Kebungson, Gresik
“Ayo biyung dilanjut lagi ceritanya!” Jaka Samudera mengingatkan kembali Nyai Ageng Pinatih untuk melanjutkan ceritanya yang terputus. Ia sangat penasaran dengan kisah masa lalu sosok perempuan yang hebat di hadapannya saat ini. “Kamu masih mau mendengarkan Jaka?” Nyai Ageng Pinatih membalas tatapan Jaka Samudera dengan senyuman yang ramah dan bersahaja.
“Masih dong biyung!” Jaka Samudera menopangkan dagunya di atas telapak tangan. Pikiran dan pendengarannya benar-benar disiapkan untuk mendengarkan kisah petualangan perempuan paruh baya yang cukup disegani di seantero kota Gresik itu. Suara derap langkah kaki kuda terdengar berirama di atas jalan tanah merah.
Ketukannya hampir seirama dengan detak jantung yang berdebar di dalam dada Nyai Ageng Pinatih. Gemeretak tanah keras yang hancur terlindas roda kereta, menjadi penanda perempuan berhidung mancung itu untuk segera mulai menceritakan kisah masa kecilnya kembali. “A Pa sudah ikut kapal dagang jauh lebih dulu sebelum Kaisar Ming berdiri.” Nyai Ageng Pinatih mulai bercerita. Suara perempuan berhidung mancung itu terdengar jelas meski derap suara kaki kuda beradu dengan putaran roda kereta yang berderak-derak di atas tanah merah.
“A Pa dulu berlayar melewati negeri Joseon, Campa, Siam, Kamboja, Jawa sampai akhirnya menetap di Palembang.” “Pada awal kekaisaran Ming, penduduk Tiongkok sangat tidak mudah merantau menyebrangi lautan jika tidak mendapat izin dari Kaisar.” “Banyaknya perompak-perompak yang mengganggu perjalanan kapal di Samudera Barat juga mempengaruhi perantau-perantau di negeri orang sehingga tidak bisa kembali pulang.
Karena itulah, mereka akhirnya membangun perkampungan-perkampungan baru, membangun pusat ekonomi serta membangun jaringan distribusi barang antar pelabuhan. “Apakah A Pa termasuk yang tidak bisa pulang saat itu?” Jaka Samudera memotong cerita Nyai Ageng Pinatih. “Iya, semenjak saat itu A Pa bersama paman Liang hanya berlayar di sumatera dan Jawa.” Nyai Ageng Pinatih menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mengenang sosok ayahnya yang tinggi besar. Pemilik pelukan sehangat matahari itu kembali muncul dalam ingatannya.
Memaksa perempuan berhidung mancung itu melempar pandangannya ke arah lembayung senja yang kian tua untuk menghilangkan kerinduannya. Di persimpangan alun-alun desa, Badra membelokkan laju kereta kuda ke arah Kebungson, sebuah kawasan perkampungan Prahara di Pulau Maspari | 38 tempat Nyai Ageng Pinatih hidup menetap sepulangnya dari menimba ilmu agama kepada Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah di Ampeldenta.
Masyarakat perkampungan Kebungson banyak yang berprofesi sebagai pedagang. Ada yang bekerja di pelabuhan Gresik, dan sebagiannya lagi tetap mengurus ladang dan hewan potong yang diternakkan tidak jauh dari kawasan perkampungan. Biasanya, menjelang sore hari seperti saat ini, masyarakat kampung banyak berkumpul bersama keluarga masing-masing di depan balai rumah.
Apalagi jika memasuki malam purnama, suasana perkampungan berubah ramai oleh anak-anak kecil yang bermain bersama-sama di pinggir jalan. Para orang tua akan menemani anak-anaknya bermain sembari berkumpul di depan balai rumah. Semenjak kedatangan Nyai Ageng Pinatih di perkampungan Kebungson, ada kebiasaan baru pada malam selasa dan jumat selepas sholat Isya. Masyarakat kampung berbondong-bondong ke tempat kediaman Nyai Ageng Pinatih.
Pada malam-malam itu, mereka hingga malam mendengarkan syiar agama, mengikuti pengkajian hadits serta mengupas ilmu fiqih di ruang pendopo depan. “Assalamualaikum Nyai!” Tiga orang lelaki di pinggir jalan memberi salam kepada Nyai Ageng Pinatih. Ketiganya menundukkan kepala penuh hormat saat berpapasan dengan kereta kuda yang membawa Jaka Samudera dan ibu angkatnya.
Dari dalam kereta, Jaka Samudera melihat sikap perempuan yang sangat dihormatinya itu menjawab salam dengan sikap yang ramah dan sangat bersahaja. Pribadi yang berbudi pekerti luhur nampak sangat jelas diperlihatkan Nyai Ageng Pinatih kepada dirinya saat itu juga. Sikap yang tulus dan tetap rendah hati seperti inilah yang membentuk karakternya hingga saat ini. Jaka Samudera merasa iri dengan budi pekerti yang dimiliki ibu angkatnya.
Tidak lama berselang, laju kereta kuda terasa melambat. Hingga akhirnya Badra menghentikan kereta kuda di depan rumah kayu dengan tembok bata merah setinggi pinggang dewasa. Sebuah gapura setinggi satu meter menyambut kedatangan Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera yang baru saja turun dari tangga kereta kuda. “Saya izin pamit kembali ke pelabuhan lagi ya Nyai,” Badra berpamitan dengan sikap hormat. “Silahkan Badra. Terima kasih sudah mengantarkan kami berdua tiba di rumah.” Nyai Ageng Pinatih mengangguk dalam-dalam.
“Tidak apa-apa Nyai, ini memang sudah menjadi kewajiban saya.” Badra membungkukkan punggungnya sedikit lebih rendah. “Insyaa Allah setelah subuh saya akan kembali ke sini. “Iya Badra, maaf ya jadi merepotkan.” Jaka Samudera kembali dibuat segan atas sikap perempuan paruh baya di hadapannya. Meski Badra bekerja sebagai juru kereta kuda, namun ucapan serta sikap santun ibu angkatnya kepada paman berkumis tipis itu sama sekali tidak memperlihatkan ada jarak antara majikan dan seorang bawahan.
Kejadian seperti ini bukan hanya hari ini ditemui oleh Jaka Samudera. Juga tidak juga hanya sebatas kepada paman Badra Nyai Ageng Pinatih bersikap ramah. Ia kerap melihat biyungnya itu selalu bersikap ramah di segala tempat serta kepada orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Prahara di Pulau Maspari | 40 “Saya izin pamit Nyai, Aden Jaka, Assalamualaikum!” Badra merundukkan kepalanya kepada Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera.
“Waalaikumsalam,” Nyai Ageng Pinatih membalas salam sang juru kereta kuda sembari merangkul hangat pundak telanjang Jaka Samudera. Suara derak roda kayu dari kereta kuda kembali terdengar. Suara hentakan kaki-kaki kuda yang berlari cepat menuju persimpangan alun-alun desa dan pelabuhan Gresik perlahan mulai tersapu bayang-bayang senja. Untuk sesaat, Jaka Samudera menikmati pemandangan kereta kuda yang berlari ke arah matahari tenggelam.
Kereta dan paman Badra kini hanya membentuk garis bayangan hitam yang semakin lama semakin mengecil dan hilang di balik persimpangan jalan. “Ayo Jaka, kita masuk ke dalam!” Nyai Ageng Pinatih mengajak Jaka Samudera melewati lorong gapura utama. “Baik biyung.” Jaka Samudera mengiringi langkah kaki ibu angkatnya masuk ke dalam pekarangan, melewati pendopo dan tiang-tiang kayu yang kokoh menopang atap rumah. Meski rumah kediaman Nyai Ageng Pinatih nampak sederhana, namun ukiran kayu jati dengan corak dan pahatan yang indah.
Siapapun yang melihat, akan terkagum-kagum dibuatnya. Setelah melewati pendopo besar di depan pekarangan rumah, Jaka Samudera teringat kembali dengan cerita biyungnya yang belum selesai di dengarnya. “Biyung, kelanjutan cerita yang tadi bagaimana?” Prahara di Pulau Maspari | 41 Nyai Ageng Pinatih mengangkat alis kirinya. Senyuman lebar menguar dengan indah dari balik bibir tipisnya yang merona merah.
“Kita lanjutkan setelah sholat Isya ya Jaka. Sekarang, kamu bersih-bersih dulu. Setelah sholat Isya biyung janji akan melanjutkan ceritanya. “Bener ya biyung!?” Jaka Samudera berusaha meyakinkan jawaban ibu angkatnya. Nyai Ageng Pinatih menganggukkan kepala sembari melemparkan senyum. “Iya bener!” “Ya udah mandi dulu. Sebentar lagi masuk waktu maghrib. Kita sholat berjamaah di dalam.”
“Baik biyung. Jaka pamit ke belakang!” Jaka Samudera bergegas menuju bagian belakang rumah. Memutar dari arah samping pendopo, lalu menghilang di balik dinding kayu hitam berukiran rumit di bagian atap jendelanya. Begitu juga dengan Nyai Ageng Pinatih. Usai mengucap salam, tangan kanannya mendorong pelan sepasang daun pintu di hadapannya.
Malam mulai merambat menggantikan senja. Gelap yang merayap dalam sekejap sirna tergantikan oleh cahaya lampu-lampu minyak jarak. Tidak lama berselang, kumandang suara adzan sayupsayup terdengar mengayun merdu dari beberapa sudut perkampungan. Matahari kini telah tenggelam dengan sempurna di atas pembaringannya, berganti dengan malam yang berselimut cahaya perak sang dewi malam.





![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-225x129.jpg)

![Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] resmi memulai Uji Kelayakan dan Kepatuhan [UKK] bagi calon ketua Dewan Pengurus Cabang [DPC] se-Sumatera Selatan, Kamis 30 April 2026](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0056_copy_800x483-225x129.jpg)



![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-129x85.jpg)

![Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] resmi memulai Uji Kelayakan dan Kepatuhan [UKK] bagi calon ketua Dewan Pengurus Cabang [DPC] se-Sumatera Selatan, Kamis 30 April 2026](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0056_copy_800x483-129x85.jpg)


![Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru saat menghadiri Kejuaraan Daerah Special Olympics Indonesia [SOIna] 2026 tingkat SLB se-Sumsel yang berlangsung di SLB Negeri Pembina, Kamis 30 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0071_copy_2080x1091-360x200.jpg)

![Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Dr Drs H Edward Candra MH, menghadiri gala dinner dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-107 Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, HUT ke-76 Satuan Polisi Pamong Praja, serta HUT ke-64 Satuan Perlindungan Masyarakat [Linmas] Tahun 2026 di Dining Hall Jakabaring Sport City, Palembang, Rabu 29 April 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260430-WA0044_copy_800x488-360x200.jpg)
