Kala Persahabatan Sebatas Lisan Bukan Sikap

- Jurnalis

Minggu, 27 Juli 2025 - 18:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Idasril Tanjung SE SH MM MH

Idasril Tanjung SE SH MM MH

by Idasril Tanjung SE SH MM MH

Persahabatan adalah amanah. Ia lahir dari kepercayaan, tumbuh dalam kejujuran, dan bertahan karena kasih sayang. Namun hari ini, terlalu sering kita menyaksikan persahabatan yang rapuh bukan karena jarak, tapi karena pengkhianatan, gibah, dan penghinaan.

Sahabat sejati tidak akan menusuk dari belakang. Ia tidak akan tersenyum di depan, lalu membawa nama sahabatnya ke belakang punggung, membeberkan aib yang seharusnya ia jaga. Gibah bukanlah cermin cinta, melainkan pengkhianatan yang dibungkus dalam kedekatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tahukah kalian apa itu gibah? Mereka berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.'” (HR. Muslim)

Penghinaan terhadap sahabat, meski hanya dengan candaan kasar, bukanlah wujud keakraban. Justru di situlah adab diuji. Sahabat yang baik menjaga harga diri temannya, bahkan di hadapan orang lain, bahkan saat sahabat itu tak hadir. Mereka tidak menertawakan kekurangan, tapi menutupinya. Tidak menyebarkan luka, tapi mengobatinya.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Dan jika suatu saat pengkhianatan terjadi—entah karena hasad, ambisi, atau kelalaian hati—maka luka yang ditinggalkan bukan hanya retak dalam hubungan, tapi juga bisa menjadi celah bagi syaitan merusak ukhuwah yang dulu suci.

Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ bersikap terhadap para sahabatnya. Ia tidak pernah mengumbar cela. Bahkan ketika ada yang berbuat salah, beliau memperbaiki dengan cara yang halus, tidak menyebut nama, tidak menjatuhkan martabat.

Persahabatan bukan hanya tentang bersama di atas panggung kehidupan, tapi juga saling menjaga ketika panggung itu runtuh. Bila ada yang berkhianat, menggibah, atau menghina, maka itu bukan persahabatan—itu hanya pertemanan semu yang dibangun atas dasar kepentingan, bukan keimanan.

Baca Juga:  Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Ingatlah, sahabat sejati tidak akan mencemarkan nama sahabatnya meski hubungan mereka sudah usai. Karena nilai seseorang bukan diukur dari seberapa baik ia bersahabat, tetapi dari seberapa mulia ia bersikap saat pertemanan itu diuji

“Jika engkau ingin tahu siapa sahabatmu yang sejati, lihatlah siapa yang tetap menjaga kehormatanmu setelah kau tak lagi bersamanya.”

Mari kita rawat persahabatan bukan hanya dengan tawa, tapi juga dengan adab. Karena persahabatan tanpa kejujuran hanya akan menjadi panggung sandiwara, dan pertemanan tanpa iman hanyalah bayangan yang hilang saat cahaya ujian datang.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎
Pancasila di Persimpangan Jalan
Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada
Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?
Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka
Hari Pendidikan Nasional: Negara Jangan Lari dari Kewajiban
Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan
Rangkap Jabatan: Alarm Bahaya Birokrasi dan Penyimpangan Kekuasaan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:22 WIB

Menemukan Kembali Jiwa Pendidikan di Lembar Rapor ‎

Senin, 1 Juni 2026 - 14:49 WIB

Pancasila di Persimpangan Jalan

Jumat, 15 Mei 2026 - 05:46 WIB

Demokrasi di Indonesia : Antara Ada dan Tiada

Rabu, 13 Mei 2026 - 08:10 WIB

Keributan Antarwarga Akibat Kebisingan Lingkungan: Persoalan Sepele atau Gangguan Ketertiban Hukum?

Senin, 11 Mei 2026 - 07:47 WIB

Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah “Dikhianati” Demi Seremonial Belaka

Berita Terbaru