Kesenangan Membawa Malapetaka

- Jurnalis

Selasa, 23 Juli 2019 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAGI para remaja yang selalu tenggelam dalam pergaulan di dalam dan di luar komunitas sekolah, harus hati-hati dengan bujuk rayu para pemakai dan pengedar narkoba.

Sekali saja Anda terjerumus ke lautan obat-obat terlarang itu, maka Anda akan sulit bangkit sebagai anak bangsa yang kreatif.

Dr dr Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASM dari Rumah Sakit Muhammad Hoesin, mengatakan jauhi narkoba. “Terutama narkoba jenis sabu,” ujar Zulkhair ke pada Wideazone.com, Selasa (23/7/2019).

Sabu, kata Zulkhair, termasuk jenis narkoba yang sangat berbahaya. Ketika seseorang berusaha memggunakan sabu, awalnya akan sangat bahagia.

“Semua itu dirasa karena unsur sabu dapat menaikkan hormon dopamin atau hormon pemicu rasa senang dari otak. Bahkan jumlah dapomin yang dipicu tidak sedikit. Karena itu pada awalnya orang akan dibuat senang,’ urai Zulkhair.

Karena itu dari Jurnal The Permanente diuraikan tentang pengaruh markoba jenis sabu yang sangat membahayakan jiwa pemakainya.

Baca Juga:  Patialo Kini Terang Benderang: Listrik 24 Jam Nyalakan Asa Anak Desa

Dalam temuan dr Nicole Lee dari Mational Drug Research Institute Australia yang dirilis di Jurnal The Permanente, dopamin dari otak manusia yang dikuras mencapai hampir 100%.

“Karena itu rasa senangmu akan dikuras berkali-kali lipat dari angka normal. Kita juga seolah merasa sangat percaya diri dan penuh energi,” kata Zulkhair.

DR dr Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASM
DR dr Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASM

Namun setelah seringkali menggunakan sabu, mala petaka pun akan dirasakan. Sebab rasa senang itu hanya akan dirasa oleh pengguna sabu hanya satu hari saja.

“Artinya perasaan senang itu hanya bisa bertahan selama 24 jam saja. Selebihnya hanya mala petaka yang menghancurkan masa depan kita,” katanya.

Dampak buruk yang pemakai rasakan setelah itu ialah mulai diserang rasa lapar, kehilangan konsentrasi, pandangan mulai rabun dan kepala kita terasa sakit.

Gambaran itu merupakan pertanda bahwa setelah menggunakan sabu seseorang akan mengalami hal-hal baru kali pertama ia alami.

Baca Juga:  Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

“Jika kita sudah mengalami hal seperti ini, maka dapat disebut sebagai tindak sakau yang membuat seseorang menjadi ketagihan sabu,” katanya.

Jika seseorang sudah masuk ke wilayah sakau, keinginan menggunakan sabu akan semakin menyiksa.

Dalam keadaan ini, jiwa pemakai semakin datar. Dalam waktu 1,5 tahun jiwanya dicekam parasaan cemas.

Keadaan ini sangat menyiksa. Untuk menanggulangi perasaan cemas, mereka harus mengulangi memggunakan sabu.

Sungguh jelas, keadaan ini sangat tidak menguntungkan. Karena itu konsisi sakau seperti ini harus diobati melalui terapi panjang.

Hingga waktu yang digunakan untuk menyebuhkan korban, waktunya sekitar delapan bulan. “Waktu sepanjang itu dilakukan untuk memastikan apakah ia sudah benar-benar lepas dari pengaruh sabu,” ujar Zulkhair.

Nah, sebelum mengalami keadaan yang berbahaya seperti itu, ada baiknya Anda menjauhi sabu-sabu. Karena tak sedikit pun keuntungan yang bermanfaat dari menggunakan narkoba jenis sabu ini. (anto narasoma)

Berita Terkait

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam
Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat
Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179
ISPU Palembang di Angka 209, DPRD: 2.222 Siswa Terpapar ISPA, PJJ Tetap Lanjut
PALEMBANG DARURAT ASAP: 297 Titik Karhutla–ISPA Tembus 115 Ribu Kasus, Tertinggi dalam 4 Tahun ‎
Wamenkes Pacu Pemberantasan TB di Palembang, Ratu Dewa Pastikan Program Tepat Sasaran
Kabut Asap Karhutla “Meradang” di Palembang, Aktivis Rawang Bilang Pemerintah Gagal dalam Tata Kelola
Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 20:27 WIB

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Senin, 28 September 2026 - 14:04 WIB

Pangkalan Balai Jadi “Distributor Asap” Sampah Dibakar Saat Kabut Asap Pekat

Jumat, 18 September 2026 - 11:05 WIB

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Senin, 14 September 2026 - 18:04 WIB

ISPU Palembang di Angka 209, DPRD: 2.222 Siswa Terpapar ISPA, PJJ Tetap Lanjut

Senin, 7 September 2026 - 15:55 WIB

PALEMBANG DARURAT ASAP: 297 Titik Karhutla–ISPA Tembus 115 Ribu Kasus, Tertinggi dalam 4 Tahun ‎

Berita Terbaru

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Headlines

ISPU Palembang Kategori Berbahaya, Sudah di Level Warna Hitam

Selasa, 29 Sep 2026 - 20:27 WIB