Prahara di Pulau Maspari: Jejak Prahara

Prahara di Pulau Maspari: Jejak Prahara
Prahara di Pulau Maspari: Jejak Prahara

Pesisir Pantai Gresik, Jawa Timur

by Agus Sulaiman SE & Rohadi Wijaya

banner 468x60

HAMPARAN pasir hitam menuju pelabuhan gresik nampak semakin berwarna kelam seiring pudarnya sinar matahari di garis cakrawala senja. Matahari yang hampir tiba di ufuk barat membuat jejak-jejak kaki di atas pasir nyaris tak terlihat.

Hanya bayangan Nyai Ageng dan Jaka Samudera yang terlihat sedikit lebih panjang dari tubuh mereka di atas bibir pantai. Bayangan hitam yang nyaris pudar, menemani langkah-langkah kaki mereka menuju bangunan bata merah di depan dermaga pelabuhan. Semilir angin bertiup ke arah laut. Bocah lelaki berikat kepala batik Lasem itu mulai asyik melompat dan menari lincah di atas pasir hitam. Sepasang bibirnya mendendangkan dengan riang nada tak bersyair.

Aroma garam yang menyeruak di tengah deburan ombak, semakin membuatnya asyik berdendang dan melompat riang. Lain halnya dengan Nyai Ageng Pinatih. Perempuan paruh baya itu berjalan dengan langkah gamang. Pikirannya kembali melayang seperti kapas yang diombang-ambing angin laut. Butiran pasir yang menyentuh telapak kakinya terasa seperti lantai berduri yang menusuk hingga jantung. Rasa rindu yang merantai lorong hatinya selama ini, telah menjalar dengan liar hingga ujung kepala. Begitu juga desiran darah yang saling berkejaran di pembuluh nadinya, buah rindu yang tengah disemainya saat ini, memacu rasa getir yang teramat pahit hingga di ujung lidah.

“Duhai Tuhan Sang Maha Pengatur Hati. Bolehkah hambaMu ini mengikis kelam yang terus merambat hingga ujung nadi?” Nyai Agung Pinatih menyapu wajahnya dengan telapak tangan. Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan-pelan udara dengan bibir merahnya yang basah. Ia berharap, segala beban yang membatu di hatinya akan ikut hanyut keluar. Namun, yang dapat dirasakan perempuan paruh baya itu hanyalah langkahlangkah kaki yang kian gontai.

“Ayo biyung, dilanjutkan lagi ceritanya!” Jaka Samudera menyambut langkah gontai perempuan berhidung mancung itu dengan suara lembut. Tangannya dengan cepat merangkul lengan Nyai Ageng Pinatih agar berjalan sejajar dengan langkah kakinya. Tingkah manja Jaka Samudera berhasil memaksa Nyai Ageng Pinatih kembali tersenyum. “Iya.. iya. Biyung lanjut lagi ceritanya.”

“Asyik!!” “Tadi cerita biyung sampai mana?” Nyi Ageng Pinatih menatap wajah polos Jaka Samudera. Bocah lelaki dua belas tahun itu mendongakkan kepala sambil memutar-mutar sepasang biji bola matanya. Jaka Samudera mencoba mengingat kalimat terakhir sang ibunda saat berada di atas gugusan batu karang. “mmmm.. sampai..” Jaka Samudera menggaruk-garuk ujung kening untuk memancing kembali ingatannya. “anu.., sampai Jaka dijewer sama biyung!”

Nyai Ageng Pinatih dibuat tertawa kecil oleh Jaka Samudera. Jawaban polos bocah beranjak remaja itu membuat Nyai Ageng Pinatih tersadar. Saat ini Tuhan sedang memberikan jawaban yang selama ini ia pintakan dalam setiap bait doanya. Sudah belasan hari perempuan berhidung mancung itu terus memohon kepada Sang Maha Pencipta agar diberikan jawaban untuk meringankan rindu dan luka di masa kecilnya.

Hari ini, Nyai Ageng Pinatih baru menyadari hikmah jawaban dari doa-doanya. Ternyata, anak lelaki yang tengah bergelayut manja di lengan kanannya saat ini adalah perantara dari Tuhan untuk menghapus beban-beban dukanya. “Jaka tahu tidak, semua orang pasti pernah melewati masa kecil seperti Jaka sekarang?” Nyai Ageng Pinatih mengusap-usap punggung Jaka Samudera.

“Begitu juga biyung. Masa kecil biyung begitu hangat. Sehangat matahari pagi yang berlimpah cahaya kasih sayang.” Nyai Ageng Pinatih melangkahkan kakinya kembali menyusuri hamparan pasir hitam. Ia tetap membiarkan Jaka Samudera bergelayut manja di lengannya. “Sama seperti Jaka yang disayangi biyung?” Jaka Samudera mendongakkan kepala. Mata cokelatnya mencari-cari jawaban di pelupuk mata ibu angkatnya.

Nyai Agung pinatih menganggukkan kepala dengan pelan. Gerakannya terlihat anggun di mata Jaka Samudera. “Iya. Sama seperti Jaka.” “Wah… ceritain dong biyung!” Jaka Samudera menarik manja lengan perempuan paruh baya di sampingnya. Sinar matanya seperti percikan api yang menyulut tungku pembakaran. Nyai Ageng Pinatih menarik nafasnya dalam-dalam. Untuk sesaat dia terdiam. Sel-sel jaringan di kepalanya berpacu cepat, satu persatu kepingan peristiwa meluncur jatuh ke dalam lubang ingatan, menggali kembali kenangan-kenangan yang telah dikuburnya sejak puluhan tahun yang lalu.

“Yang masih biyung ingat, adalah saat biyung pergi ikut berlayar bersama A Pa.” Nyai Ageng Pinatih mulai menuturkan kisah masa kecilnya bersama sosok ayah kandungnya yang teramat dikagumi dan dirindukannya hingga kini. “Saat itu biyung masih berumur dua belas tahun. Dari GhuangZhou, kami bertiga ikut kapal dagang milik A Pa menuju Selat Malaka.”

Nyai Ageng Pinatih menarik nafas pelan. Hembusan nafasnya begitu pelan, nyaris tersamarkan oleh hembusan angin laut yang meniup pelan. “Pelayaran kami begitu menyenangkan, karena banyak menyinggahi kota-kota pelabuhan. Berjumpa dengan banyak masyarakat, juga sahabat A Pa yang telah lama menetap di tanah perantauan.” “Wah.. pantas biyung sangat mengerti tentang berdagang dan berlayar!” Jaka Samudera menyela dengan ekspresi wajah penuh takjub. “Biyung banyak belajar dari A Pa. Selain berdakwah, beliau juga pedagang yang tekun hingga menjadi saudagar di pelabuhan Palembang.”

Nyai Agung Pinatih menatap bangunan batu bata merah yang tinggal berjarak dua puluh langkah dari tempat mereka berdua saat ini. Di depan bangunan beratap ijuk itu, Syahbandar pelabuhan itu mendapati seorang lelaki berkumis tipis sudah menunggu keduanya dengan sikap yang penuh hormat. Tubuh kekarnya bersembunyi di balik kain pakaian berwarna cokelat tanah. Rambut panjangnya dibiarkan jatuh bergerai di atas bahu.

Sebuah pisau beladu nampak menyembul dari balik kain ikat pinggang berwarna hitam. Gagang pisau dari kayu jati, diukir dengan sangat sederhana. Sesederhana cara berpakaian seorang pengendali kereta kuda. “Assalamualaikum Nyai!” Lelaki berkumis tipis menyapa sembari membungkukkan setengah punggungnya. Sepasang kuda berwarna cokelat dan hitam meringkik pelan di depan kereta kuda yang akan ditariknya. “Waalaikumsalam paman Badra!” Nyai Ageng Pinatih dan Jaka Samudera menjawab salam hampir bersamaan.

“Paman sudah lama menunggu?” Nyai Ageng Pinatih melepaskan senyum ramahnya. “Belum lama nyai.” Lelaki bernama Badra menggelengkan kepalanya pelan. “Apakah Nyai sama Raden mau langsung saya anter pulang?” Nyai Agung Pinatih mengangguk. “Iya Badra. Kita langsung pulang saja.” “Silahkan Nyai.” Badra menurunkan bagian belakang kereta kayu jati itu dengan sangat hati-hati. Matanya mengawasi gerakan demi gerakan yang dilakukan dua orang majikannya.

Tangannya terus berjaga-jaga agar tidak ada yang terpeleset jatuh saat menaikkan kakinya ke atas kereta kuda. “Mangga Aden!” Badra mempersilahkan Jaka Samudera naik. Menyusul Nyai Ageng Pinatih yang telah lebih dulu duduk di atas kursi kereta. Jaka Samudera naik dengan gerakan setengah melompat. Sambil tersenyum riang, bocah lelaki itu memilih duduk berhadapan dengan ibu angkatnya.

Sengaja ia melakukan itu agar bisa kembali mendengarkan cerita masa kecil Nyai Ageng Pinatih. “Hiyah!” Badra menggubris sepasang kuda di hadapannya dengan ayunan tali kekang di kedua tangannya. Roda kereta pun mulai berputar pelan meninggalkan dermaga pelabuhan. Sebelum mencapai persimpangan jalan, Jaka Samudera menoleh ke arah dermaga.

Dari kejauhan, ia mendapati tiang-tiang layar dan bangunan batu bata di sepanjang pelabuhan telah menjadi bayangan hitam berlatar belakang warna jingga, dan tanda-tanda sang surya yang sudah beranjak hampir tiba di peraduannya.