Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 18:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 14: Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

BAB 14: Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

Kebungson, Gresik Jawa Timur

by Agus Sulaiman SE & Rohadi Wijaya

WIDEAZONE.com | Malam sudah beranjak larut. Hembusan anginpun mulai terasa menggigit. Namun, kisah sebuah prahara di pulau Maspari dituturkan Nyai Ageng Pinatih masih terasa hangat dalam benak Jaka Samudera. Rasa penasaran bocah dua belas tahun itu akhirnya terjawab.

Meski malam ini ia ikut terbawa masuk ke dalam peristiwa penumpasan perompak sadis oleh Laksamana Cheng Ho, namun semua itu justru semakin menambah keinginannya untuk menjadi seseorang yang berpengaruh di masa depan.

Jaka Samudera tidak bisa membayangkan apabila yang terjadi pada biyungnya di masa kecil juga terjadi pada dirinya. Tentu ia akan merasa selalu diteror ketakutan dan trauma yang mendalam. Namun, Melihat segala pencapaian yang diperoleh biyungnya sekarang, rasanya sangat mustahil perempuan paruh baya ini dapat mengasah kematangan emosinya jika bukan karena pendidikan dari keluarga serta peran guru-guru yang hebat.

Dalam hati Jaka Samudera, terbetik keinginan untuk bisa mengikuti jejak Nyai Ageng Pinatih. Namun, perasaan ini disimpannya rapat-rapat. Ia sengaja membiarkan waktu yang menjawabnya kelak. “Kamu sedang mikirin apa Jaka, kok jadi melamun?” Nyai Ageng Pinatih mencoba mengusik lamunan putra angkatnya. “Ah, enggak biyung. Anu.. anu..” Jaka Samudera berusaha menyembunyikan suara hatinya. Ia terlalu malu untuk mengakui kekagumannya kepada Nyai Ageng Pinatih. “Anu apa?” Perempuan berhidung mancung itu memancing Jaka Samudera untuk jujur.

“Anu biyung. Bagaimana caranya biyung bertemu kembali dengan A Pa dan adik-adik biyung?” Nyai Ageng Pinatih tertawa kecil. Ia tidak menyangka yang keluar dari mulut Jaka Samudera adalah pertanyaan sederhana namun dengan jawaban yang telah menguras emosinya di hari itu. Perempuan paruh baya itu mencoba menerawang kembali ingatannya. “Ketika hari sudah terang. Para prajurit memeriksa korban yang terluka dan jasad yang berserakan di atas kapal.”

Berita Terkait

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang
Deadline Sebulan! Perwali Tari Sambut Harus Rampung

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Jumat, 5 Desember 2025 - 19:13 WIB

Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah

Berita Terbaru