Selain itu, dia menyebutkan minimnya data yang tersedia juga masih menjadi kendala dalam mengkaji lebih lanjut mengenai kemunculan pulau tersebut. Supartoyo mengatakan bahwa kemungkinan bisa terdapat di tiga jenis hipotesis tersebut.
“Itu bisa semuanya sih, jadi sekali lagi tergantung kepada data. Kalau saya ditanya, ya saya bisa menjawab ketiganya itu bisa ya,” ungkap Supartoyo.
Sementara Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menjelaskan peristiwa itu adalah fenomena alam biasa. Kemunculan pulau tersebut disebut sebagai mud volcano.
“Sebenarnya peristiwa alam semacam ini merupakan fenomena alam biasa yang dikenal dengan istilah kemunculan gunung lumpur yang populer disebut sebagai ‘mud volcano’,” kata Daryono.
Daryono menjelaskan fenomena itu pernah terjadi di beberapa wilayah lain. Misalnya Gempa Ormara Makran berkekuatan M 8,1 (28 November 1945), Gempa Niikappu Jepang M 8,6 (4 Maret 1952), dan Gempa Gobi Altay Mongolia dengan M 8,3 (4 Desember 1957).
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya



















