Stop Narkoba: Selain Kerusakan Syaraf Ujungnya Kematian

- Jurnalis

Jumat, 6 Desember 2019 - 14:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Stop Narkoba

Ilustrasi Stop Narkoba

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Dampak buruk narkotika dan obat-obat terlarang sangat berbahaya bagi kondisi kejiwaan manusia. Sebab bahan-bahan atau zat adiktif yang terkandung di dalamnya bisa mengancam nyawa pemakainya.

“Karena para remaja, anak-anak muda harus ekstra hati-hati dengan pengaruh yang ditawarkan di dalam pergaulan sosial,” ujar Brigjen Drs H Iswandi Hari, yang pernah menjabat sebagai Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumsel saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (6/12/2019).

“Penggunaan narkoba dalam bebagai jenis itu sangat dilarang. Karena dampak buruk yang diakibatkan bisa mempengaruhi kondisi pikiran, perasaan dan kejiwaan kita,” ujar Iswandi.

Sebenarnya, narkoba merupakan jenis obat-obatan yang biasa dipakai dokter untuk membius pasien saat melakukan oparasi di rumah sakit.

Bahan-bahan ini juga sebenarnya dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit tertentu. Namun beberapa kalangan menggunakan obat-obat itu dengan tujuan yang baik sehingga menimbulkan efek buruk setelah disalahgunakan pihak tertentu. Karena narkotik dijadikan obat-obat terlarang.

Karena itu masyarakat harus mengetahui dan memahami jenis-jemis narkoba agar lebih paham dampak buruk yang ditimbulkan secara psikologis ke pada masyarakat.

Dari catatan BNN, kata Iswandi, di awal tahun 2019 tercatat ada 4,5 juta pengguna narkoba di Indonesia. “Dari jumlah itu, 24 persen pengguna narkoba itu adalah pelajar. Sedangkan 59 persen penggunanya adalah pekerja,” ujar Iswandi.

Menurut Iswandi, jika narkoba jenis apa saja digunakan secara sembarangan, bisa membuat perasaan pemakainya mengalami ketergantungan fisik dan psikologi negatif.

“Saat ini, jenis-jenis narkoba sudah semakin beragam. Karena itulah saya katakan agar masyarakat mengetahui berbagai jenis narkoba agar terhindar dari efek bahayanya,” tukas Iswandi.

Menurut Iswandi Hari, seorang yang memgalami ketergantungan terhadap narkoba, kemungkinan besar besar tubuhnya akan rusak. Bahkan pada ujungnya bisa berdampak pada kematian.

Baca Juga:  Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

“Narkotika adalah zat sintetis dan semisistetis yang dihasilkan dari tanaman atau dari sumber lain. Zat ini bisa berdampak pada penurunan pada perubahan kesadaran dan hilangnya rasa nyeri. Zat ini dapat menimbulkan ketergantungan bagi penggunanya. Itu yang penting kita waspadai,” katanya.

Jenis morfin, misalnya, obat ini berasal dari kata morpheus atau dewa mimpi. Di dalamnya terdapat zat alkoholik analgesik yang sangat kuat, ditemukan pada opium. “Jenis-jenis nerkoba ini bekerja langsung pada sistem saraf pusat sebagai penghilang rasa sakit,” katanya.

Morpin sangat berbahaya. Selain menimbulkan euporia yang langsung menurunkan kesadaran pemakainya. “Anda bisa melihat orang yang ketagihan morpin, ia nampak seperti orang bingung, selalu berkeringat. Setelah memakai morpin, kecenderungan mereka akan pingsan dan jantungnya berdebar kencang.

Akibatnya rona muka pecandu itu akan berubah, kejang lambung dan mengurangi frekuensi air seninya. “Bagi wanita dapat mengganggu menstruasi dan impotensi bagi laki-laki,” ujarnya.

Selain morpin, ada heroin atau lebih dikenal dengan sebutan putaw dihasilkan dari pengolahan morpin secara kimiawi. Tapi reaksi yang ditimbulkan lebih kuat dari pengaruh morpin, sehingga mudah menembus otak.

Dampak dari semua itu, denyut nadi menjadi lambat, tekanan darah menurun, otot lemas, pupil mata menyempit, suka menyendiri dan hilang kepercayaan diri.

Sedangkan narkotika jenis kokain, berasal dari tanaman erythoxylon coca yang ada di Amerika Selatan. Daun tanaman ini biasanya dimanfaatkan untuk mendapatkan efek stimulan dengan cara dikunyah. “Kokain bisa memicu metabolisme sel menjadi sangat cepat,” kata Iswandi.

Kokain dapat memberi efek rasa gembira yang berlebihan. Si pemakai akan sering gelisah dan dapat menurunkan berat badan. Dampak buruknya, kata Iswandi, si pemakai bisa mengalami sesak napas, sering kejang-kejang, timbul masalah pada kulit dan kerapkali mengalami kejang-kejang.

Baca Juga:  FASI di OKU Timur, Bupati Enos Dorong Lahirnya Generasi Qurani

“Sering mengeluarkan dahak serta terjadi kerusakan pada paru-paru pemakai. Yang kita khawatirkan si pemakai akan mengalami paranoid dan kehilangan pemglihatan,” ujarnya.

Sedangkan ganja, kanabis atau mariyuana, mengasilkan serat mengandung narkotika yang terdapat di bijinya. Jenis narkoba ini akan membuat pemakai menhalami euporia berkepanjangan.

Ganja sudah dikenal manusia sejak lama. Seratnya digunakan untuk membuat kantung dan bijinya sebagai bahan dasar pembuatan minyak. Awalnya, tanaman ini hanya ditemukan di negara-negara beriklim panas. Namun belakangan ini negara beriklim dingin pun banyak membudidayakannya dengan dikembangkannya di rumah kaca.

“Jika kita mengonsumsi ganja, selain mulut terasa kering, denyut jantung terasa lebih kencang. Pemakainya sulit diajak berkomunikasi, agresif dan mengalami gangguan tidur. “Yang jelas napsu makan bertambah, selalu gelisah, sering berfantasi dan selalu euporia,” urainya.

Selain kecanduan, tambah Iswandi, jika berhenti memakainya, si pemakai akan mengalami sakit kepala, mual berkepanjangan, sering lelah dan baban lesu.

“Ada lagi narkotik jenis LSD atau lysergic acid. Bentuknya seperti lembaran kertas kecil, kapsul atau pil,” katanya.

Si pemakai akan sering berhalusinasi terkait berbagai kejadian, tempat dan waktu. Ia aeringkali terobsesi dengan apa yang ada di halusinasinya. “Kalau kita perhatikan, diagfragma matanya jadi melebar dan memgalami demam. Ia juga seringkali memiliki perasaan panik dan takut yang berlebihan,” kata Iswandi.

Adalagi jenis narkotik lain bernama ekstasi, sabu-sabu, nipam, zat adiktif, etanol atau alkohol, nikotin dan kafein. Semua narkotik tidak ada yang bermamfaat bagi kesehatan manusia.

“Apabila kita sudah mengonsumsinya, selain mengalami ketergantungan, dampak buruknya, kita mengalami ketergantungan dan kebutaan mata, jantung berdebar, serta merusak saraf. Ujung-ujungnya kita dijemput maut,” ujar Iswandi menyudahi pembicaraan. (*)

 

Laporan Abror Vandozer
Editor Anto Narasoma

Berita Terkait

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179
ISPU Palembang di Angka 209, DPRD: 2.222 Siswa Terpapar ISPA, PJJ Tetap Lanjut
PALEMBANG DARURAT ASAP: 297 Titik Karhutla–ISPA Tembus 115 Ribu Kasus, Tertinggi dalam 4 Tahun ‎
Wamenkes Pacu Pemberantasan TB di Palembang, Ratu Dewa Pastikan Program Tepat Sasaran
Kabut Asap Karhutla “Meradang” di Palembang, Aktivis Rawang Bilang Pemerintah Gagal dalam Tata Kelola
Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien
Perumda Tirta Musi Pastikan Pasokan Air Bersih Aman Selama Kemarau, Perluasan Jaringan Jadi Tantangan
Soal Belasan Rumah Warga Retak Imbas Proyek Tower Bank Mandiri, Adhi Karya: Perbaikan Siap, Nilai Ganti Rugi Belum Ada Titik Tengah

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 11:05 WIB

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Senin, 7 September 2026 - 15:55 WIB

PALEMBANG DARURAT ASAP: 297 Titik Karhutla–ISPA Tembus 115 Ribu Kasus, Tertinggi dalam 4 Tahun ‎

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:55 WIB

Wamenkes Pacu Pemberantasan TB di Palembang, Ratu Dewa Pastikan Program Tepat Sasaran

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:50 WIB

Kabut Asap Karhutla “Meradang” di Palembang, Aktivis Rawang Bilang Pemerintah Gagal dalam Tata Kelola

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:30 WIB

Kasus Dugaan Pelecehan di ICU RSUD Martapura Memanas, Manajemen Bantah Tuduhan Keluarga Pasien

Berita Terbaru

Kualitas udara di wilayah Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, terpantau berada pada kategori tidak sehat, Jumat 18 September 2026, pagi.

Banyuasin

Kualitas Udara Pangkalan Balai Tidak Sehat, AQI Capai 179

Jumat, 18 Sep 2026 - 11:05 WIB

Suasana di sebuah rumah di kawasan Parit 9, Desa Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, mendadak berubah menjadi tempat kejadian perkara berdarah, Kamis 17 September 2026.

Banyuasin

Petani di Banyuasin Tewas di Tangan Anaknya Gegara Lahan

Kamis, 17 Sep 2026 - 20:33 WIB

Ilustrasi MENELAAH KATA,

Sastra

MENELAAH KATA, “KARENA RINDU”

Kamis, 17 Sep 2026 - 11:52 WIB