MENGUNGKAP perasaan atau membicarakan sebuah persoalan lewat bahasa oral kepada banyak orang, sepertinya gampang-gampang susah. Mengapa begitu? Gampang lantaran kita hanya mengutarakan apa saja yang hendak kita ucapkan ke orang lain. Itu artinya, kita tinggal mengucapkan sepotong hasrat lewat kata-kata. Selepas itu seseorang atau banyak orang akan mengerti apa yang kita maksudkan.
Tapi, apakah semudah itu ketika seseorang ditunjuk sebagai pemandu acara yang disebut master of ceremony dapat berbicara lancar seperti kita mengucapkan kata cinta kepada seorang kekasih? Wow, jawabnya belum tentu.
Berhadapan dengan orang banyak, terkadang membuat mental seseorang akan anjlok sebelum ia dapat mengutarakan sesuatu (penyampaian hasrat). Akibatnya kita hanya mampu berdiri dengan perasaan kacau dan mental yang tidak karuan. Kondisi itu disebabkan oleh gejolak pikiran dan perasaan yang tidak seimbang.
Di sisi lain pikiran yang sudah sarat dengan pokok bahasan harus cepat disampaikan, namun keberanian untuk menterjemahkan itu ternyata tidak siap, sehingga detak emosionalnya memunculkan mental yang grogi, ragu-ragu, dan mengakibatkan keseimbangan pikiran dan mentalitasnya menjadi kacau (baca:ciut).
Kebiasaan Berdebat:

Dalam konteks itu, Guru Besar Rijks-Universiteit Utrech, Dr Heinrich T. Fischer mengatakan, untuk mencetuskan pokok bahasan melalui bahasa oral, bagi banyak orang tidak dapat diutarakan secara serta merta.
Orang yang dapat melakukan itu karena mereka sudah terbiasa dan teruji dalam membidangi aspek oralitas. Seperti Bung Karno (proklamator RI), misalnya, ia memang seorang orator ulung yang pikiran dan mentalitasnya sudah menyatu dalam kekuatan perasaannya. Tak heran apabila kesiapan pribadinya menghimpun pokok bahasan (menguasai persoalan) sudah demikian tajam, karena ia sudah sangat terlatih untuk selalu menganalisa persoalan yang mencuat ke permukaan.
Sebagai pemuda yang memiliki jiwa kebangsaan, Soekarno gemar berorganisasi. Guru pertama yang mengajarkan ia agar berani tampil di depan adalah H Agus Salim. Orangtua yang mendapat julukan dari Pemerintah Belanda sebagai ‘’The Old Man’’ itu sangat piawai berbicara dan berdebat soal politik dan kebangsaan. Padahal latar belakang pendidikan formal seorang H Agus Salim tidak lebih dari tamatan sekolah agama setara dengan kelas enam Es-De.
Tiap kali H Agus Salim berbicara cerdas dalam rapat, dan tiap kali orangtua itu terlibat perdebatan sengit soal politik dengan pihak Belanda, menjadi perhatian Soekarno. Maka secara diam-diam pemuda Soekarno belajar banyak dari cara ungkap oralitas seorang H Agus Salim.
Dari sanalah Bung Karno mulai memacu dirinya untuk menjadi manusia yang selalu tampil ke depan, dengan muatan pikiran yang bebobot serta mampu ia ungkap dalam bahasa oral. Tak heran jika presiden pertama RI itu mampu berbicara dalam suasana yang dapat membangkitkan emosional audiens.
Jika dicermati, secara tradisi seorang Soekarno lahir dari kultur Jawa yang selalu manut kepada ucapan orang tua. Dalam kehidupan tradisi Jawa, posisi orangtua selalu berada dalam garis yang benar dan patut dihormati. Persoalan apa yang dibicarakan orangtua harus dipatuhi untuk dijadikan bahan pembelajaran. Padahal sebagai manusia biasa, orangtua kita pun tidak luput dari khilaf dan salah.
Akibatnya, karena ‘’terbiasa’’ dengan sikap manut dan patuh kepada orangtua, maka tidak sedikit dari mereka yang kurang pandai mengungkap pikiran dan perasaannya ke dalam bahasa oral.
Namun bagi seorang Soekarno, kebiasaan seperti itu tidak berlaku dalam kehidupan sehari-harinya. Meski ia lahir dari latar belakang kultur Jawa, tapi karena dalam pergaulannya banyak menyerap pengalaman dengan guru cerdas seperti H Agus Salim dan H Oemar Said Tjokroaminoto, maka dalam strata pendidikan di Stovia ia terbiasa melakukan debat untuk mempertahankan pendapatnya (halaman 10 buku Inleiding Tot De Culturele Anthtopologie Van Indonesie terbitan De Erven F. Bohn NV Haarlem 1953).
Karena itu, untuk menjadi orang yang pandai berbicara di hadapan audiens (public speaking), kuncinya adalah belajar menguasai persoalan dan mengatur emosional pribadi (mental-spiritual).
Menguasai Persoalan:

Bagaimana cara seseorang menguasai persoalan yang sedang berkembang dan banyak dibicarakan masyarakat? Untuk memahami itu memang gampang-gampang susah.
Mengapa begitu? Iya, dong. Jika kita belum mendapat rumusan untuk memahami sebuah persoalan, posisi kita seperti berada di daratan yang dibatasi oleh sebuah sungai besar. Di satu sisi kita tidak pandai berenang, tapi pada sudut lainnya kita dituntut untuk bisa menyeberangi sungai itu agar tiba di seberang sana.
Apa yang harus kita lakukan untuk tiba di seberang sana? Yang pasti, kuncinya kita harus belajar berenang. Nah, begitu pun dengan upaya mengungkap isi pikiran (pokok bahasan) kita perlu mengatasi perasaan diri sendiri. Sebab, secara psikis (mentalitas), keberanian dan tertatanya susunan emosi seseorang akan muncul dari gejolak perasaannya.
Dalam diri manusia terdapat emosi. Emosi ini tergelitik karena sentuhan perasaan. Maka itu ketika perasaan seseorang tersentuh oleh gejolak suasana, emosinya akan bergolak dalam takaran tertentu. Tak heran ketika sentuhan emosi itu tergelitik akan muncul rasa marah, geli, sedih, gembira, kecewa, dan ada keinginan untuk menggapai sesuatu (hasrat).
Yang perlu kita selaraskan dalam kaitan itu adalah bagaimana kita mampu mengalokasikan pikiran (latar belakang pendidikan), latar belakang pengalaman, serta tingkat kematangan usia. Tiga unsur tingkatan dapat mengemaskan emosi kita (keberanian seseorang) menjadi sebuah karya yang terungkap melalui bahasa lisan yang baik.
Caranya bagaimana? Wah, gampang. Siapapun dapat melakukan itu. Meskipun caranya gampang-gampang susah, tapi melalui pembelajaran kontinyu akhirnya kita dapat melakukan public speaking yang baik di depan banyak orang.
Menjajal Keberanian:

Secara mental, keberanian seseorang tak akan berkembang jika tidak dimunculkan melalui proses latihan. Sebab, hal terpenting menjajal keberanian kita untuk tampil di depan umum harus terus dilatih secara kontinyu.
Seniman teater Nano N. Riantiarno mengatakan, kekuatan seorang aktor untuk menterjemahkan cerita yang diusungnya selalu dilakukan dengan kekuatan bentuk oral (ucapan) dan gerakan tubuh yang benar. Karena itu pekerja teater selalu melatih artikulasi (daya ucap) melalui gerak oral yang benar. Dengan begitu, ketika mereka berbicara (berdialog) menyampaikan contens cerita sebuah naskah kepada lawan mainnya, mereka memperlihatkan kemampuan maksimal dengan kesan yang amat tegar, lugas, dan cerdas.
Pada dasarnya, seorang pembawa acara (MC), penyiar radio, atau menjadi pembicara dalam kegiatan apapun, kerjanya nyaris sama dengan seorang aktor monolog di panggung. Ngoceh, berbicara nyerocos, serta melisankan pokok bahasan kepada audiensnya.
Bedanya, jika aktor monolog menyampaikan cerita untuk mengemas tampilannya sebagai tontonan, seorang pembawa acara, secara faktual mampu menyampaikan persoalan kepada orang banyak.
Mengapa seorang aktor mampu menyampaikan perasaannya (isi cerita naskah) secara metodologi kepada penontonnya? Karena si aktor sudah menguasai jalan cerita melalui proses latihan. Meskipun demikian, keberhasilan si aktor bermain di panggung karena kematangan latihan dasarnya sebelum melakukan pementasan.
Latihan Dasar:

Apa maksud latihan dasar? Latihan dasar adalah suatu kegiatan sehari-hari untuk penguasaan diri dalam menghimpun persoalan (pokok bahasan). Selain itu, untuk memunculkan keberanian personal, kita perlu melakukan meditasi secara kolektif. Dengan cara bersama-sama kita akan terbiasa untuk mengungkap perasaan kepada teman-teman dalam sebuah kelompok (grup atau organisasi).








![Semarak hari lahir [Harlah] ke-28, DPW Partai Kebangkitan Bangsa Sumatera Selatan [PKB Sumsel] mengelontorkan 1250 karung beras bagi anak yatim piatu di panti asuhan hingga nonton bareng piala dunia [nobar pildun] 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/07/IMG-20260719-WA0001-225x129.jpg)








![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)

