“Kami sepakat untuk melakukan PTMT dengan disiplin prokes ketat. Kami sangat ingin penerapan PTM terbatas dengan memperhatikan aturan dan tata laksana jelas,” ujarnya. Oleh karena itu, ia meminta agar Kemendikbudristek mempertimbangkan skema prosedur operasional standar dalam penerapan PTM terbatas terutama bagi mata kuliah yang krusial pada bidang-bidang tertentu.
Diakui Rahman, mahasiswa bisa berperan sebagai relawan vaksinasi. Namun kendala yang dihadapi adalah vaksinasi sejauh ini baru menyasar kota-kota besar seperti wilayah Jabodetabek saja. Masih banyak daerah-daerah yang kesulitan memperoleh vaksin. “Kami ingin mendorong agar Kemendikbudristek semakin memasifkan vaksinasi ini dan menyalurkannya kepada daerah serta seluruh stakeholder perguruan tinggi,” katanya.
Terkait dengan bantuan UKT, Rahman menyambut baik dan bersedia untuk mengawal implementasinya supaya lebih tepat sasaran. Oleh sebab itu ia berharap Kemendikbudristek maupun universitas dapat melibatkan mahasiswa untuk membantu dalam menilai kelayakan seseorang memperoleh bantuan.



















