Kebijakan Sempit, Widodo Kecewa Prestasi Sekolah di Sumsel

- Jurnalis

Kamis, 24 Oktober 2019 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski Sumatera Selatan memiliki banyak SMA Negeri berkelas Chryler, namun Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan (Disdiknas Sumsel), Widodo kecewa visi misinya sekelas angkutan kota (angkot)

Meski Sumatera Selatan memiliki banyak SMA Negeri berkelas Chryler, namun Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan (Disdiknas Sumsel), Widodo kecewa visi misinya sekelas angkutan kota (angkot)

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG — Meski Sumatera Selatan memiliki banyak SMA Negeri berkelas Chryler, namun Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan (Disdiknas Sumsel), Widodo kecewa visi misinya sekelas angkutan kota (angkot).

“Harusnya mereka arahkan agar lulusan dari sekolah berkelas Chrysler itu melanjutkan pendidikan tingginya ke Jerman, Amerika atau ke Australia,” ujar Widodo ke pada Wideazone.com, Jumat (25/10/2019).

Menurut dia, banyak orangtua siswa lulusan dari sekolah-sekolah berkelas itu yang mampu melanjutkan pendidikan anaknya ke luar negeri. Namun karena visinya tidak ditumbuhkan dari sejak awal, maka pilihan anak-anak pintar dari keluarga mampu itu hanya sebatas Unsri, UGM, ITB Bandung.

“Saya tidak mengatakan Unsri, UGM, ITB atau perguruan tinggi lainnya tidak bagus. Tapi alangkah bagusnya jika mereka kuliah di luar negeri. Dari sisi biaya, mereka mampu,” tegas Widodo, kecewa.

Terkait Unsri dan perguruan tinggi negeri lainnya, kata Widodo, berikan ke pada anak-anak cerdas dari kalangan warga kebanyakan.

Baca Juga:  Gelombang Amarah Mahasiswa Guncang UPGRIP, Desak Sikap Tegas Rektor Soal Dugaan Pelecehan Seksual, hingga Ketetapan BPH

Kuliah di Jerman, katanya, tidak mahal. Perbulan biaya yang harus dikeluarkan hanya sebesar Rp 6 juta. Biaya itu dikalkulasi dengan biaya makan minum selama masa kuliah di sana.

Jika dibanding dengan kuliah di sini, kata Widodo, anak-anak itu menjadi tidak mandiri. “Nah, jika mereka kuliah di Jerman, setidaknya mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak mandiri dan tidak ketergantungan dengan orangtua,” katanya.

Widodo meminta agar pengelola SMA dan SMK negeri harus mampu mengembangkan visi misinya untuk tujuan profesionalisme pendidikan.

Pendidikan di Jerman, katanya, merupakan pendidikan terbaik di dunia. Contoh terbaik bagi satu anak bangsa yang berhasil di Jerman adalah Pak BJ Habibie.

“Apakah kita tidak ingin anak-anak kita nanti bisa seberhasil Pak Habibie di dalam karirnya?” ujar Widodo.

Apabila tidak ke Jerman, katanya, anak-anak dari kalangan mampu bisa kuliah di Australia, Turki atau paling tidak di Singapura.

Baca Juga:  Konkerprov PGRI Sumsel I/2026 Soroti Dinamika Organisasi hingga Perlindungan Guru ‎

“Kalau di Jerman biayanya Rp 6 juta, tapi apabila kuuliah di Turki biayanya hanya Ro 4 juta,” ujarnya.

Widodo tidak mengajarkan anak-anak bangsa ini kuliah di luar negeri minded. Tapi dengan belajar di sana, tentu akan memicu para siswa memiliki karakter mandiri dan berinisiatif yang patut menjadi kebanggan.

Menurut Widodo, ia tidak mengajarkan ke anak-anak menjadi keluarnegerian minded. Setidaknya jika kuliah di luar negeri wawasan anak-anak bangsa tidak sempit.

Karena itu Widodo meminta ke pengelola sekolah negeri (SMA dan SMK) tidak sempit berpikir untuk membuka ruang ke pada sisiwanya yang ingin kuliah di luar negeri.

Di SMA Negeri Sumsel, saat ini ada program kuliah ke Universitas Cambridge Amerika. Jika ada keinginan untuk melanjutkan kuliah anaknya ke Cambridge, Widodo menyilakan untuk mendaftar ke sana.

“Kalau ada anak-anak pandai dan cerdas yang orangtuanya tidak mampu, itu urusan saya,” tukas Widodo. (anto narasoma)

Berita Terkait

Sekolah Rasa “Double Track” SMA Negeri 12 Palembang Bekali Siswa Skill hingga Wirausaha
Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen PGRI Resmi Bergeser ke Meja Penuntut
Bareskrim Tetapkan Teguh Sumarno dan Mansyur Arsyad sebagai Tersangka, Zulinto: Berpotensi Merembet ke Sumsel
Sengketa Pengelolaan Universitas PGRI Palembang Masuk Meja Hijau, YPLP PT-PGRI Sumsel Digugat‎
Kabar Gembira: Pemkot Palembang Buka Seleksi Beasiswa Jenjang Doktor bagi PNS, Pendaftaran Ditutup 14 Juli ‎
DPRD Sumsel Jamin 320 Siswa SMA 11 dan SMA 20 Aman di Dapodik
Warning Keras LKBH PB PGRI! Guru Jangan Terjebak Kepengurusan Ilegal
Gelombang Amarah Mahasiswa Guncang UPGRIP, Desak Sikap Tegas Rektor Soal Dugaan Pelecehan Seksual, hingga Ketetapan BPH

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 14:05 WIB

Sekolah Rasa “Double Track” SMA Negeri 12 Palembang Bekali Siswa Skill hingga Wirausaha

Kamis, 23 Juli 2026 - 19:06 WIB

Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen PGRI Resmi Bergeser ke Meja Penuntut

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:21 WIB

Bareskrim Tetapkan Teguh Sumarno dan Mansyur Arsyad sebagai Tersangka, Zulinto: Berpotensi Merembet ke Sumsel

Kamis, 16 Juli 2026 - 21:00 WIB

Sengketa Pengelolaan Universitas PGRI Palembang Masuk Meja Hijau, YPLP PT-PGRI Sumsel Digugat‎

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:22 WIB

Kabar Gembira: Pemkot Palembang Buka Seleksi Beasiswa Jenjang Doktor bagi PNS, Pendaftaran Ditutup 14 Juli ‎

Berita Terbaru