Perairan Pulau Maspari, Palembang
Suara air laut yang disibak empat pendayung terdengar bergantian. Di bawah sinar matahari yang mulai merangkak naik, Shi Daniang menghitung jumlah tiang layar kapal yang sebentar lagi dinaikinya bersama kedua adiknya. Gadis berhidung mancung itu berada di antara deretan armada kapal-kapal besar yang melepas jangkar di depan sebuah pulau. Di hadapannya, Ban Ci dan Ji Sun duduk dalam diam.
Wajah mereka muram bercampur dengan rona pucat pasi. Shi Daniang menduga, kedua adiknya itu kecewa karena berpisah dengan A Pa. Di lain hal, mereka juga terlihat takut setiap kali air laut tiba-tiba melompat ke wajah dan tangan keduanya. “Cie-cie!” Shi Ban Ci tiba-tiba menjerit. Pekik suara bocah perempuan sepuluh tahun itu sontak membuat empat orang prajurit yang serius mendayung menjadi terkejut. Keterkejutan mereka tidak berlangsung lama, setelah menyadari putri kedua Shi Jin Qing itu telah separuh basah diterpa ombak.
“Tidak apa-apa Ban Ci, sebentar lagi kita sampai.” Shi Daniang menenangkan perasaan adik perempuannya yang panik akibat rambut poni dan bagian kanan pakaiannya basah oleh air laut. Lain halnya dengan Shi Ji Sun. Meski adik bungsu Shi Daniang itu hanya terdiam, namun kedua tangannya sibuk mencengkram kuat papan kayu di bawah tubuhnya. Semakin banyak air laut yang membasahinya, semakin kuat kuku-kuku tangannya menancap di balik papan tempat duduknya.
Kapal penyelamat itu hanya mampu menampung lima belas orang. Tetapi, dengan penumpang Shi Daniang dan kedua adiknya yang masih anak-anak, dua juru masak, dan empat orang prajurit yang bertugas menjemput mereka, kapal penyelamat masih terlihat lenggang. Keberadaan mereka di dalam kapal itu sesuai perintah sang Laksamana karena masuk dalam kelompok yang diutamakan keselamatannya dari serangan perompak Selat Malaka.
Setelah satu jam lamanya terombang-ambing ayunan ombak, kapal penyelamat akhirnya merapat di sebuah kapal besar dengan lima buah tiang di lambungnya. Shi Daniang menengadah, melihat lebih dekat papan kayu yang membalut kapal besar di hadapannya. Warna cokelat yang berkilatkilat seakan beradu cepat dengan ombak memantulkan bias cahaya matahari pagi. Prahara di Pulau Maspari | 108 Sebuah tali dilemparkan dari atas geladak.
Prajurid di bagian depan menangkapnya dengan cekatan. “Naiklah!” Sang prajurit meminta Shi Daniang naik menggunakan tangga tali yang menggantung di atas kepalanya. Dua orang prajurit di bagian depan mulai sibuk membantu semua penumpang naik ke atas, sedangkan dua orang di belakang perahu penyelamat sibuk mendayung untuk mengendalikan posisi kapal. “Selamat datang di kapal armada logistik!” Seorang perwira di bagian tengah kapal menyapa Shi Daniang dengan ramah. “Perkenalkan, namaku Wang Ji Hong. Kalian bisa memanggilku paman Ji Hong.”
Shi Daniang membungkuk hormat kepada perwira bernama Wang Ji Hong. Wajah tegasnya terlihat meski senyumannya setipis garis mata yang sipit. Ban Ci dan Ji Sun berdiri di belakang pinggang kakak sulungnya. Keduanya masih sungkan bertemu orang yang belum dikenal sebelumnya. Wang Ji Hong berjalan menghampiri ketiga Shi Jin Qing. “Tidak apa-apa, kalian tidak usah takut. A Pa kalian sudah menitipkan pesan kepadaku untuk menjaga kalian dengan nyawa di badanku ini.”
Perwira berbaju zirah besi itu mencoba meyakinkan putra-putri sang saudagar untuk membuang keraguan terhadapnya. Shi Daniang menyusuri tiap senti tubuh Wang Ji Hong. Dibandingkan dengan prajurit yang berdiri di sisi geladak kapal, Prahara di Pulau Maspari | 109 penampilan perwira di hadapannya saat ini memang berbeda. Baju hanfu yang dikenakannya dilapisi dengan besi di bagian bahu dan pergelangan tangan. Begitu juga sabuk di pinggangnya. Ujung sabuknya berwarna kuning emas, cahaya matahari pagi membuat kepala singa di ujung sabuk nampak berkilat-kilat.
Sama seperti penjepit rambut panjangnya yang terbuat dari bahan kuningan. “Terima kasih paman Ji Hong sudah menerima kami.” Shi Daniang membalas perkenalan Wang Ji Hong dengan sikap penuh hormat. “Malam ini kalian silahkan beristirahat dulu di kapal ini. Besok, kalian akan dipindah ke kapal komando.” Wang Ji Hong memanggil dua orang prajurit di belakangnya. “Antarkan tamu kita ke tempat peristirahatan mereka sementara.”
“Siap komandan!” Dua prajurit menjawab serentak. “Silahkan ikut dengan paman prajurit. Mereka akan mengantarkan kalian ke kamar untuk beristirahat.” Shi Daniang membungkuk hormat, diikuti dua adiknya. Begitu juga dengan dua orang juru masak yang berdiri di belakang gadis berhidung mancung itu. “Terima kasih paman. Kami mohon izin untuk ke tempat istirahat.” “Jangan sungkan-sungkan.” Wang Ji Hong membalas penghormatan dari Shi Daniang. Perwira pertama itu mengikuti rombongan Shi Daniang menuju ruangan geladak.
Ruangan yang akan menjadi tempat peristirahatan ketiga anak Shi Jin Qing dan dua orang koki kapal. “Prajurit!, kirimkan pesan ke kapal komando!, tugas pertama sudah dijalankan.” Perintah Wang Ji Hong diteruskan seorang prajurit hingga terdengar ke buritan kapal. Seorang petugas sandi dengan cepat mengibas-ngibaskan bendera di tangannya. Ia mengirimkan pesan ke kapal komando. Kapal tiang layar sembilan yang berada dua ratus meter jauhnya di depan mereka.
Matahari sudah berada di atas kepala. Panas teriknya membuat lantai kapal Wang Ji Hong seperti cermin yang dibelah-belah. Setiap bilah papan-papan kayu cokelat mengkilat, memantulkan terik sang surya dengan indah. Rombongan armada laut pimpinan Laksamana Cheng Ho telah tiba di perairan pulau Maspari, tempat yang diduga menjadi sarang persembunyian perompak sadis di selat Malaka.
Gugusan batu karang hitam dan hamparan pasir yang memanjang, membuat pulau di depan kapal mereka seperti seekor ikan pari raksasa di tengah samudera. Pertemuan tiga arus laut dan keberadaan sumber air tawar menjadikan pulau ini menjadi tempat yang strategis untuk mendirikan pos persinggahan ratusan armada laut sang laksamana. ***







![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-225x129.jpg)





![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-129x85.jpg)



![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)

