Kapal Shi Jin Qing, Samudera Barat
Sinar matahari pagi berhasil menyusup di antara celah jendela dan rongga dinding ruang geladak kapal. Garis cahaya sebesar jari telunjuk itu perlahan memberikan kehangatan di atas pipi Shi Daniang. Tidur gadis berpita merah itu pun terusik. Putri sulung Shi Jin Qing itu terbangun. Kelopak mata dengan deretan bulu mata yang lentik itu membuka perlahan. Tusukantusukan lembut garis cahaya ke atas pelupuk mata,berhasil memaksa alam sadar Shi Daniang kembali lebih cepat.
Sejak hati dan pikirannya penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran, sejak malam itu, perjalanan Shi Daniang di atas kapal seperti berada dalam kubangan lumpur hitam. Hari ketujuh pelayarannya meninggalkan tanah kelahiran masih sama seperti malam-malam sebelumnya, gadis berhidung mancung itu sulit memejamkan matanya hingga pagi tiba. “Ssshhh..” Shi Daniang meringis merasakan bagian tengah kepalanya berdenyut.
Jejak kesakitan di sela-sela bibir tipisnya juga masih tersisa saat rasa nyeri di kepala merambat hingga telinga. Denyutdenyut di kepalanya begitu tajam mengiris, rasa perihnya seperti jejak cubitan mungil adik perempuan satu-satunya. “Kreekk” Shi Daniang setengah terkejut mendapati pintu ruangan dibuka pelan-pelan dari depan. Bayangan para perompak yang kerap menghantuinya membuat setiap senti pintu kayu yang dibuka lebar, terdengar seperti mata pedang yang diseret di atas lantai. “Jangan-jangan..”
Shi Daniang menerka-nerka dalam hati. Kepanikan mulai menyulut pikirannya saat sesosok bayangan tinggi besar muncul dari balik pintu. Suara langkah kaki yang terdengar berat di lantai kayu, membuat Shi Daniang mencengkram selimut merahnya lebih kencang. Ia berusaha menyembunyikan kepalanya di balik selimut. “Kalian sudah bangun?” Mendengar suara yang cukup akrab ditelinga, Shi Daniang menghela nafas lega. Garis sinar matahari yang menembus celah kayu ruang geladak membuat sosok yang berdiri di antara meja makan dan tempat tidurnya terlihat dengan jelas.
Shi Daniang beranjak bangun. Tangannya gesit merapihkan rambut yang berantakan. “Ban Ci dan Ji Sun masih tidur.” “Aku ingin kamu melihat keluar. Kapal kita sudah bertemu dengan armada kapal kaisar Ming.” Mendengar berita yang dibawa ayahnya pagi ini. Shi Daniang ternganga. Prahara di Pulau Maspari | 88 “Armada Laksamana Cheng ho?” Tanya Shi Daniang dengan wajah berseri-seri. Pertemuan yang sangat dinanti, seketika menjadi energinya untuk segera berlari, beranjak keluar ruang geladak dengan langkah tergesa-gesa.
Shi Jin Qing hanya bisa tersenyum melihat tingkah putri sulungnya segera menyapa keajaiban yang telah berhari-hari sangat dinantikannya. Kaki kecilnya lincah melewati beberapa awak kapal yang berjaga di bawah tiang layar, meninggalkan derap ketukan kaki yang ramai di atas lantai kayu. Shi Daniang tidak perduli dirinya saat ini tengah menjadi pusat perhatian.
Ia hanya ingin berlari cepat ke sisi anjungan kapal, melompati satu persatu anak tangga ruang nahkoda, lalu menyaksikan sendiri ratusan kapal armada laut yang diceritakan oleh ayahnya. Sang nahkoda dan dua orang pembantunya hanya bisa melemparkan senyum melihat tingkah putri pemilik kapal. Di atas anjungan kapal, Shi Daniang memandang ke laut lepas. Kulitnya yang seputih lobak mulai nampak kemerahan diterpa hangatnya sinar matahari pagi.
Suara tarian ombak di bawah kakinya tidak mampu menghalangi putri sulung Shi Jin Qing itu berpaling dari pemandangan menakjubkan di depan matanya. Melihat ratusan kapal-kapal bertiang besar tengah berlayar beriringan di depan kapalnya, Shi Daniang merasa seperti seekor semut di antara ratusan gajah. “Naikkan bendera!” Suara teriakan Shi Jin Qing terdengar lantang dari arah geladak kapal. Shi Daniang menoleh ke belakang. Melihat ayahnya berjalan tergesa-gesa ke atas anjungan.
Gadis berhidung mancung itu memutar tubuhnya, dan berniat turun dari ruang anjungan. Namun, langkahnya kalah cepat oleh Shi Jin Qing. “Jangan kemana-mana Daniang,” Shi Jin Qing mengangkat lengan. Melarang putrinya menuruni tangga. “Bukankah kamu ingin melihat kapal Laksamana?” Tanya Shi Jin Qing sambil menaiki anak tangga. “Iya A Pa.” Shi Daniang mengangguk. Mata Shi Daniang melirik kain berwarna hijau di atas tiang layar.
Kain bersimbol naga bersulam benang kuning emas itu berkibar gagah, seolah ingin menantang langit bersama hembusan angin. “Tapi, kenapa tadi A Pa memerintahkan untuk mengibarkan bendera?” Shi Jin Qing ikut melihat benda yang dimaksud putrinya. Ia menuntun putrinya berjalan kembali ke ujung anjungan. “Itu adalah tanda bahwa kita bukanlah musuh kekaisaran Ming.”
Shi Daniang mengedarkan pandangannya. Dari ujung ke ujung, ia melihat kapal-kapal besar di hadapannya membentuk barisan. Pemandangan ribuan prajurit dengan senjata lengkapnya di atas kapal membuat putri sulung Shi Jin Qing itu takjub. “Mereka banyak sekali,” Shi Daniang berdecak kagum. Wajah putri sulung Shi Jin Qing itu berseri-seri. Rona bahagia terukir dari senyum lebarnya. Dari sinar mata, Shi Daniang berusaha melukiskan kebahagiaan yang teramat dinantikannya.
Semenjak mendengar keberadaan perompak yang kejam di Selat Malaka, dirinya kerap dihantui ketakutan. Berhari-hari lamanya, ia terus dibelenggu bayang-bayang ketakutan akan kemunculan gerombolan sadis itu saat dirinya tertidur pulas. Rasa takut yang terus mengikis keberanian, benar-benar menyiksa Shi Daniang hampir di sepanjang malam.
Pagi ini, pemandangan kapal-kapal besar dengan tiang-tiangnya yang tinggi menjulang, membuat semua beban yang hampir membatu di hati gadis berpita merah itu mencair. Rasanya seperti air hujan pertama yang datang di puluhan musim kemarau, benarbenar melegakan rongga hati dan isi pikirannya. “Armada sang Laksamana akan turut berlayar ke Nusantara.” Terang Shi Jin Qing sambil menepuk-nepuk pundak putri sulungnya. “Ke Palembang juga?” Shi Daniang mendongakkan kepala.
Menatap wajah sang ayah dengan wajah berseri-seri. “Termasuk salahsatunya.” Shi Jin Qing mengangguk. “Kamu masih suka bermain petak umpet bersama Ban Ci dan Ji Sun kan?” “Iya A Pa. Kami bermain setiap sore. Bersembunyi dan menebak tong-tong kayu itu menyenangkan. Ji Sun sangat suka.” “Baguslah, karena apa yang kamu mainkan bisa bermanfaat nanti.” Shi Jin Qing kembali memandang ke laut lepas. Sesekali ia mengangguk dan membungkuk untuk memberi hormat kepada armada laut sang Laksamana di atas kapal. Mereka berdiri tegap dengan senjata lengkap.
Para prajurit yang berjaga di sisi geladak kapal itu berdiri seperti patung. Diam tidak bergerak, meski angin laut kencang menampar wajah-wajah mereka. “A Pa,” Shi Daniang memanggil ayahnya dengan suara setengah berbisik. “Yang mana kapal Laksamana Cheng Ho?” Gadis berpita merah itu nampak mencari-cari. Ia kebingungan dengan jumlah dan bentuk kapal armada laut yang nyaris sama.
Yang membedakannya hanya warna seragam prajurit serta jumlah tiang layar di atas lambung kapal. Lelaki berjenggot panjang itu tersenyum. Tangan kanannya menunjuk lima kapal besar dengan sembilan tiang layar besarnya yang terbuat dari bambu Tiongkok. “Di antara lima kapal bertiang sembilan itu adalah kapal sang Laksamana. Kamu bisa mengenalinya dari bendera sang laksamana yang berkibar di salah satu tiangnya.”
Mendengar ucapan ayahnya, kelopak mata Shi Daniang menyipit. Benaknya berusaha melukis titik-titik imaginasi menjadi bentuk utuh sosok pimpinan tertinggi armada kapal kekaisaran Ming itu. Sayangnya, ia kesulitan menjadikan satu titik pun menjadi garis berwarna untuk menggambarkan sosok sang Laksamana. Gadis berhidung mancung itu pun akhirnya menyerah.
“A Pa pernah jumpa dengan Laksamana?” Shi Daniang berusaha mencari jawaban dari balik tatapan tajam sosok sang ayah ke arahnya. “Iya, A Pa sudah bertemu dengan Tuan Cheng Ho. Beliau orang yang ramah.” Shi Jin Qing menjawab dengan nada tenang. “Perjalanan kita hari ini adalah hasil pertemuan A Pa dengan tuan laksamana.” “Oh begitu,” Shi Daniang mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mencoba memahami potongan cerita dari mulut ayahnya.
Melihat anggukan kecil dari putri sulungnya, lelaki berjubah Hanfu itu menarik nafas panjangnya. Bertemu dengan armada laut sedikit membuat keresahan di dalam hatinya sedikit berkurang, namun ada hal yang sangat mengganjal untuk diutarakan kepada Shi Daniang. Shi Jin Qing melemparkan pandangannya ke arah kapal berbendera naga emas. Dengan panjang seratus tiga puluh delapan meter dan lebar kapal mencapai lima puluh enam meter, kapal berbobot ribuan ton beratnya itu nampak gagah di atas samudera.
Di dalam kapal itulah Laksamana Cheng Ho memimpin komando ribuan prajurit dan ratusan kapal lautnya. Siang itu, air laut seperti hamparan cermin raksasa. Selain lukisan awan-awan di langit, riak ombak ikut memantulkan bayangan armada kapal yang melaju pelan.
Dilihat dari bentuk dan warna benderanya, irin-iringan kapal itu terbagi menjadi empat bagian. Mulai dari kapal bagian komando, kapal bagian dukungan teknis-navigasi, kapal bagian pasukan kemiliteran, serta kapal khusus bagian logistik. Kapal dagang Shi Jin Qing turut dalam iringan kapal logistik. Jaraknya hanya dibatasi dua kapal berisi pasukan militer bersenjata lengkap. *



![Terpidana kasus kekerasan seksual, Fahrul Rozi alias Balung bin Azim [Alm] berhasil diringkus Tim Tangkap Buron [Tabur] Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Jumat 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.15 WIB.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260523-WA0005_copy_1503x822-225x129.jpg)

![Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260516-WA0046_copy_800x561-225x129.jpg)


![Bank Sumsel Babel berpartisipasi aktif dalam Rapat Koordinasi Percepatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah melalui SP2D Online dan Kartu Kredit Pemerintah Daerah [KKPD].](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260515-WA0013_copy_1235x702-225x129.jpg)
![Terpidana kasus kekerasan seksual, Fahrul Rozi alias Balung bin Azim [Alm] berhasil diringkus Tim Tangkap Buron [Tabur] Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Jumat 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.15 WIB.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260523-WA0005_copy_1503x822-129x85.jpg)

![Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260516-WA0046_copy_800x561-129x85.jpg)





![Jajaran pengurus Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Sumatera Selatan [SMSI Sumsel] tancap gas persiapan perhelatan Musyawarah Wilayah [Muswil] SMSI Sumsel 2026 dengan resmi membentuk panitia penyelenggara.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260516-WA0046_copy_800x561-360x200.jpg)
![Gubernur Sumatera Selatan Dr H Herman Deru bersama Wakil Gubernur Sumsel H Cik Ujang menghadiri pelantikan Pengurus Daerah Persatuan Seniman Komedi Indonesia [PaSKI] Sumsel dan Koordinator Wilayah [Korwil] PaSKI se-Sumsel periode 2026–2030 di Griya Agung, Kamis 14 Mei 2026, sore.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/05/IMG-20260515-WA0013_copy_4160x2697-360x200.jpg)
