Huruf ulu atau di dalam pengetahuan literasi budaya dikenal sebagai huruf Ka Ga Nga, kata Zulfikri, merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan.
“Saya setuju jika program pembelajaran huruf ulu itu dijadikan muatan lokal. Sebab ini akan memberikan efek kecerdasan budaya bagi siswa sekolah,” katanya.
Meski ia belum mahami urutan dan bentuknya, namun Zulfikri sangat apresiatif terhadap adanya gagasan itu.
Selama ini, katanya, para guru hanya mengetahui secata semu tentang huruf tersebut. Karena hanya mengetahui dari apa yang diucapkan orang. Namun ketika ada pelatihan huruf K Ga Nga Sumatera Selatan Zulfikri jadi optimis untuk mendukung Dinas Pendidikan Nasional (Disdiknas) Sumsel untuk mengembangkan dan melestarikan huruf tersebut.
Menurut Zulfikri, Festival Siguntang 2020 yang digelar areal Bukit Siguntang itu menggelar pelatihan huruf ulu. Upaya yang dilakukan pihak Disdikbudpar Sumsel itu sangat tepat. Karena seperti di Jawa, Bali dan Bugis yang memiliki hurut tradisi mereka yang hidup, dapat dicontoh masyarakat Sumatera Selatan.
Apalagi yang mengikuti pelatihan itu pesertanya membludak, ini satu fakta bahwa masyarakat Sumsel benar-benar berkeinginan untuk memahami dan melestarikan warisan budaya tersebut. (Anto Narasoma)



















