Guru sebagai Learning Agent

- Jurnalis

Selasa, 21 Januari 2020 - 00:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Bidang PTK Disdiknas Sumsel, Emzen SPd MM

Kepala Bidang PTK Disdiknas Sumsel, Emzen SPd MM

WIDEAZONE.COM, PALEMBANG  — Guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) yang harus menjadi fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Peran kepala sekolah, kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan Drs H Riza Fahlevi MM melalui Kepala Bidang PTK Disdiknas Sumsel, Emzen SPd MM, merupakan faktor yang sangat penting. Dari mutu belajar mengajar, jika programnnya tertata baik, maka harapan untuk meningkatkan kualitas sekolah dapat  dicapai.

“Bayangkan saja, dari 3,9 juta guru yang ada saat ini, masih terdapat 25% yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% belum memiliki sertifikat profesi. Di sisi lain, seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus memiliki standar kompetensi yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional,” Emzen di ruang kerjanya, Senin (20/01/2020) .

Lanjut Kabid PTK, Kita masih ingat penerapan sekolah 5 hari yang menimbulkan polemik. Bahkan penerapan kurikulum 2013 yang ‘terpaksa’ dibatalkan akibat guru yang belum paham betul. Banyak guru yang bingung sehingga pembelajaran tidak berjalan optimal. Maka upaya meningkatkan kualitas guru sebagai pelaksana kurikulum di kelas sangatlah penting karena sebaik apa pun kurikulum yang ada, tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa didukung guru berkualitas.

“Persoalan guru memang tidak sederhana. Jangan pula dinyatakan terlalu kompleks. Kualitas guru hanya akan dapat diraih bila kompetensi keguruan bisa dioptimalkan. Kompetensi guru, prinsip dasarnya adalah memetakan faktor-faktor yang menyebabkan tidak kompetennya guru dalam mendidik. Setidaknya dapat diduga ada empat penyebab rendahnya kompetensi guru, yakni pertama, ketidaksesuaian disiplin ilmu dengan bidang ajar (miss-match),” ujarnya.

Ia menambahkan, masih banyak guru di sekolah yang mengajar mata pelajaran yang bukan bidang studi yang dipelajarinya. Hal ini terjadi karena persoalan kurangnya guru pada bidang studi tertentu.

Baca Juga:  Hari Kartini 2026 di SMPN 18 Palembang: Emansipasi Bukan Slogan

Kedua, kualifikasi guru yang belum setara sarjana. Konsekuensinya, standar keilmuan yang dimiliki guru menjadi tidak memadai untuk mengajarkan bidang studi yang menjadi tugasnya. Bahkan, tidak sedikit guru yang sarjana, tetapi tidak berlatar belakang sarjana pendidikan sehingga ‘bermasalah’ dalam aspek pedagogik.

Ketiga, rekrutmen guru yang tidak efektif karena masih banyak calon guru yang direkrut tidak melalui mekanisme yang profesional, tidak mengikuti sistem rekrutmen yang dipersyarakatkan. Kondisi ini makin menjadikan kompetensi guru semakin rendah.

Baca Juga:  Gubernur Herman Deru Motivasi Pelajar Sumsel Raih Cita-cita Tinggi dalam Harmonisasi Ramadhan

Keempat, program peningkatan keprofesian berkelanjutan (PKB) guru yang rendah. Masih banyak guru yang ‘tidak mau’ mengembangkkan diri untuk menambah pengetahuan dan kompetensinya dalam mengajar. Guru tidak mau menulis, tidak membuat publikasi ilmiah, atau tidak inovatif dalam kegiatan belajar. Guru merasa hanya cukup mengajar.

“ Sangat jelas, kualitas pendidikan ada di tangan guru. Kurikulum memang penting tapi tidak urgen bagi kualitas pendidikan. Menteri sehebat apa pun tidak terlalu penting bagi mutu pendidikan. Upaya memajukan generasi bangsa melalui pendidikan, tidak lagi bisa dibangun oleh diskusi tentang teori-teori untuk memajukan pendidikan. Terlalu banyak perdebatan tentang kurikulum yang efektif,” tuturnya.

Namun sayang, kita terlalu sedikit bertindak untuk membenahi kualitas dan kompetensi guru dalam mendidik. Ketahuilah, guru akan sulit menerima perubahan jika kompetensinya rendah.

“Pendidikan akan semakin rumit ke depan bila kualitas guru memang lemah. Maka, kompetensi harus segera ditingkatkan. Itulah titik penting kualitas pendidikan Indonesia saat ini dan ke depannya,” tukasnya. (Abror Vandozer)

Berita Terkait

Bank Sumsel Babel Permudah Akses Kredit Guru Bersertifikasi
SMP Negeri 41 Palembang Terapkan ‘Double Shift’ Ruang Kelas Terbatas
Dari Lari Pagi ke Gerak Budaya, Senam Kriya Resmi Menggema di Sumsel
Hari Kartini 2026 di SMPN 18 Palembang: Emansipasi Bukan Slogan
Tangis Haru Iringi Pelepasan 76 Guru Palembang Menuju Tanah Suci
Seleksi Siswa Baru di Sumsel Makin Kompetitif, TKA Penentu di Jalur Prestasi
Palembang Gandeng University of Colorado Perkuat Implementasi Pendidikan Inklusif
Kemensos Apresiasi Kesiapan Pemkot Palembang, Sekolah Rakyat Segera Dibangun

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 12:24 WIB

Bank Sumsel Babel Permudah Akses Kredit Guru Bersertifikasi

Kamis, 30 April 2026 - 06:50 WIB

SMP Negeri 41 Palembang Terapkan ‘Double Shift’ Ruang Kelas Terbatas

Jumat, 24 April 2026 - 20:07 WIB

Dari Lari Pagi ke Gerak Budaya, Senam Kriya Resmi Menggema di Sumsel

Rabu, 22 April 2026 - 05:56 WIB

Hari Kartini 2026 di SMPN 18 Palembang: Emansipasi Bukan Slogan

Senin, 20 April 2026 - 20:54 WIB

Tangis Haru Iringi Pelepasan 76 Guru Palembang Menuju Tanah Suci

Berita Terbaru