“Tidak ada A Pa, aku hanya ingin melihat matahari terbit di Selat Malaka.” Shi Daniang berusaha menyembunyikan alasannya termenung. Namun, tatapan matanya yang kosong tidak mampu bersembunyi dari firasat seorang ayah yang mengkhawatirkan keselamatan anakanaknya. “A Pa tahu apa yang kamu rasakan. Itulah alasan A Pa menyuruhmu bermain petak umpet di dalam tong makanan.” Shi Jin Qing membalas tatapan putri sulungnya dengan hangat. Ia berusaha mengalirkan keyakinan dari sorot matanya yang berwarna cokelat.
“Jika terjadi hal-hal yang tidak diduga, kalian bisa bersembunyi di sana sampai situasi aman. Kalaupun nanti kapal tiba-tiba tenggelam, tong kayu itu akan menjadi pelampung penyelamat kalian di atas lautan. Shi Daniang menyimak. Penjelasan ayahnya di atas anjungan kapal itu akhirnya membuatnya mengerti kenapa ia dan kedua adiknya selalu diminta bermain petak umpet di atas tong-tong kosong bekas penyimpanan makanan.
Ternyata semuanya untuk mempersiapkan keselamatan mereka bertiga. “Apakah kamu sudah jauh lebih tenang?” Shi Jin Qing mengusap-usap punggung Shi Daniang. “Sedikit…” Mendengar jawaban pendek dari putrinya, Shi Jing Qing tertawa kecil. “Apakah kamu masih belum yakin dengan kehebatan para prajurit di atas kapal-kapal itu?” Shi Jin Qing menunjuk satu kapal paling dekat dengan posisi kapal mereka. Shi Daniang melihat arah yang ditunjuk oleh ayahnya.
Gadis itu masih melihat hal yang sama saat bertemu armada laut kaisar Ming pertama kalinya. Para prajurit yang masih tetap tegap berdiri dengan senjata lengkapnya. Semuanya nyaris tidak bergerak meski ombak tengah mengayun-ayun kapal. “Aku terlalu takut dengan pedang dan darah, A Pa..” Shi Daniang menjawab dengan nada lirih. “Apakah itu sebabnya kamu tidak bisa berbicara saat bertemu Laksamana di Champa?”
“Iya A Pa, Aku membayangkan pedang itu tiba-tiba terhunus, lalu memakan darah siapapun yang ada di dekatnya.” Shi Jin Qing kembali tertawa. “A Pa rasa kamu terlalu berlebihan anakku. Ingatlah, kita masih punya Tuhan yang mengatur takdir semua makhluk ciptaanNya.” Seekor merpati putih tiba-tiba terbang berputar di dekat anjungan kapal. Makhluk bersayap itu kemudian terbang mendekati tempat keduanya berdiri, lalu hinggap di lengan Shi Jin Qing dengan nyaman.
Shi Daniang melihat ayahnya mengambil gulungan kertas kecil yang terselip di bagian kaki burung merpati, lalu melepas kembali burung itu ke udara bebas dalam hitungan detik. Shi Jin Qing membuka gulungan kertas sepanjang lengannya itu pelan dan perlahan. Meski besarnya tidak lebih besar dari tiga jari, namun pesan di dalam gulungan kertas itu berhasil membuat lelaki berjubah hanfu itu termenung sejenak.
“Daniang, A Pa ingin kamu tahu tentang ini” Shi Daniang melirik ke arah gulungan kertas yang dijepit dua jari tangan ayahnya. “Ini adalah perintah dari Laksamana.” Shi Jin Qing menarik nafasnya dalam-dalam. Meski berat, namun ini adalah demi keselamatan anak-anaknya juga. “Beliau memberi perintah jika ada perempuan dan anak kecil di atas kapal agar dipindahkan ke kapal khusus.” “A Pa juga ikut bersama kami?” Shi Daniang mencari-cari jawaban dari tatapan hangat ayahnya.
Namun, melihat sosok yang dicintainya menggelengkan kepalanya dengan pelan, wajah gadis berhidung mancung itu seketika menjadi murung. Shi Jin Qing berjongkok. Telapak tangannya mendekap lengan Shi Daniang dengan rapat. Ia berusaha mengalirkan ketenangan ke dalam benak dan pikiran putri sulungnya.
“Kamu jangan berfikir yang terlalu jauh untuk saat ini. Utamakan keselamatan dirimu dan kedua adikmu. A Pa mengandalkanmu untuk membimbing Ban Ci dan Ji Sun selama kita berpisah kapal.” “Kapan kami harus berpindah ke kapal lain, A Pa?” Suara Shi Daniang bergetar. Dadanya menahan sesak karena tidak ingin berpisah dengan ayahnya. “Kau lihat kapal itu?” Shi Jin Qing menunjuk kapal kecil yang tengah di dayung empat orang prajurit menuju kapal miliknya.
“Itu adalah kapal untuk memindahkan kalian bertiga ke kapal khusus.” Shi Daniang terhenyak. “Jadi, kami harus berpindah kapal itu sekarang juga?” Shi Jin Qing mengangguk. Senyuman lebar di wajahnya seakan menjadi bahasa isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. “Cepat bangunkan adik-adikmu, lalu kemasi barang kalian.” “Baik A Pa,” Shi Daniang bergegas menuruni tangga.
Tidak lama, suara kaki yang berlari-larian di atas lantai kayu terdengar oleh Shi Jin Qing. Lelaki berjubah hanfu itu kembali berdiri. Pandangannya bertumpu ke arah kapal kecil yang semakin mendekat. Dalam diamnya, Shi Jin Qing berharap semua akan baik-baik saja sesuai rencana.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya







![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-225x129.jpg)





![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-129x85.jpg)



![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)

