, Kamis 30 April 2026](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0056_copy_800x483-225x129.jpg)



![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-129x85.jpg)

![Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] resmi memulai Uji Kelayakan dan Kepatuhan [UKK] bagi calon ketua Dewan Pengurus Cabang [DPC] se-Sumatera Selatan, Kamis 30 April 2026](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0056_copy_800x483-129x85.jpg)


![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-360x200.jpg)

![Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Dr Drs H Edward Candra MH, menghadiri gala dinner dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-107 Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, HUT ke-76 Satuan Polisi Pamong Praja, serta HUT ke-64 Satuan Perlindungan Masyarakat [Linmas] Tahun 2026 di Dining Hall Jakabaring Sport City, Palembang, Rabu 29 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0044_copy_800x488-360x200.jpg)
