Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

- Jurnalis

Senin, 1 Mei 2023 - 18:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BAB 14: Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

BAB 14: Prahara di Pulau Maspari: Cermin yang Terbelah

“Jasad prajurit yang gugur pada peristiwa itu di makamkan di antara muara-muara sungai dekat perairan Maspari. Seingat biyung, sungai itu diberi nama sungai Kong, yang berarti sungai kemuliaan sebagai bentuk penghargaan atas jasa para prajurit.” “Laksamana Cheng Ho juga meninggalkan seribu orang prajurit di tanah Palembang untuk berjaga-jaga dari serangan balasan sisasisa perompak selama Laksamana melanjutkan perjalanan muhibah ke pulau Jawa.”

“Semenjak A pa ditunjuk kaisar menjadi duta perdagangan Tiongkok-Majapahit di tanah Palembang. Biyung mulai ikut belajar berdagang dan ikut A Pa menyiarkan agama Islam di bumi Sriwijaya dan Tanah Jawa.” Nyai Ageng Pinatih kemudian menceritakan masa-masa terberatnya saat sosok yang paling dikaguminya itu wafat. “Setelah Kaisar mengirimkan surat perintah penunjukan Ji Sun menggantikan tugas A Pa di Palembang, biyung memilih ke Pulau Jawa, ikut rombongan Ban Ci yang menerima pinangan seorang bangsawan dari Majapahit.” Jaka Samudera menarik nafasnya dalam-dalam.

Ia tidak menyangka di balik sosok biyungnya yang anggun tersimpan banyak kenangan pahit. Dan untuk mengobati rasa kehilangan dan rindu yang teramat dalam kepada sosok ayahnya, wanita yang dikaguminya itu memperdalam ilmu agama kepada Syech Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah di Ampel Denta. Malam ini, Jaka Samudera benar-benar dibuat kagum dengan kisah perjalanan hidup ibu angkatnya.

Perempuan yang masih terlihat kecantikannya itu tetap menyiarkan agama seperti mendiang ayahnya meski telah menjadi seorang syahbandar besar kepercayaan Majapahit di wilayah Gresik. “Tapi kamu harus ingat Jaka, mempelajari ilmu agama saja tidak cukup, kamu harus menyertainya dengan ilmu-ilmu urusan dunia agar Islam benar-benar tegak di bumi ini.”

Baca Juga:  7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

“Jika politik negara tanpa agama, maka negara akan kehilangan kebajikan dalam menentukan segala kebijakan. Jika berdagang tanpa agama, maka kesejahteraan rakyat kecil akan semakin jauh panggang dari api. Masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kamu jadikan untuk engkau iqro, membaca kenyataan untuk diambil hikmah pelajarannya.”

Nyai Ageng Pinatih memberikan nasehat kepada Jaka Samudera seakan-akan hal ini adalah kesimpulan akhir dari perbincangan mereka berdua di malam yang telah semakin larut. “Terima kasih biyung. Jaka akan selalu ingat pesan biyung. Insyaa Allah, Jaka juga akan menimba ilmu ke tempat biyung belajar. Jaka juga ingin memiliki ilmu seperti biyung saat dewasa kelak, dan berusaha untuk membangun tatanan politik negara sesuai nilai-nilai agama.”

Mata Jaka Samudera berbinar-binar. Keinginan hatinya yang besar terucap begitu meyakinkan. “Amiin Ya Robbal Alamin.” Nyai Ageng Pinatih mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di sela-sela malam yang beranjak, perempuan berhidung mancung itu menitipkan doa dan harapan kepada Sang Pencipta agar Jaka Samudera diberi pemahaman ilmu, serta dimudahkan jalan dalam mewujudkan cita-citanya. “Ya sudah, kalau begitu kita istirahat. Jangan sampai subuhnya kesiangan.”

Baca Juga:  7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

“Baik biyung.” Jaka Samudera mengangguk. Kepalanya menunduk, memberi penghormatan yang sangat dalam. Nyai Ageng Pinatih nampak tersenyum puas. Kegundahan hati yang telah sekian lamanya membelenggu, malam ini akhirnya turut sirna mengiringi senyuman lebar Jaka Samudera “Semoga dewasa nanti, engkau bisa menjadi tokoh besar seperti sang Laksamana!” Nyai Ageng Pinatih mengucapkan doanya dalam hati sembari menumpuk cangkir-cangkir tanah liat kosong bekas minuman wedang jahe.

Doa di penghujung malam itu teruntai bersama hembusan pelan angin malam. Embun yang mulai bergelayut turun membuat udara di dalam ruangan terasa dingin dan lembab.

Derit serangga malam yang bermandikan sinar bulan, seakan menjadi pengantar keindahan mimpi bagi Jaka Samudera dan Nyai Ageng Pinatih yang telah berbaring di kamarnya masing-masing. “Dewasa nanti, Aku ingin menjadi seperti biyung dan sang Laksamana!”

Jaka Samudera mengucapkan keinginannya sebelum meniup lampu minyak jarak di tembok ruangan kamar. Putera angkat Nyai Ageng Pinatih itu mencoba merangkai mimpi dan cita-citanya di balik buaian gelap malam. Sinar rembulan yang bersinar terang di atas perkampungan Kebungson, seolah menitipkan pesan kepada alam semesta, bahwa suatu hari nanti akan terlahir tokoh besar di Nusantara dari tanah Gresik.

Berita Terkait

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan
Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel
Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya
Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang
Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta
Pentas PWI Jakarta di Tengah Guyuran Hujan Tetap Meriah
Menbud Fadlizon Buka Pameran Prangko di Kota Tertua: Filateli “King of Hobby”
Catat! Pameran Prangko 20-24 Oktober 2025 Berlangsung di Palembang

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:24 WIB

7 Penjaga Terakhir Warisan Palembang Dilantik, Ratu Dewa: Jangan Sampai Sejarah Tergusur Pembangunan

Rabu, 29 April 2026 - 18:42 WIB

Lawang Borotan Jadi Saksi Gaung Genderang Darussalam KASTA Sumsel

Jumat, 24 April 2026 - 20:58 WIB

Sekda Sumsel Edward Candra Buka Sumsel Budaya Run 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Pelestarian Budaya

Rabu, 18 Maret 2026 - 23:24 WIB

Forwida Sumsel Protes Penggunaan Gandik dalam Lomba Lari di Palembang

Senin, 29 Desember 2025 - 07:22 WIB

Gelar Konser Amal, Seniman Palembang Himpun Rp6,5 Juta

Berita Terbaru