WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Meski Sumatera Selatan memiliki banyak SMA Negeri berkelas Chryler, namun Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan (Disdiknas Sumsel), Widodo kecewa visi misinya sekelas angkutan kota (angkot).
“Harusnya mereka arahkan agar lulusan dari sekolah berkelas Chrysler itu melanjutkan pendidikan tingginya ke Jerman, Amerika atau ke Australia,” ujar Widodo ke pada Wideazone.com, Jumat (25/10/2019).
Menurut dia, banyak orangtua siswa lulusan dari sekolah-sekolah berkelas itu yang mampu melanjutkan pendidikan anaknya ke luar negeri. Namun karena visinya tidak ditumbuhkan dari sejak awal, maka pilihan anak-anak pintar dari keluarga mampu itu hanya sebatas Unsri, UGM, ITB Bandung.
“Saya tidak mengatakan Unsri, UGM, ITB atau perguruan tinggi lainnya tidak bagus. Tapi alangkah bagusnya jika mereka kuliah di luar negeri. Dari sisi biaya, mereka mampu,” tegas Widodo, kecewa.
Terkait Unsri dan perguruan tinggi negeri lainnya, kata Widodo, berikan ke pada anak-anak cerdas dari kalangan warga kebanyakan.
Kuliah di Jerman, katanya, tidak mahal. Perbulan biaya yang harus dikeluarkan hanya sebesar Rp 6 juta. Biaya itu dikalkulasi dengan biaya makan minum selama masa kuliah di sana.
Jika dibanding dengan kuliah di sini, kata Widodo, anak-anak itu menjadi tidak mandiri. “Nah, jika mereka kuliah di Jerman, setidaknya mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak mandiri dan tidak ketergantungan dengan orangtua,” katanya.
Widodo meminta agar pengelola SMA dan SMK negeri harus mampu mengembangkan visi misinya untuk tujuan profesionalisme pendidikan.
Pendidikan di Jerman, katanya, merupakan pendidikan terbaik di dunia. Contoh terbaik bagi satu anak bangsa yang berhasil di Jerman adalah Pak BJ Habibie.
“Apakah kita tidak ingin anak-anak kita nanti bisa seberhasil Pak Habibie di dalam karirnya?” ujar Widodo.
Apabila tidak ke Jerman, katanya, anak-anak dari kalangan mampu bisa kuliah di Australia, Turki atau paling tidak di Singapura.
“Kalau di Jerman biayanya Rp 6 juta, tapi apabila kuuliah di Turki biayanya hanya Ro 4 juta,” ujarnya.
Widodo tidak mengajarkan anak-anak bangsa ini kuliah di luar negeri minded. Tapi dengan belajar di sana, tentu akan memicu para siswa memiliki karakter mandiri dan berinisiatif yang patut menjadi kebanggan.
Menurut Widodo, ia tidak mengajarkan ke anak-anak menjadi keluarnegerian minded. Setidaknya jika kuliah di luar negeri wawasan anak-anak bangsa tidak sempit.
Karena itu Widodo meminta ke pengelola sekolah negeri (SMA dan SMK) tidak sempit berpikir untuk membuka ruang ke pada sisiwanya yang ingin kuliah di luar negeri.
Di SMA Negeri Sumsel, saat ini ada program kuliah ke Universitas Cambridge Amerika. Jika ada keinginan untuk melanjutkan kuliah anaknya ke Cambridge, Widodo menyilakan untuk mendaftar ke sana.
“Kalau ada anak-anak pandai dan cerdas yang orangtuanya tidak mampu, itu urusan saya,” tukas Widodo. (anto narasoma)




![Festival Perahu Bidar Tradisional [gambar Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260817-WA0010-225x129.jpg)





![Festival Perahu Bidar Tradisional [gambar Ist]](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260817-WA0010-129x85.jpg)







![Konferensi Kerja Provinsi [Konkerprov] PGRI Sumatera Selatan I/2026 yang digelar di Ballroom Wyndham OPI Hotel, Jumat 19 Juni 2026.](https://wideazone.com/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260619-WA0015-360x200.jpg)
