MEMPEROLEH apresiasi dari Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan Aufa Syahrizal SP MSc bahwa kegiatan lomba cerdas cermat bidang permuseuman di Museum Balaputra Dewa Sumatera Selatan adalah ide cemerlang, sesuatu yang membanggakan.
Kepala Museum Balaputra Dewa H Chandra Amprayadi SH, mengatakan bangga atas apresiasi yang diungkap Aufa.
“Saya sangat berterima kasih dengan Pak Aufa yang telah memberikan apresiasinya ke pada kami dan semua panitia lomba,” ujar Chandra saat wawancara eksklusif dengan Wideazone.com, di ruang kerjanya, Rabu (31/7/2019).
Memang, kata Chandra, pihaknya menggelar lomba cerdas cermat ini diarahkan bagi anak-anak sekolah menengah pertama (SMP). Sebab para pelajar seusia ini masih dalam tahap pencarian identitas.
Karena itu, untuk menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan permuseuman harus dimulai dari dasar pemikiran anak seusia mereka (SMP).
Sebab melalui lomba cerdas cermat yang digelar pihak Museum Balaputra Dewa, diharapkan dapat membangun semangat dan minat siswa untuk belajar memahami sejarah, kebudayaan dan permuseuman.
“Di museum, banyak terdapat benda-benda cagar budaya yang memyimpan tradisi dan kearifan masa lalu. Karena itu, kita berusaha sekuat tenaga untuk mengajak para pelajar agar gemar mempelajari sejarah permuseuman. Paling tidak, anak-anak ini akan gemar berkunjung ke museum,” ujar Chandra.

Sebab dari benda-benda bersejarah yang ada di museum Balaputra Dewa dapat memberi nilai pengetahuan terkait tingginya nilai peradaban masa lalu bangsa Indonesia.
Sesuai temanya “Membangun Generasi Muda yang Berkarakter dan Berwawasan Budaya” , kata Chandra, lomba cerdas cermat sejarah permuseuman ini sangat peka untuk menggugah anak-anak muda dan guru sejarah untuk berkunjung ke museum.
Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, para pelajar dan guru jarang sekali berkunjung ke Museum Balaputra Dewa. Ketika ditanyakan langsung ke gurunya, tambah Chandra, para guru mengatakan tidak ada anggaran untuk wisata pengetahuan ke museum.
“Saya prihatin. Untuk belajar sejarah ke museum kok tidak ada anggaran? Ini sesuatu yang memprihatinkan kita,” kata Chandra.
Bahkan sekolah tidak boleh meminta bantuan ke orangtua siswa terkait kegiatan untuk mempelajari sejarah permuseuman.
“Menurut saya, tidak semua orangtua siswa statusnya tidak mampu. Ada juga yang kaya. Jika dibicarakan dengan baik, saya yakin orangtua siswa mau membantu untuk kecerdasan anaknya,” ucap Chandra menutup perbincangan. (abror vandozer/anto narasoma)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-225x129.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-225x129.jpg)




![Forum Keluarga Alumni Universitas PGRI Palembang [FORKA UPGRIP], Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0024-129x85.jpg)
![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-129x85.jpg)




![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)


