Opini  

MUSIK

Ilustrasi
Ilustrasi

by Anto Narasoma

SECARA estetika, musik merupakan nilai bunyi-bunyian yang membentuk irama, tempo, dan ketentuan bunyi yang tertata secara instrumentalia.

banner 468x60

Jika dicermati, alunan bunyi yang meluncur dari instrumen musik seperti gitar, biola, piano, organ, serta instrumen lainnya menjelaskan tentang ketukan suara (irama) yang menyejukkan hati.

Secara filosifi, sebagian besar orang memandangnya sebagai satu makna bunyi yang tertata apik, serta menyajikan kesejukan dan kegembiraan di hati.

Memang, seni musik merupakan bentuk bunyi-bunyian yang dilakukan sesuai pikiran dan perasaan. Jadi, secara filosofis, musik mampu menghibur dan bisa dijadikan bekal hidup yang sangat berharga bagi para pemusik itu sendiri.

Dari kolaborasi bunyi-bunyian berbagai instrumen, penyajian bunyi dengan irama tertentu, mampu mengungkap perasaan.

Artinya, ketika satu lagu (irama tertata) diciptakan melalui irama tertentu, nada, tempo, melodi, dan harmonisasi musikal, corak iramanya menjelaskan tentang suasana hati penciptanya.

Setidaknya, seperti dikemukakan pianis (musikus) ternama Idris Sardi, membentuk irama dalam strata musik, harus mempu menentramkan pendengarnya.

Seperti irama musik klasik, misalnya, selain ditata dengan irama slow (lamban), dari rangkaian instrumennya mampu membelai (menyejukkan) perasaan terdalam di hati pendengarnya.

Meski demikian, alunan musik tak hanya dibentuk dengan nada-nada berilustrasi sedih saja. Ada genre musik dengan tataran irama menghentak. Di sini, sebagai nuansa irama yang menghibur, para pemusik akan membangun persepsi musikal yang disesuaikan dengan temperamen pendengarnya.

Musik memiliki ragam irama yang bermacam bentuknya. Ada musik slow (lembut), musik berirama keras, cepat, dan menggelegar.

Ada juga musik yang bersifat menghibur, seperti musik pop dan dangdut. Bahkan sebagai ilustrasi yang membuat bunyi-bunyian itu menjadi lebih indah, maka format musiknya ditata dan diilustrasi dengan suara-suara alam, seperti suara air terjun, deburan ombak, embusan angin, dan rintik hujan.

Dari ilistrasi inilah corak musik ini mampu menggiring perasaan pendengarnya, seolah dirinya berada di lingkungan alam terbuka.

Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa musik itu merupakan ungkapa ekspresi jiwa manusia. Karena itu ketika seorang musikus menciptakan irama musik atau lagu, ia ciptakan sesuai pikiran dan perasaannya yang bergejolak saat itu.

Karena itu ketika orang mendengar dan merasakan irama dan syair lagu, sangat membekas di hati pendengar.

Maka tak jarang pula, ketika lagu itu ditulis dan diciptakan oleh pengarannya, lantunan nada dan iramanya terdapat pesan tersembunyi dari penciptanya. Dalam lagu berirama Melayu bertajuk Ratapan Anak Tiri yang diciptakan Mashabi, misalnya, pesan yang disampaikan benar-benar menyentuh perasaan.

Tak hanya lagu itu, lagu-lagu pop berjudul Bing ciptaan Titik Puspa, secara interinsik menjelaskan kesedihan atas meninggalnya seniman besar Bing Slamet.

Dari apa yang disajikan pemusik, nilai estetisnya tentu akan memberi pelajaran berharga bagi pendengarnya.

Jadi, penciptaan musik dan lagu di dalam kehidupan kita sangat esensional bagi jiwa pendengarnya.

Sebab tujuan pemusik untuk menciptakan ilustrasi musiknya, tujuan utamanya adalah untuk memberikan ketenangan hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebab musik yang memberi ketenangan itu umumnya berirama lembut dan tenang.

Sebagai penghibur hati, peran musik mampu menciptakan kegembiraan hati lewat rentak irama yang memikat.

Bahkan ada pula jenis musik yang lebih produktif untuk membangun jiwa pendengarnya. Bahkan produktivitas itu makin terasa setelah mereka menikmati irama yang menyentuh hati, sehingga jiwa seseorang akan penuh dengan perasaan hati yang rhytm and rhym. (*)

Penulis adalah seniman dan wartawan senior