“A Pa datang ke kapal dan mencari tahu keberadaan biyung. Pada malam peristiwa itu, A Pa tidak bisa tidur saat mengetahui biyung tidak ikut bersama Ji sun dan Ban Ci pindah dari kapal yang dijadikan umpan para perompak.” “A Pa mencari-cari biyung di antara tumpukan mayat.” Jaka Samudera bisa membayangkan kepedihan yang dirasakan Shi Jin Qing saat itu. “Setelah lelah mencari dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan biyung, A Pa menangis sedih.
Ia merasa bersalah karena mengajak biyung dalam pelayaran yang berbahaya itu.” Mata Nyai Ageng Pinatih mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan rasa haru mengenang peristiwa pada hari itu. “Ketika biyung sadarkan diri, dan merangkak keluar dari balik mayat seorang prajurit, A Pa langsung bergegas memeluk biyung. Ia menangis terharu melihat biyung yang tidak sanggup lagi berbicara akibat trauma dan rasa takut.” “Bagaimana perasaan biyung begitu melihat wajah A Pa?” “Tentu sangat senang.
Biyung merasa itu adalah mimpi terindah selama hidup biyung.” Nyai Ageng Pinatih tersenyum lebar. Kenangan yang sulit dilupakannya itu membuat wajah putih lobaknya semakin cerah di bawah sinar lampu. Untuk sesaat, saudagar Gresik itu hanyut terbawa kebahagiaan masa kecilnya. “Lalu, bagaimana nasibnya Chen Zhuyi setelah ditangkap Laksamana?”
Syahbandar Gresik itu mengembangkan senyumnya mendengar Jaka Samudera masih penasaran dengan nasib pimpinan perompak Selat Malaka. “Pimpinan perompak dan dua orang terdekatnya itu dipulangkan ke Tiongkok untuk menjalani hukuman. Laksamana Cheng Ho juga menyita dua stempel perunggu milik Chen Zhuyi yang menjadi simbol kekuasaan tertinggi gerombolan perompak di Selat Malaka.”
Jaka Samudera mengangguk-anggukkan kepala. Ada hikmah yang ia dapat dari kisah masa kecil ibunya. Mulai dari strategi perang, bagaimana menjadi pemimpin, hingga sikap yang adil bijaksana terhadap orang lain, termasuk pada musuh yang ada di depan mata. “Lalu bagaimaa dengan harta-harta yang sudah dirampas para perompak itu biyung?” Prahara di Pulau Maspari | 156 “Biyung tidak begitu mengetahui perihal itu.
Tetapi ada beberapa cerita mengabarkan harta-harta itu disita dan dikembalikan kepada pemiliknya, khususnya benda-benda berharga yang menjadi benda pusaka kerajaan,” “Tetapi ada juga kabar burung bahwa harta-harta itu masih ada dan disembunyikan sisa-sisa anggota perompak yang melarikan diri. Terdengar kabar, kapal yang membawa pusaka turun temurun kedatuan Sriwijaya itu terkena badai di perairan Pulau Maspari.”
Jaka Samudera menyimak penjelasan panjang lebar ibu angkatnya. Wajah lugunya begitu serius mendengar kalimat demi kalimat yang dirangkai sepasang bibir merah Nyai Ageng Pinatih. Dengan sangat antusias, bocah dua belas tahun kembali mendengarkan penuturan biyungnya setelah peristiwa prahara di malam itu. “Atas jasa melaporkan tindakan Chen Zhuyi yang sangat merugikan hubungan perdagangan antar negara, Kaisar Yong Le memberikan penghargaan kepada A Pa dan menunjuk A Pa sebagai duta dagang Tiongkok untuk kerajaan Majapahit.”
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya







![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-225x129.jpg)





![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-129x85.jpg)



![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)

