Suara Millenial Dalam Pemilu 2019

- Jurnalis

Selasa, 26 Maret 2019 - 08:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi.net

Gambar Ilustrasi.net

PANASNYA suhu politik menjelang Pesta Demokrasi 17 April 2019 mendatang, mencerminkan harapan agar hasil pemilihan umum akan terpilih figur terbaik bagi bangsa ini.

Menjelang Pesta Demokrasi, ada sejumlah upaya pendekatan agar peserta Pemilihan Umum 2019 mendekati kelompok milenial.

Pakar Diplomasi Politik Ir H Ruslan Ismail MM MH menyarankan peserta pemilu agar mengkaloborasikan emosional dan rasional. Sebab pemilih milenial bisa mengubah pilihan politiknya pada tahapan puncak karena memutuskan pilihan berdasarkan pertimbangan emosional dan rasional.

Bangsa Indonesia berharap figur terpilih dapat membuang jauh semua kepentingan pribadi, kelompok atau kepentingan pihak tertentu. Sebab setelah nanti mereka terpilih, kontestan pemilu yang maju ke pelataran politik dan pemerintahan di Indonesia adalah milik kita semua.

Ada tugas berat yang harus dilakukan kontestan pemilu. Pertama, ketika mereka tampil sebagai kontestan pemilu 2019 dapatkah merebut hati kaum milenial, kedua, dapatkan kontestan pemilu melakukan pendekatan secara persuasif (lobi) terhadap suara milenial, Ketiga, dapat mengkaloborasikan emosional dan rasional kaum milenial.

Selain tiu ada beberapa strategi dalam hal pendekatan terhadap kau milenial, dengan musik, olah raga dan film, “ungkap beliau dalam obrolan santai pagi hari, Selasa (26/03/2019).

Kontestan Pemilu harus memiliki visi misi yang baik untuk membangun peradaban bangsa ini. Jadi, apabila saling berhadapan dan mengutarakan visi misi apabila dalam debat, akan muncul celaan atau menganggap diri ini paling baik dibanding orang lain.

Kedua, ketika sudah terpilih menjadi pemegang amanah, figur hendaknya melaksanakan visi misi sesuai corak kampanyenya. Karena pada hakikatnya, isi kampanye yang dilontarkan saat kampanye, bertutur tentang kepentingan rakyat dan negara.

Karena itu wajar andaikan figur tersebut tidak konsekuen dengan visi misi kampanyenya sebelum menjadi pemenang dan pengemban amanah rakyat.

Jika figur terpilih lupa dengan poin-poin visi misi yang harusnya dilaksanakan ketika sudah duduk di kursi puncak pimpinan, rakyat akan melemparkan sejumlah protes.

Sebab, hakikatnya seorang kontestan pesta demokrasi, bukan lagi milik pendukungnya, partai pengusung atau penasihat pribadi, tapi terpilih sebagai pemangku amanah adalah milik rakyat Indonesia.

Ingat, tugas pemangku amanah rakyat ialah harus mampu membangun negeri dengan memajukan prinsip ekonomi kerakyatan dengan stabilitas harga kebutuhan hidup. Ini yang paling berat dilakukan pemangku amanah rakyat yang berada dalam lingkaran pendukung yang memiliki kehendak pribadi untuk memajukan ekonomi rumah tangganya.

Pemangku amanah rakyat harus lebih ingat dengan kepentingan rakyatnya yang telah memberikan suara mereka agar sang figur berhasil meraih kemenangan sebagai Pemegang Kepentingan Rakyat Indonesia 2019-2024. Ini yang patut menjadi ingatan kontestan Pesta Demokrasi 2019.(*)

Berita Terkait

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA
KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?
Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS
Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI
“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho
November, Jabatan Panglima TNI Demisioner, Dua Kandidat Kuat?
Donasi Rp2 Triliun, Menakar Sikap Kesatria Kapolda Sumsel
Spirit Literasi di Ruang Publik

Berita Terkait

Senin, 1 Juli 2024 - 10:47 WIB

Dunia Anak dalam Lukisan AI Denny JA

Jumat, 29 September 2023 - 07:35 WIB

KAPAN Kabut Asap Karhutla Kabur dari Bumi Sriwijaya?

Selasa, 22 Agustus 2023 - 19:44 WIB

Kepengurusan Berakhir, Seniman Gugat DKSS

Jumat, 22 Oktober 2021 - 18:13 WIB

Sosok Santri dan Semangat ANTIKORUPSI

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:00 WIB

“Kemah Bakti Pulau Maspari” Destinasi Hingga Petilasan Cheng Ho

Berita Terbaru